Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
William Siregar, Equity Analyst PT BNI Sekuritas

William Siregar, Equity Analyst PT BNI Sekuritas

Bencana atau Kesempatan Sekali dalam Seumur Hidup?

Jumat, 25 September 2020 | 23:41 WIB
William Siregar *)

Sebagian besar investor (mungkin) belum pernah mengalami ketakutan dan kesuraman seperti yang terjadi saat ini pada bursa saham di hampir seluruh dunia, terutama bagi generasi Y (milenial) dan generasi Z. Bagi mereka, inilah pertama kalinya melihat penurunan bursa saham yang begitu masif

Apa penyebab tekanan pada pergerakan saham di indeks saham gabungan (IHSG) selama 7 bulan terakhir ini? Secara pasti jawabannya adalah ketakutan terhadap potensi ekonomi Indonesia yang diprediksi akan mengalami resesi di masa pandemi global Covid-19 pada tahun 2020.

Pemerintah sudah memprediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar minus 1,1%-0,2%, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksikan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh minus 0,3% di tahun 2020. Apabila data-data ini terealisasi, maka isu bahwa Indonesia akan masuk ke tahap resesi kian semakin nyata. Indonesia tampaknya tak bisa menghindar dan masuk jurang resesi, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III masih negatif di kisaran minus 2,9% hingga minus 1%. Artinya, perekonomian nasional terkontraksi dua kuartal berturut-turut, setelah pada kuartal II terkontraksi 5,32%.

Penurunan IHSG secara massif telah terjadi sejak Maret lalu, ketika pemerintah mengumumkan korban infeksi pertama Covid-19 di Indonesia. Hal ini seketika membuat IHSG porak-poranda, di mana selama bulan Maret 2020 Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan 8 kali trading halt.

Kebijakan trading halt merupakan tindakan pemberhentian sementara (suspend) terhadap indeks apabila penurunan IHSG telah mencapai 5%. Dengan demikian, indeks IHSG telah mengalami penurunan 16,7% secara bulanan (mom) dibanding bulan sebelumnya,dan sempat turun signifikan sebesar 27,8% dari bulan sebelumnya ke level terendah di 3.937, yang terjadi pada tanggal 24 Maret 2020. Ketakutan terhadap Covid-19 sedemikian menakutkannya sehingga membuat bursa saham hancur luluh lantah, tidak hanya di Indonesia, tetapi menyebar ke seluruh bursa global, termasuk Wallstreet.

Yang menarik, berdasarkan data KSEI terungkap bahwa generasi milenial saat ini mendominasi jumlah single investor identification (SID) di Indonesia pada tahun 2019. Komposisi jumlah SID oleh milenial di bawah usia 30 tahun tersebut memiliki komposisi 44,62% terhadap seluruh investor yang ada di Indonesia, dengan total aset mencapai Rp 12,42 triliun. Bahkan untuk usia berkisar 18-25 tahun, peningkatan jumlah investor mencapai pertumbuhan signifikan atau naik 338% sejak tahun 2016.

Hal itu lantas menjadi sorotan bahwa mekanisme transaksi yang terjadi di bursa saat ini secara mayoritas merupakan pergerakan yang hampir sepenuhnya terjadi oleh peran generasi milenial dan generasi Z, yang sebagian besar belum merasakan bagaimana implikasi dari krisis keuangan yang terjadi, sehingga secara psikologis menimbulkan dilematis luar biasa ketika indeks IHSG ter tekan dalam beberapa bulan terakhir ini.

Belum adanya pengalaman dalam menghadapi krisis, seperti yang telah dirasakan generasi X pada tahun 1998 dan 2008 membuat sebagian besar psikologi investor milenial dan investor Z mengalami kondisi traumatis.

Saya cukup yakin, meskipun beberapa generasi milenial cukup awam dalam mengakses informasi terkait bursa saham melalui internet, namun soal psikologi hampir dipastikan mereka akan mengalami kejutan. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran ”pengalaman” mereka yang masih seumur jagung di bursa saham, dan belum merasakan sensasi dari tekanan impresif pada krisis sebelumnya, baik tahun 1998, ataupun pada tahun 2008.

Data menunjukkan bahwa ada banyak keuntungan yang dihasilkan dari keputusan yang dibuat saat penurunan ekonomi dan penurunan bursa saham seperti saat ini, dan beberapa dari mereka telah menghasilkan miliaran hingga triliunan rupiah setelah membeli saat krisis terdahulu. Sayangnya, investor milenial dan investor Z disebut akan berada pada zona ”amatiran” dalam tekanan bursa saham saat ini, sekali lagi karena faktor kurangnya resistensi dalam berinvestasi di masa krisis.

Meskipun demikian, seperti kata pepatah: ”It takes a wise man to learn from his mistakes, but an even wiser man to learn from others”, ada pelajaran penting yang harus diketahui oleh generasi X dan Y dalam mempelajari bagaimana pendahulunya dapat survive dari beberapa tekanan krisis sebelumnya, dan mengambil keuntungan dari sana.

Alan Greespan, mantan Kepala Federal Reserve (The Fed), dalam suatu forum pernah mengatakan: ”Mari kenali bahwa ini adalah peristiwa yang terjadi sekali-kali dalam setengah abad, bahkan mungkin hanya satu abad sekali”, pada saat krisis sebelumnya.

Pernyataan ini tentu masih sangat relevan dengan apa yang terjadi saat ini, di mana kita menghadapi suatu krisis yang mungkin hanya akan terjadi sekali dalam setengah atau satu abad. Mayoritas investor melihat peristiwa besar ini sebagai krisis keuangan parah dan mulai berjaga-jaga untuk masa sulit di kemudian hari, atau mungkin malah memburuk sehingga memilih untuk berjaga jarak dengan bursa saham.

Mungkin ada benarnya, bahwa beberapa pihak memprediksikan krisis ekonomi pada tahun 2020 membutuhkan 1-3 tahun paling lama sampai ekonomi kembali normal. Namun demikian, pilihan untuk menunggu hingga ekonomi pulih untuk mulai berinvestasi lagi merupakan perspektif yang keliru.

Dalam dunia investasi, pelaku pasar menilai bahwa bursa saham selalu mendahului ekonomi, atau dikenal dengan istilah forward looking. Itu kenapa indeks bursa dikategorikan sebagai ”leading indicator” terhadap arah laju ekonomi suatu negara. Hal ini mengimplikasikan bahwa pergerakan bursa saham adalah sebuah pertanda dari apa yang akan terjadi dalam jangka pendek-menengah. Poinnya adalah bursa saham akan mulai turun beberapa bulan sebelum kondisi ekonomi turun, sementara bursa akan bergerak naik beberapa bulan sebelum kondisi ekonomi membaik.

Mari kita berkaca pada krisis ekonomi tahun 2008 lalu, meskipun Indonesia memasuki resesi pada September-Oktober tahun 2008, IHSG telah mulai mengalami penurunan pada 10 bulan sebelumnya, yaitu pada Januari 2008.

Begitu juga di Amerika Serikat, tanda-tanda terjadinya resesi sudah muncul pada Oktober 2008, sedangkan bursa sahamnya telah mengalami tren penurunan dalam 12 bulan sebelumnya. Namun yang menarik, IHSG menghasilkan 76,3% keuntungan pada tahun 2009 dan 43,8% keuntungan pada tahun 2010, yang dilanjutkan dengan perbaikan ekonomi secara bertahap.

Bisa dipastikan, mereka yang memanfaatkan momentum kejatuhan pada tahun 2008 menikmati keuntungan luar biasa yang kejadiannya jarang terjadi. Bahkan kenyataannya, sejarah menunjukkan bahwa bursa saham cenderung mulai ”menukik” saat ekonomi mulai memasuki resesi (seperti saat ini). Namun, sebelum ekonomi membaik, bursa saham akan sudah bergerak naik.

Hal ini memberi pesan kuat bahwa pada saat ekonomi pulih dari resesi (diekspektasikan satu atau dua tahun dari sekarang), bursa saham, dalam hal ini IHSG sudah pasti telah bergerak naik tinggi dan bersiap untuk mengalami penurunan berikutnya.

Membaca data ini, sangat jelas bahwa investor yang tidak berpengalaman akan selalu terlambat masuk ke bursa saham dan juga terlambat keluar dari bursa saham.

Kita seyogianya memang tidak dapat mengendalikan arah ekonomi, namun kita bisa memutuskan apakah kita ingin lebih makmur atau lebih berkekurangan di masa yang akan datang. Hal ini tentunya dimulai dari keputusan keuangan yang kita buat saat ini, di saat bursa merah merona akibat ancaman resesi yang kian semakin nyata. Untuk memperjelas, data menunjukkan bahwa jumlah orang kaya di Amerika (high networth person) pascakrisis ekonomi pada tahun 2008 meningkat 63% dari 2,46 juta menjadi 4,01 juta orang, dan berlanjut hingga mencapai 5,32 juta orang pada tahun 2019 ketika indeks DJIA melanjutkan penguatannya pascakejatuhannya di tahun 2008.

Sejarah berulang dengan sendirinya. Inilah yang terlihat dari data-data masa lalu dan dari penelitian pergerakan bursa saham secara historis. Menurut Robert Kiyosaki, sejarah menjelaskan, dengan asumsi manusia rata-rata hidup sampai 75 tahun, maka mereka akan mengalami setidaknya dua resesi dan satu depresi.

Para generasi X telah mengalami dua resesi, tapi belum mengalami depresi. Sehingga bagi generasi Y dan Z, apa yang terjadi saat ini merupakan salah satu masa resesi yang akan dihadapi. Dan peluang ini sangat jarang terjadi, sehingga momentumnya perlu diantisipasi dan dimanfaatkan dengan baik.

Hal ini tentu akan menjadi pertanyaan besar yang harus ditanyakan kepada investor, terutama investor generasi Y&Z: Apakah akan terus diam menunggu momentum untuk belanja saham sampai semuanya kembali normal, atau memanfaatkan dengan baik momentum ini?

Meskipun kejadian krisis tahun 2020 dapat dikatakan memiliki magnitude krisis yang berbeda dari tahun sebelumnya, namun kesempatan untuk menjadi kaya dari krisis ini sangat terbuka lebar.

Krisis tahun 2020 mungkin akan menjadi pelajaran berharga untuk investor generasi Y dan Z dalam menghadapi krisis keuangan selanjutnya, sekaligus, akan menjadi titik poin yang sangat bagus untuk menghasilkan kekayaan besar di masa yang akan datang. Namun, jangan lupa bahwa penyesalan juga bisa terjadi kalau investor tidak memanfaatkan momentum langka ini dengan tepat.

Menurut Robert Kiyosaki, orang akan tumbuh semakin kaya melalui perubahan-perubahan ketika orang tersebut terus belajar (open mind) dan berani ambil aksi (take action).

Seperti hokum alam, ada siang, ada malam. Ada panas dan dingin, hujan dan terang, pasang dan surut, miskin dan kaya, dan tentunya krisis dan kemakmuran. Sementara itu, yang abadi hanya Tuhan dan perubahan itu sendiri. Jadi, bijaklah memanfaatkan momentum. Semoga bermanfaat.

*) Equity Analyst PT BNI Sekuritas (Tulisan merupakan opini pribadi dan tidak memiliki hubungan dengan tempat penulis bekerja).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN