Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Andreas Hassim, Praktisi dan pengamat perbankan

Andreas Hassim, Praktisi dan pengamat perbankan

Bank Masa Depan

Andreas Hassim, Kamis, 26 September 2019 | 11:18 WIB

Stella, seorang wanita karier memulai aktivitas paginya dengan membuka agenda harian pada telepon pintarnya. Notifikasi muncul di telepon pintarnya untuk mengingatkan jika pagi ini ia akan bertemu seorang klien di sebuah restoran cepat saji. Telepon pintarnya menginformasikan jarak tempuh dari rumahnya, alternative moda transportasi yang dapat digunakan, reservasi restoran, dan sekaligus menawarkan solusi kemudahan pemesanan sampai dengan pembayaran.

Telepon pintarnya kembali mengingatkan bahwa hari ini adalah ulang tahun sahabatnya yang bernama Nadia. Berdasarkan data dan informasi yang diolah dari media sosial, maka aplikasi pada telepon pintarnya merekomendasikan beberapa barang yang sesuai dan tepat untuk hadiah ulang tahun Nadia. Aplikasi tadi pun menawarkan sistem pembayaran hingga pengantaran barang tepat pada waktunya.

Narasi di atas merupakan sekelumit aktivitas harian setiap individu yang tak bisa dilepaskan oleh teknologi digital dan transaksi. Teknologi telah mengubah perilaku manusia termasuk di dalamnya dalam memanfaatkan layanan keuangan yang juga tak bisa dilepaskan dari aktivitas keseharian.

Seperti halnya, contoh peristiwa di atas, Stella melakukan aktivitasnya dengan bantuan teknologi yang berujung pada transaksi keuangan yang dapat melibatkan peran bank. Kehadiran perusahaan-perusahaan raksasa teknologi seperti Apple, Google, Amazon, Facebook, Samsung, Alibaba, dll. telah mendisrupsi banyak hal yang mempengaruhi perilaku konsumen.

Lebih dari itu, hadirnya startup (perusahaan rintisan) berbasis teknologi finansial (fintech) memberi warna semakin ketatnya persaingan dalam layanan keuangan.

Oleh karena itu, transformasi menyeluruh perlu dilakukan untuk menjawab tantangan dan peluang yang terjadi dalam bisnis bank ke depannya.

Sejatinya, bank-bank sudah memulai transformasi digital, namun yang dibutuhkan bukan hanya ter fokus memindahkan proses manual ke dalam digital. Lebih dari itu, transformasi digital yang menyeluruh (holistic) membutuhkan rekayasa proses bisnis yang baru (business process reengineering).

Setidaknya penulis menemukan tiga hal penting dari fenomena perubahan perilaku konsumen. Pertama, nasabah sudah mengurangi frekuensi kunjungan ke bank. Hal ini, perlu disikapi dengan memberikan kemudahan akses layanan melalui aplikasi pada telepon pintar maupun pusat panggilan (call center). Namun demikian, terkadang bank terjebak dengan hanya mempercantik fisik kantor dengan perlengkapan digital yang harapannya mengundang nasabah datang.

Langkah ini bukanlah tabu untuk dilakukan, tetapi harus memperhatikan di mana sebenarnya kerumunan konsumen berada sehingga kehadirannya bukan hanya untuk bertransaksi ke bank namun dapat melakukan aktivitas seharihari lainnya. Bank yang dapat merespons dengan strategi yang tepat justru akan dapat menekan biaya overhead dan mengurangi banyak biaya lainnya.

Sebaliknya, jika terjebak dalam situasi ini, bank akan salah melakukan investasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan konsumen.

Kedua, nasabah tanpa sadar memanfaatkan produk yang terintegrasi dengan ekosistem. Tak dapat dimungkiri, saat ini konsumen berkerumun pada aplikasi e-dagang (e-commerce) sehingga kehadiran bank sebagai lembaga pembayaran sangat diharapkan oleh ekosistem e-dagang ini. Kolaborasi yang baik justru akan menghasilkan hubungan yang saling menguntungkan.

Di samping itu, kolaborasi ini dapat membantu bank dalam menelusuri pengalaman pengguna (user experience) sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan penyesuaian produk yang ditawarkan. Sebaliknya, jika bank hanya menawarkan produk-produk generiknya seperti giro, tabungan, deposito maupun pinjaman atau bahkan menciptakan produk yang menandingi e-dagang, justru dapat menjadi bumerang.

Layanan keuangan yang terintegrasi dengan ekosistem dapat membantu penetrasi bank dalam mencetak pendapatan maupun meraih nasabah-nasabah baru. Namun demikian, dimungkinkan pula layanan keuangan dilakukan nasabah secara tanpa sadar (seamless) sehingga nasabah tidak mengetahui merek (brand) produk keuangan yang baru saja digunakan. Kesalahan strategi pemasaran dapat membuat bank-bank berdarahdarah menghadapi pelaku industri e-dagang yang memang memiliki strategi pemasaran yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan terdahulu (incumbent).

Ketiga, pengelolaan data. “Data is the new oil” yang artinya data adalah minyak yang baru. Kalimat ini pertama kali dipopulerkan oleh matematikiawan bernama Clive Humby pada tahun 2006 dan dipertegas oleh majalah The Economist dalam laporannya di tahun 2017 berjudul “The world’s most valuable resource is no longer oil, but data”.

Hal ini menegaskan bahwa data akan menjadi sumber daya yang memiliki kekuatan dalam melakukan eksekusi strategi bisnis. Database yang dimiliki oleh pelaku industri perbankan tentunya sudah sangat berlimpah mengingat industri ini sudah berkembang lama. Namun demikian, data tersebut harus memiliki arsitektur yang tepat sehingga dapat menjadi alat bantu dalam melakukan pengambilan keputusan.

Selain itu, kombinasi data dengan pelaku industry teknologi dan media sosial pun sangat dibutuhkan, karena mereka lebih mengetahui aktivitas sosial para konsumen.

Berangkat dari fenomena keseharian konsumen di era digital, memberikan peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi perbankan. Selain itu, pertumbuhan bisnis juga melambat, di mana laju pertumbuhan kredit sampai Juni 2019 hanya sebesar 9,94% (year on year/yoy) dan pertumbuhan dana sebesar 7,42% (yoy). Lebih dari itu, sempitnya ruang tumbuh dengan rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) sudah mencapai 94,98%, memaksa bank untuk lebih kreatif sehingga mampu tumbuh lebih baik lagi.

Transformasi digital dapat menjadi sarana perbankan untuk memacu pertumbuhan bisnis sekaligus bertahan di tengah gelombang disrupsi digital. Bank yang siap dengan layanan digital akan menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang baru dan sebaliknya bank yang tidak siap akan tergilas oleh zaman.

Andreas Hassim, Praktisi dan pengamat perbankan

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA