Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ardhienus

Ardhienus

Animo Masyarakat Menabung Saat Pandemi

Selasa, 1 September 2020 | 22:46 WIB
Ardhienus *)

Animo masyarakat menyimpan uang di perbankan saat pandemi Covid-19 masih belum surut. Lihat saja data perbankan yang menunjukkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada semester I-2020 masih tumbuh cukup tinggi secara tahunan (yoy), mencapai 7,95% atau setara Rp 460,97 triliun, yakni dari Rp 5.799,49 triliun menjadi Rp 6.260,46 triliun.

Bila dibanding semester I-2019 yang tumbuh 7,42% (yoy), pertumbuhan DPK pada semester I-2020 sedikit meningkat. Sementara bila dibandingkan secara tahun kalender (ytd), DPK perbankan tumbuh 4,36%. Masih lebih baik ketimbang periode sama tahun lalu yang hanya tumbuh 3,00% (ytd).

Bila dirinci per jenis DPK, peningkatan pertumbuhan terjadi pada giro dan tabungan. Giro tumbuh meningkat dari 7,24% (yoy) menjadi 12,91% (yoy), sedangkan tabungan meningkat dari 6,34% (yoy) menjadi 8,59% (yoy). Sebaliknya, deposito tumbuh melambat, yakni dari 8,30% (yoy) menjadi 4,77% (yoy). Porsi giro dan tabungan yang 56% dari total DPK telah mengangkat pertumbuhan perolehan DPK perbankan.

Dari sisi kepemilikan simpanan, masih tingginya pertumbuhan DPK disumbang oleh simpanan perorangan dan pihak swasta nonlembaga keuangan yang masing-masing naik 8,30% (yoy) dan 7,88% (yoy).

Dengan bobot yang tinggi, yakni perorangan mencapai 53,75% dan swasta nonlembaga keuangan 27,28%, sudah sewajarnya DPK perbankan juga otomatis meningkat. Pertumbuhan DPK yang masih cukup tinggi di tengah pandemic ini tentu patut kita syukuri. Berarti kepercayaan masyarakat Indonesia pada perbankan nasional masih cukup kuat.

Pada sisi industri perbankan, masih tumbuhnya DPK sangat membantu perbankan dalam mengurangi tekanan likuiditas akibat dari program restrukturisasi kredit. Pasalnya, beragam skema restrukturisasi kredit, baik berupa penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu, pengurangan cicilan bunga, ataupun penundaan angsuran pokok dan atau bunga telah menggerus arus kas masuk yang bersumber dari aktivitas penyaluran kredit.

Terlebih, penyaluran kredit perbankan semakin seret saja. Pertumbuhan kredit hanya 1,49% (yoy) pada semester I-2020. Pada sisi sumber dananya, perolehan DPK terus saja naik 7,95% (yoy).

Alhasil, penerimaan pendapatan bunga perbankan tertekan oleh pembayaran bunga kepada nasabah penyimpan yang kian membesar.

Setidaknya ada beberapa faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat tetap memilih perbankan sebagai tempat menyimpan kekayaan mereka di saat pandemi.

Pertama, alternatif investasi pada aset finansial sedikit meredup, terutama di pasar modal. Hal ini tidak lepas dari volatilitas di pasar modal yang masih relatif tinggi. Belum lagi, banyak muncul kasus investasi di masyarakat, sehingga menimbulkan ketakutan atau keengganan masyarakat berinvestasi pada berbagai produk pasar modal atau produk asuransi dan reksa dana berbasis investasi di pasar modal.

Sementara Surat Berharga Negara (SBN) ritel sebagai salah satu alternatif investasi juga masih relatif sedikit diterbitkan pemerintah.

Dari data Kementerian Keuangan, sejak awal tahun ini hingga Juni 2020, SBN ritel yang diterbitkan baru mencapai Rp 14,40 triliun, terdiri atas Sukuk Ritel SR012 sebesar Rp 12,14 triliun dan Saving Bonds Ritel SBR009 sebesar Rp 2,26 triliun.

Kedua, suku bunga deposito relatif masih cukup nyaman diterima masyarakat meski turun. Rata-rata tertimbang suku bunga deposito 1 bulan pada Juni 2020 tercatat 5,64%, menurun 41 bps ketimbang akhir 2019 yang sebesar 6,05%.

Penurunan suku bunga deposito tidak lepas dari kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga kebijakan BI7DRR sebagai respons atas kondisi pandemic Covid-19. Sejak akhir 2019 hingga Juli 2020, suku bunga BI7DRR telah turun 100 bps, dari 5% menjadi 4%.

Ketiga, dunia usaha tampak sedang wait and see, sehingga belum banyak melakukan ekspansi atau kegiatan usaha. Perolehan giro yang tumbuh 12,91% (yoy) ketimbang semester I-2019 yang tumbuh 7,24% (yoy) menguatkan kondisi itu.

Begitu pula dengan peningkatan tabungan milik pihak swasta nonlembaga keuangan yang tumbuh 7,88% (yoy) dan meningkat ketimbang semester I-2019 yang tumbuh 2,42% (yoy).

Respons dunia usaha ini dapat dipahami, seiring dengan permintaan masyarakat yang terus melemah akibat pandemi Covid-19, terlihat dari tingkat inflasi yang terus menurun. Bahkan, per Juli 2020, Indonesia mengalami deflasi 0,10%.

Selain soal permintaan yang melemah, banyak kegiatan usaha menutup atau mengurangi produksi.

Keempat, masyarakat yang bankable cenderung menahan konsumsi. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya masyarakat yang membuka rekening di perbankan. Berdasarkan data LPS posisi Juni 2020, jumlah rekening nasabah penyimpan di perbankan tumbuh 10,01% (yoy), dari 289,08 juta rekening menjadi 318,01 juta rekening.

Meskipun sedikit menurun ketimbang semester I-2019 yang tumbuh 10,95% (yoy). Bahkan, jumlah rekening masyarakat dengan nominal simpanan kurang dari Rp 100 juta meningkat 10,04% (yoy).

Terkontraksinya PDB triwulan II-2020 sebesar 5,32% (yoy) yang dikontribusi oleh terkontraksinya konsumsi rumah tangga 5,51% (yoy) menunjukkan memang masyarakat menahan tingkat konsumsinya.

Terlihat dari penurunan konsumsi, seperti mobil maupun motor, hotel dan restoran, dan penggunaan uang elektronik, kartu debet dan kartu kredit.

Kendati hingga semester I-2020 likuiditas perbankan masih aman seiring penghimpunan DPK yang masih tumbuh, namun ancaman tekanan likuiditas dari restrukturisasi kredit tetap ada. Hal ini tidak lepas dari wabah Covid-19 yang belum berakhir. Apalagi korban positif corona masih terus naik dengan kecenderungan kian membesar setiap harinya.

Di samping itu, ada wacana dari industri perbankan agar otoritas memperpanjang relaksasi ketentuan restrukturisasi kredit hingga selama satu tahun lagi.

Meskipun, Bank Indonesia (BI) telah memitigasi ancaman itu dengan menggelontorkan likuiditas yang cukup besar ke industri perbankan dengan mengeluarkan kebijakan, antara lain berupa penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) yang disimpan di Bank Indonesia baik GWM rupiah maupun valas. Guyuran likuiditas dari kebijakan BI tersebut mencapai Rp 155 triliun.  Selain itu, BI memberikan jasa giro GWM sebesar 1,5%.

*) Asisten Direktur di Departemen Surveilans Sistem Keuangan, Bank Indonesia. Tulisan adalah pendapat pribadi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN