Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta

Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta

Asuransi sebagai Gaya Hidup

Selasa, 7 Juli 2020 | 23:20 WIB
Said Kelana Asnawi* ,)

Asuransi adalah salah satu tool dalam manejemen risiko, untuk lindung nilai (hedging). Hedging adalah memastikan suatu ketidakpastian hingga level tertentu/yang diinginkan. Dengan adanya asuransi, maka pihak yang berkepentingan setidak nya sudah mendapatkan ketenangan (sampai pada level tertentu).

Asuransi sering sekali dikonfrontasikan dengan [konteks agama] yang dianggap mendahului takdir Tuhan, memastikan kepastian. Padahal, makna sebenarnya tidaklah demikian, melainkan sekadar berjaga-jaga.

Adalah kekeliruan menafsirkan, jika dengan mengikuti program asuransi, berarti kita mengharap musibah. Sama sekali tidak pernah begitu! Mengikuti asuransi hanya untuk berandai: jika terjadi musibah, setidaknya sudah ada back-up (dalam hal ini finansial) dalam kadar tertentu. Itu saja. Jadi mengikuti asuransi, tidak pernah mengubah niat dalam hidup: tetap zero tolerance terhadap musibah.

Asuransi Sebagai Sarana Berbahagia

Apakah nasabah akan mengalami rugi, seandainya ikut program asuransi, namun tidak pernah memanfaatkannya? Jawabnya, tidak! Mengikuti asuransi tidaklah diniatkan untuk dipakai, atau tidak berubah niatnya untuk mendapat celaka/ musibah. Hanya semacam hedging.

Dari sudut pandang yang ‘lebih arif’ jika tidak pakai, berarti itu menjadi pendapatan bagi perusahaan asuransi. Wajarlah sebagai sebuah bisnis, perusahaan mendapatkan untung (kompensasi dari potensi risikonya).

Bagaimana jika situasinya begini: semua klien mendapatkan musibah (pertanggungan maksimal), maka perusahaan asuransi pasti bangkrut. Perusahaan asuransi mengelola risiko; dengan hitungan, sebagian kecil terkena musibah, dan premi yang diterima dapat memenuhi biaya tersebut, lalu ada sisa untuk keuntungan bisnis.

Situasi dalam bisnis asuransi lebih sebagai peluang. Jika nasabah tahu tidak akan ada masalah atau hal buruk lainnya di masa depan, sudah pasti tidak akan ikut program asuransi.

Sebaliknya jika semua klien akan terkena musibah, maka tak akan ada perusahaan asuransi yang bersedia, karena sudah pasti rugi. Jadi di sini berbicara peluang/ potensi kerugian, lalu dengan asuransi berusaha mengurangi dampak buruk dari hal ini. Inilah sebagai upaya manusia untuk hidup nyaman.

Menurut teori ekonomi, asuransi itu termasuk motif memegang uang untuk berjaga-jaga (precautionary motive). Jika kita tak mau ikut program asuransi (sayang jika ter nyata tidak pernah memakai asuransi), hal ini tidak masalah. Tetapi kita tetap harus memegang uang untuk berjaga-jaga, dengan cara menyimpan sendiri. Jika tidak terjadi musibah, bersyukur, namun jika ada hal yang tidak diinginkan, setidaknya telah ada persiapan.

Jika kita bukan orang yang disiplin untuk berjaga-jaga, sementara tersedia dana, maka sebaiknya ikutlah asuransi.

Untuk kenyamanan saja! Jika kehidupan kita hanyalah ‘pas-pasan’ maka tetap wajib mengikuti asuransi. Caranya? Berperilaku/gaya hiduplah yang baik: menjaga kesehatan, tertib aturan, dll, sehingga menghindarkan kita dari bencana/ masalah. Inti dari kehidupan yang berbahagia sebenarnya adalah hal ini!

Asuransi dari Sudut Pandang Perusahaan

Sewaktu Kobe Bryan mengalami kecelakaan tragis; ada banyak agen asuransi di medsos, menggunakan situasi buruk ini sebagai ‘iklan’ pentingnya asuransi [musibah bisa datang kapan saja, sehingga perlu antisipasi dengan asuransi]. Hemat saya, agen ini tidak mengenal etika secara baik, atau kurang ‘ngeh’ dengan bisnis asuransi itu sendiri.

Seandainya Kobe Bryan tahu akan kecelakaan, maka dia mau berasuransi, namun perusahaan asuransi tidak bersedia menerima polisnya. Kalau semua orang sakit/bakal celaka; tidak ada perusahaan asuransi yang mau menerimanya. Perusahaan asuransi mencari calon klien yang sehat; supaya tidak terjadi adverse selection; yakni berkumpulnya orang/klien bermasalah besar.

Kedua, sudah seharusnya musibah tidak dijadikan ‘entry point’ secara vulgar untuk sebuah bisnis; karena berbagai pihak pun paham, bahwa musibah adalah hal yang tidak diinginkan (dihindari).

Jadi kasus Kobe Bryan justru mesti dikemas ke arah sisi positif, misal: (i) perlunya berdoa sebe lum melakukan pekerjaan; (ii) kerjakan sesuatu dengan tenang/tidak tergesa-gesa; (iii) periksa sekali lagi alat-alat keselamatan, dll apakah telah dipersiapkan dengan sempurna.

Perusahaan asuransi harus melakukan tentang ‘ke arah positif’, karena (secara bisnis meningkatkan keuntungan) dan image positif juga (dari sisi nasabah). Harus terus diingat, upaya-kampanye ‘keselamatan’ menjadi prioritas utama.

Jaga kesehatan, rajin olahraga, check kendaraan Anda, akan membuat hari-hari Anda menjadi berbahagia; dapat menjadi tagline yang terus dikuatkan. Jangan lupa, jika pemegang polis berbahagia semua, tak ada yang klaim, perusahaan asuransi dapatlah memberi ‘say hello’ kepada pemegang polis atau masyarakat secara luas. Apakah perusahaan asuransi bisa bangkrut?

Tentu, as business as usual! Perusahaan menerima pen dapatan dari premi nasabah (di potong buat agen asuransi), lalu uang tersebut diinvestasikan. Jadi perusahaan asuransi memiliki dua sumber, yakni premi nasabah dan keuntungan (atau kerugian) investasi; dan dua biaya utama yakni membayar klaim dan biaya operasional.

Kecocokan yang diharapkan adalah premi nasabah-klaim dan keuntungan investasi-biaya operasional. Jika situasi ideal ini tidak terjadi, maka setidaknya, semua pendapatan dapat menutupi semua biaya. Dalam hal investasi, perusahaan asuransi meletakkan sebagian besar pada financial assets. Pembaca yang telah bertransaksi di financial assets tahu persis suka dukanya seperti rasa kopi Lampung: pahit-pahit-getir.

Karena itu, jika ada perusahaan asuransi yang colaps, kemungkinan dua penyebabnya: pertama, tagihan klaim dari nasabah sangat tinggi, hal ini menunjukkan tingkat underwriting rate perusahaan itu kurang akurat; kedua kerugian dari investasi. Sebab pertama, biasanya akan ada rate yang baru (naik), di mana secara umum masyarakat cenderung menolak. Sebab kedua adalah bukan faktor asuransi, di mana hal ini lebih pada prinsip investasi secara luas.

Mengapa orang sulit mengikuti program asuransi? Pertama, hal ini berkenaan dengan: kami memberi janji. Perusahaan asuransi harus zero tolerance terhadap ingkar janji, juga kesan menyulitkan klaim. Sekali terjadi, berita buruk ini disebar dan tersebar. Beruntungnya perusahaan asuransi bonafit, biasanya sangat menghindari hal ini.

Kedua, peluang terkena ‘musibah’ memang rendah, namun dampak musibah itulah yang besar. Karena peluang kecil, maka orang berhitung dengan cermat dan berkesimpulan tidak berpeluang, sehingga abai terhadap potensi dampak buruk (secara ekonomi) yang besar, di mana hal ini dapat ‘diturunkan’ dengan asuransi.

Secara khusus berkenaan dengan program pemerintah yakni BPJS Kesehatan; maka masyarakat yang baik, harus patuh pada program tersebut. Anda tidak pernah pakai BPJS? Bagus, itu harus disyukuri. Anda merasa rugi? Keliru! Inginkah Anda sakit (agar dapat memakai)? Rugikah karena telah mebayar iuran? Tidak, iuran Anda dipakai yang memerlukannya.

Sesungguhnya manfaat BPJS bisa melewati ruang dan waktu! Hal yang harus dimarahi dari BPJS adalah: kalau ada pihak yang memanipulasinya! Mengingat pentingnya asuransi, maka ke depan tampaknya asuransi menjadi industri yang akan bertumbuh, selama pihak bisnis asuransi dapat mengelolanya dengan baik.

Untuk masyarakat sudah saatnya memahami asuransi sebagai ‘nilai tambah’ untuk kehidupan. Jargon “mari berasuransi” hendaknya dipelihara oleh pebisnis asuransi. Untuk masyarakat luas, mungkin sudah tiba menyatakan: asuransi sebagai gaya hidup. Semoga rakyat Indonesia tetap dan selalu sejahtera.

*) Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN