Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Asa Bersepeda di Kota

Nirwono Joga, Sabtu, 30 November 2019 | 08:01 WIB

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai serius membangun kota ramah sepeda. Beberapa jalur sepeda yang sudah tersedia sepanjang 25 km (fase I), 23 km (fase II), dan 15 km (fase III) dengan total panjang 63 km yang dibangun tahun ini. Rencana tahun 2020 akan dibangun jalur sepeda sepanjang 200 km.

Berbekal rencana induk kota ramah sepeda, Pemprov DKI Jakarta dapat mulai membangun jalur/lajur/ rute sepeda secara bertahap (berapa kilometer per tahunnya), di mana saja rencana pengembangannya, serta sistem dan sumber pembiayaannya. Bentuk infrastruktur jalur sepeda bisa dibagi atas tiga klasifikasi.

Pertama, jalur sepeda (bike path) berupa jalur khusus sepeda. Jalur bisa bersama/terpisah dengan pejalan kaki, diperkeras, dan lebar masing-masing 1,5 meter. Lokasinya di sepanjang tepi jalan raya (bagian dari trotoar), bantaran kali, atau rel kereta api. Bentuk ini dapat dijumpai di trotoar Jalan Sudirman-Senayan, bantaran Kanal Banjir Timur, serta kawasan Bintaro Jaya.

Kedua, lajur sepeda (bike lane), berbagi ruas wilayah dengan pergerakan kendaraan lain dan manusia, bertumpangan dengan ruas jalan/trotoar. Jika lebar lebih dari 6 meter, trotoar dapat digunakanuntuk pejalan kaki dan sepeda. Jika tidak, lajur sepeda di tepi kiri badan jalan, dicat khusus selebar 1,5 meter dengan variasi warna hijau, biru, merah, atau oranye. Bentuk ini yang paling banyak dibangun seperti di jalanan Jakarta.

Ketiga, rute sepeda (bike route), merupakan jalur sepeda yang dikembangkan di kawasan perumahan, berupa rambu dan marka sepeda di titik-titik strategis, seperti persimpangan jalan, atau bangunan yang menyediakan parkir sepeda. Bentuk ini sudah dibuat di kawasan perumahan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Jalur/lajur/rute sepeda seyogianya dibangun melewati pos keamanan (kantor/pos polisi) untuk memberi rasa aman bersepeda (terutama di malam hari) dan pusat kesehatan (klinik, puskesmas, rumah sakit) untuk pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan.

Di samping itu dibutuhkan fasilitas pendukung berupa parkir sepeda, tempat penyewaan sepeda, toko aksesori dan bengkel sepeda, serta ruang ganti/ toilet umum (pesepeda) di sekolah, terminal, stasiun, taman, gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan.

Sehubungan dengan hal ini, pengguna jalan juga harus diedukasi agar saling menghormati dan tertib berlalu lintas dengan hierarki pengguna jalan yang jelas dan tegas. Pejalan kaki di trotoar (dijamin bebas PKL) selalu diutamakan, diikuti pesepeda di jalur sepeda yang steril, dan selanjutnya kendaraan bermotor.

Kota Jakarta dapat belajar cepat dari pembangunan kota ramah sepeda yang telah lama berkembang di berbagai belahan dunia. Boston Bikes (2007), misalnya, membangun jaringan sepeda sewa yang didukung 2.500 unit sepeda sewa, 290 stasiun dengan total ruang parkir 3.750– 5.000 sepeda.

Kemudian, Chicago Bike (2015), sebuah program peningkatan perjalanan pesepeda 5% untuk jarak kurang dari 5 mil, dan berhasil mengurangi angka kecelakaan pesepeda sebesar 50%, dengan menambah 120 mil lajur sepeda, 35 mil jalur sepeda, 11 ribu rak sepeda, stasiun sepeda komuter dilengkapi fasilitas 300 parkir sepeda, ruang mandi dan ganti, loker, bengkel sepeda, serta skema bike-and-ride dengan bus trans.

Kota Denver mereformasi sistem transportasi dari program T-Rex (Transport Expansion Program) ke jalur cepat (fastrack) dengan konsep mobilitas terpadu (mass rapid transit/MRT, bus rapid transit/BRT, light rapid transit/LRT), jaringan pejalan kaki dan pesepeda. Detroit Non-motorized Transportation Master Plan (2008) juga merancang jaringan jalur pejalan kaki dan pesepeda, termasuk menambah 400 mil jalur sepeda baru.

DC Capital Bikeshare (2010) menjalankan program sepeda sewa terbesar di AS yang menyediakan 1.100 unit sepeda di 110 stasiun yang dilengkapi panel surya, dengan harga terjangkau, serta gratis bagi anggota untuk 30 menit pertama. Montreal BIXI (Bicycle+Taxi, 2009), menawarkan perpaduan jaringan sepeda sewa dan taksi yang didukung 5 ribu unit sepeda dan 400 stasiun sepeda sewa. Dari 3,3 juta perjalanan, hanya 1% sepeda yang dilaporkan hilang atau dicuri.

Kini program Bixi telah dikembangkan ke Toronto, Vancouver, Minneapolis, Washington, D.C., London. St. Louis Great Rivers Greenway (2011) membuat membuat rute sepeda sepanjang 50 mil, stasiun sepeda komuter yang dilengkapi parkir sepeda 100 dan 70 loker. Amsterdam dan Kopenhagen juga merupakan contoh kota ramah sepeda yang sangat lengkap sarana dan prasarana, perangkat hukum, dan perlindungan bagi pesepeda.

Di Brussels, pemerintah kota memberikan subsidi bagi penyediaan sepeda sewa (bike sharing) di pusat kota, stasiun atau halte.

Di Dublin juga dikembangkan skema bike to work (B2W), di mana menerapkan peraturan untuk menyisihkan seribu euro dari pendapatan warganya bebas pajak sebagai investasi dari kegiatan bersepeda ke tempat kerja, serta membantu pekerja membeli sepeda bebas pajak.

London Air Quality Strategy (2009) telah membangun 400 stasiun parkir sepeda yang menyediakan 6 ribu unit sepeda. Pemerintah mengampanyekan gaya hidup sehat bertransportasi dengan mengajak warga berjalan kaki dan bersepeda sebagai pilihan alami untuk menjangkau jarak-jarak dekat.

Kota Stockholm menata ruang yang kompak (permukiman dan tempat kerja), terintegrasi dengan jaringan pejalan kaki dan pesepeda yang nyaman. Hasilnya, 68% warga memilih berjalan kaki atau bersepeda dan hanya 7% pengguna kendaraan pribadi.

Kota Atlanta, Rio de Janeiro, dan Singapura memadukan pembanguan jalur sepeda dengan pembangunan jalur hijau (urban park connector). Jalur hijau sekaligus jalur sepeda dibangun menyusuri taman kota, sempadan sungai, bantaran rel kereta api, kolong jalan layang, bawah saluran udara tegangan tinggi, tepian situ/danau/embung/ waduk, hingga tepi pantai.

Simpulannya, dengan bersepeda, warga mendapat banyak keuntungan, seperti berolahraga, badan lebih sehat, biaya transportasi murah, berpartisipasi mengurangi kemacetan lalu lintas, turut menghemat energi, dan ikut menghentikan pencemaran udara, sambil berekreasi menikmati kota. Jadi, mewujudkan kota ramah sepeda merupakan keharusan, bukan pilihan.

Nirwono Joga, Koordinator Pusat Studi Perkotaan

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA