Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendahara Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Bendahara Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Bank Syariah Indonesia, Motor Ekosistem Keuangan Syariah

Selasa, 23 Februari 2021 | 12:00 WIB
Hery Gunardi *)

Tanggal 1 Februari 2021 menjadi momentum, sebuah hari yang bersejarah bagi perkembangan ekonomi syariah Indonesia. PT Bank Syariah Indonesia Tbk resmi hadir dan efektif beroperasi setelah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Artinya, lebih dari 20.000 karyawan hasil penggabungan tiga bank syariah yang tersebar di lebih dari 1.200 kantor cabang, sudah siap untuk menggerakkan sebuah perusahaan layanan intermediasi beraset lebih dari Rp 240 triliun, demi mengakselerasi pengembangan ekonomi syariah nasional. Selain itu, ada 1.785 mesin anjungan tunai mandiri (ATM) dan belum termasuk infrastruktur digital yang sedang dan terus dikembangkan.

Presiden Joko Widodo dalam pidato peresmian Bank Syariah Indonesia di Istana Negara pada 1 Februari 2021, menyambut baik lahirnya Bank Syariah Indonesia sebagai bagian dari upaya pengembangan ekonomi syariah Indonesia. “Saya menaruh harapan besar agar Bank Syariah Indonesia memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ekonomi syariah yang menyejahterakan umat dan menyejahterakan rakyat Indonesia. Untuk itu, saya menyampaikan beberapa pesan. Yang pertama, Bank Syariah Indonesia harus benar-benar menjadi bank syariah yang universal, artinya harus terbuka, harus inklusif, harus menyambut baik siapa pun yang ingin menjadi nasabah, agar menjangkau lebih banyak masyarakat di Tanah Air.”

Setidaknya ada empat pesan yang disampaikan Presiden Jokowi kepada Bank Syariah Indonesia. Selain harus benar-benar menjadi bank syariah yang universal, Presiden Jokowi berpesan agar Bank Syariah Indonesia harus bisa memaksimalkan penggunaan teknologi digital, harus menarik minat generasi muda milenial untuk menjadi nasabah, lalu produk dan layanan keuangan syariah dari Bank Syariah Indonesia harus kompetitif memenuhi kebutuhan berbagai segmen konsumen. Mulai dari UMKM, korporasi sampai ritel dan mampu memfasilitasi nasabah agar cepat naik kelas dan menjadi tulang punggung ekonomi negara. “Sebagai barometer perbankan syariah di Indonesia serta Insya Allah nantinya regional dan dunia, saya mengharapkan Bank Syariah Indonesia harus jeli dan gesit menangkap peluang,” pesan Presiden Jokowi.

Bank Syariah Indonesia (BSI) lahir dengan mengemban banyak aspirasi. Negara ingin BSI menjadi kebanggaan Indonesia di dunia. Pemegang saham menginginkan BSI menjadi bank besar dengan performa terbaik di Indonesia. Nasabah mengharapkan kehadiran inovator yang menciptakan produk dan solusi baru yang lebih inovatif, termasuk membuka akses ke Indonesia. Umat berharap kehadiran bank dengan diferensiasi tersendiri, melebihi perbankan regular yang melayani finansial, sekaligus membawa kemanfaatan yang lebih luas kepada masyarakat dan lingkungan. Bagi karyawan, BSI diharapkan menjadi tempat kerja yang terbaik, mengembangkan pegawai dengan nilai-nilai yang kuat dan dampak yang besar.

Banyak pihak menanti bank syariah terbesar di Indonesia ini. Proses yang panjang, melelahkan, namun menggembirakan selama 11 bulan terakhir terjawab sudah. Bank Syariah Indonesia lahir dan sudah bisa bergerak untuk memberikan layanan terbaiknya.

Indonesia memiliki populasi muslim terbesar di dunia dengan preferensi syariah yang kuat. Ada lebih dari 229 juta umat muslim di Indonesia atau 87,2% dari jumlah penduduk. Mereka mewakili 12,7% populasi muslim dunia, dan menjadikan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar hingga kini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 45% di antaranya memiliki preferensi syariah yang cukup kuat. Artinya, orang-orang tersebut akan mempertimbangkan aspek-aspek spiritual kehalalan dalam pengambilan keputusan. Ini potensi yang sangat besar bagi perkembangan ekonomi syariah, khususnya di sektor keuangan dan lebih khusus lagi di industri perbankan syariah.

 

Tumbuh di Tengah Krisis

Kendati sektor keuangan dan perbankan syariah bertumbuh dengan baik, size-nya relatif masih sangat kecil. Tiga indikator kinerja utama perbankan yaitu jumlah aset, pembiayaan dan dana pihak ketiga perbankan syariah nasional membukukan rata-rata pertumbuhan dua digit dalam empat tahun terakhir. Bahkan, ketika pandemi Covid-19 dan turut menghantam perekonomian nasional, aset dan dana pihak ketiga perbankan syariah nasional tetap mampu tumbuh dua digit. Sampai Desember 2020, aset perbankan syariah mampu tumbuh 14,96% (yoy) dan dana pihak ketiga tumbuh 11,56% (yoy). Hanya penyaluran pembiayaan yang tumbuh satu digit, yakni 9,5% (yoy).

Jika dibandingkan dengan kinerja perbankan secara nasional, pencapaian perbankan syariah relatif lebih baik. Hanya dana pihak ketiga perbankan nasional yang mampu tumbuh dua digit, yakni 11,11% (yoy) per Desember 2020. Untuk aset, perbankan konvensional tumbuh 7,7% (yoy), sedangkan penyaluran kredit perbankan nasional terkontraksi -2,41% (yoy).

Dari angka-angka tersebut sesungguhnya dapat dilihat bagaimana size perbankan syariah secara nasional. Masih sangat terbatas. Pertumbuhan yang tinggi di sektor perbankan syariah belum mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan nasional secara umum.

Selain soal size, perbankan syariah dari sisi profitabilitas, kualitas, efisiensi biaya dan performance keuangan pun belum sebaik bank konvensional. Apakah ini pertanda negatif? Tentu saja bukan. Ini artinya masih sangat besar ruang yang dapat dikembangkan sektor perbankan syariah untuk dapat memberikan kontribusi signifikan bagi sektor keuangan dan sektor ekonomi di Tanah Air.

Market share perbankan syariah di dalam negeri memang kian berkembang. Namun gerakannya pelan. Dari 5,78% pada Desember 2017, kemudian 5,96% pada Desember 2018, lalu 6,17% per Desember 2019 dan data terakhir pada Oktober 2020 sebesar 6,34%.

Hal tersebut karena lemahnya daya saing, jaringan yang terbatas serta literasi & inklusi keuangan syariah yang masih rendah. Sebagai gambaran, perbandingan jumlah layanan perbankan syariah dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 1:114.339. Sementara itu, perbankan konvensional 1:9.477. Untuk literasi, perbankan konvensional sudah mencapai 29,66% ketika perbankan syariah hanya 8,11%. Dari sisi inklusi, kesenjangannya lebih tinggi lagi. Inklusi perbankan konvensional telah mencapai 67,82%, sedangkan inklusi perbankan syariah 11,06%.

Jika disimpulkan, penetrasi perbankan syariah saat ini belum maksimal karena industri ini tak memiliki diferensiasi model bisnis atau produk yang signifikan, kuantitas dan kualitas SDM kurang optimal, serta sistem teknologi informasi (IT) belum memadai.

Pemerintah memiliki harapan dan aspirasi untuk memperkuat industri keuangan syariah. Presiden Jokowi menilai keuangan syariah sebagai raksasa ‘tidur’. Oleh karena itu, salah satu perhatian pemerintah adalah membangkitkan raksasa ini dengan membangun satu bank syariah terbesar di Indonesia.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin berpendapat, Indonesia bisa menjadi pemain keuangan syariah yang diperhitungkan baik di tingkat lokal maupun global. Dengan memperkuat kelembagaan industri keuangan syariah, pemerintah dapat meningkatkan partisipasi Indonesia dalam perekonomian syariah global.

 

Ekosistem Keuangan Syariah

Untuk mewujudkannya, Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan bahwa Indonesia harus mempunyai entitas bank syariah yang masuk ke dalam jajaran 10 besar bank syariah terbesar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. Harus ada New Identity in Islamic Banking, yang memiliki keunikan model bisnis atau produk, mengoptimalkan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, mengintegrasikan fungsi keuangan komersial dan sosial, SDM berkualitas, dan TI yang mutakhir.

Sebagai bank hasil penggabungan, per Desember 2020, Bank Syariah Indonesia memiliki total aset sebesar Rp 240 triliun; total pembiayaan sebesar Rp 157 triliun; total dana pihak ketiga mencapai Rp 210 triliun; serta total modal inti sebesar Rp 22,60 triliun.

Penggabungan ini diharapkan dapat menjawab tantangan yang dihadapi industri perbankan syariah. Caranya dengan memperkuat daya saing perbankan syariah di industri, memperluas akses melalui solusi digital dan jaringan, serta penyediaan produk yang lebih variatif bagi nasabah. Ada lima kekuatan yang dapat dioptimalkan, yakni kapabilitas SDM, jaringan, produk, IT sistem, dan permodalan.

Kapabilitas SDM harus ditingkatkan agar Bank Syariah Indonesia mampu menangkap peluang pasar dan berkembang menjadi raksasa yang diharapkan. Langkah yang ditempuh dengan melakukan standardisasi SDM bank syariah agar menjadi setara dan lebih unggul. Jaringan yang sudah besar dan tersebar akan dioptimalkan untuk memperluas akses nasabah. Layanan juga akan ditingkatkan sehingga menjadi lebih baik.

Produk yang ditawarkan menjadi lebih variatif dengan kombinasi kapabilitas ketiga bank yang menjadi cikal bakal merger, yaitu UMKM, ritel dan consumer serta wholesale. Bank Syariah Indonesia juga akan mengembangkan bisnis global seperti global sukuk, dan menjalankan bisnis serta layanan sesuai prinsip Maqashid Syariah. Peran bank untuk membentuk pemerataan ekonomi masyarakat dilakukan melalui optimalisasi penyerapan dan penyaluran Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf (ZISWAF).

Perangkat sistem IT juga ditingkatkan untuk memberikan akses dan layanan yang lebih baik bagi nasabah dengan kapabilitas yang lebih besar melalui digital dan mobile banking. Sementara itu, pengoptimalan sisi permodalan antara lain dengan cara meningkatkan kelonggaran BMPK sehingga peluang BSI untuk masuk ke dalam proyek–proyek strategis terbuka.

Penggabungan tiga bank syariah menjadi satu ini Insya Allah akan membentuk “champion bank syariah” yang tidak hanya dapat bersaing di dalam negeri tetapi juga di level global. BSI menjadi bank ketujuh terbesar secara nasional dan ke-10 terbesar di dunia di sektor perbankan syariah dalam lima tahun ke depan berdasarkan kapitalisasi pasar.

Tujuan spesifik adalah di dalam negeri, Bank Syariah Indonesia menargetkan masuk ke BUKU IV pada 2022 dan menjadi bank berkinerja terbaik di antara bank-bank BUKU IV, serta masuk enam besar dari sisi aset pada 2025. Bank Syariah Indonesia ingin menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Di tingkat global, kami menargetkan menjadi satu dari 10 besar bank syariah dunia dari segi kapitalisasi pasar. Kinerja harga saham BRIS pada saat IPO di tahun 2018 sebesar Rp 510, sedangkan per 4 Februari 2021 pascamerger dan debut di Bursa Efek Indonesia, harga saham BRIS pada pembukaan perdagangan sebesar Rp 2.770. Artinya, harga saham naik sekitar 5,4 kali lipat dibandingkan dengan posisi saat IPO. Market cap BRIS saat IPO sebesar Rp 4,96 triliun, per 4 Februari 2021 naik puluhan kali lipat mencapai lebih dari Rp 114 triliun.

Melihat kinerja saham BRIS yang positif di tengah pandemi, kita berharap BRIS dapat menjadi primadona di bursa serta dapat masuk ke dalam Index IDX BUMN20. Selain itu, kita berharap kinerja ini semakin mendorong dan menginspirasi sektor keuangan dan perusahaan keuangan syariah lain untuk melantai di bursa.

Tidak hanya itu, BSI juga berencana membangun eksistensi di kawasan Timur Tengah, dengan rencana mendirikan kantor di Dubai, Uni Emirat Arab, serta menjadi penjamin emisi penerbitan sukuk global Republik Indonesia dengan nilai US$ 200 juta – 300 juta per tahun.

Bagi umat, BSI ingin memberikan lebih dari pada layanan finansial, bukan sekadar profit tetapi juga kemanfaatan yang lebih luas bagi people dan planet. Ini sejalan dengan prinsip Maqasid Syariah dan SDG’s. BSI memiliki strategi yang lebih solid dan tidak ingin sekadar menjadi jagoan di pasar domestik, tapi juga global. Pelayanan BSI tentunya akan mengutamakan pemberian customer experience syariah yang modern, dilengkapi dengan digital banking khas syariah. Tujuannya untuk menghasilkan kinerja Bank Syariah Indonesia yang adil, seimbang dan maslahat, sehingga memberikan dampak yang lebih luas kepada negara dan masyarakat.

Kehadiran BSI sebagai wajah baru sebagai bank syariah terbesar di Indonesia harus menjadi manfaat bagi masyarakat Indonesia sekaligus menjadi energi baru pengembangan ekonomi syariah. Insya Allah, BSI akan menyelesaikan proses integrasi pada November 2021. Pendekatan proaktif akan dilakukan agar masyarakat dan nasabah tidak terganggu seluruh aktivitasnya selama masa transisi. Dengan persiapan yang matang ini, manajemen pantas berharap BRIS bisa menjadi primadona sehingga dapat semakin mendorong keuangan dan pasar modal syariah, serta menginspirasi perusahaan-perusahaan keuangan syariah lainnya melantai di bursa.

Dengan semangat persatuan dalam hasanah pada merger ini, Bank Syariah Indonesia akan membawa faedah dan menjadi berkah demi kemajuan yang adil serta berkelanjutan untuk Indonesia.

 

 

*) Bendahara Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN