Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bencana dan Transformasi

Sabtu, 13 Oktober 2018 | 09:43 WIB
Oleh Edy Purwo Saputro

Tema peringatan World Tourism Day (WTD) 2018 atau Hari Pariwisata Dunia 2018 adalah ‘Tourism and The Digital Transformation’. Peringatan WTD dilakukan setiap 27 September dan tema tahun ini selaras dengan tuntutan transformasi dalam keperilakuan di era global dan digital sebagai bagian dari fenomena global information society. Realitas ini didukung oleh ketersediaan internet yang semakin murah dan mudah aksesnya.

Oleh karena itu, semangat dari tema WTD 2018 adalah bagaimana memacu kepariwisataan ke depan, tidak saja terkait tahun politik tapi juga kasus bencana di sejumlah daerah. Hal ini menjadi penting karena pariwisata menjadi salah satu sumber pemasukan negara serta mata rantai dari geliat ekonomi bisnisnya cenderung padat karya dan kompleks.

Yang justru menjadi pertanyaan adalah bagaimana target dan realisasi daya tarik pariwisata? Target kunjungan 17 juta wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2018 tampaknya kian sulit terealisasi di sisa waktu tiga bulan ini, terutama dipicu oleh terjadinya bencana beruntun di Indonesia dan juga memanasnya iklim social politik (sospol) menjelang pilpres 2019 yang akan terjadi rematch Jokowi vs Prabowo.

Bahkan, gempa berkekuatan 7 SR yang terjadi di Lombok kemarin secara tidak langsung memicu sentimen atas jumlah kunjungan wisman. Kampanye Visit Indonesia Wonderful Indonsia (VIWI) 2018 tampaknya terkendala berbagai bencana yang terjadi, termasuk juga pemasaran terhadap 18 destinasi unggulan.

Komitmen atas target 17 juta wisman sebenarnya telah dibahas dalam Rakornas Pariwisata IV-2017 di Jakarta bertema ‘Visit Wonderful Indonesia 2018’ dengan fokus pembahasan seputar strategi yang dilakukan Kemenpar dan juga pematangan ‘Calendar of Event Wonderful Indonesia (CoEWI) 2018’. Termasuk juga sinkronisasi industri pariwisata serta persiapan paket tour untuk 18 destinasi unggulan yang telah ditetapkan.

Tantangan

Pemerintah juga sepakat merombak sistem pemasaran dengan model zonasi yaitu zona I (Indonesia, Asean, Australia dan Oceania) dan untuk zona II (Asia, Afrika, Amerika dan Eropa). Artinya, strategi pemasaran lama dengan target pasar wisman dan wisnus tidak lagi diterapkan, termasuk juga target membidik 9 pasar utama yaitu Tiongkok, India, Jepang, Malaysia, Singapura, Australia, Korea, Timur Tengah, dan Eropa (Jerman, Perancis, Inggris, Rusia, Belanda).

Pertimbangan dengan fokus 9 pasar itu adalah size (ukuran), sustainability (pertumbuhan), dan spending (konsumsi). Data per tumbuhan wisman Tiongkok tahun 2017 yaitu 30%, India 45%, Eropa 15,2%, dan Australia 11%. Meski ada tren kunjungan wisman namun data BPS menunjukkan realisasi kunjungan wisman pada 2017 hanya 14,04 juta atau meleset dari target 15 juta, meski tumbuh 21,88% dari tahun 2016 yang mencapai 11,52 juta wisman.

Dari data target dan realisasi jumlah kunjungan wisman, ternyata Bali masih dominan dan tentu ini riskan terhadap pencapaian target kunjungan wisman jika terjadi sesuatu dengan Bali, termasuk misalnya kasus Gunung Agung di Bali beberapa waktu lalu yang berdampak munculnya travel warning. Yang terdampak bukan hanya Bali, tetapi juga pariwisata secara nasional karena citra Bali melekat dengan Indonesia dan sumbangan Bali untuk pariwisata nasional mencapai 40%.

Dalam situasi normal jumlah yang berkunjung ke Bali sekitar 15.000 wisman per hari. Pemulihan wisata di Bali–Lombok menjadi prioritas mengejar target 17 juta wisman akhir tahun 2018. Ironisnya, bantuan bencana justru dikorupsi.

Daerah yang potensi ekonominya tergantung dengan sektor pariwisata ternyata semakin rentan terhadap berbagai dampak bencana, termasuk misalnya erupsi gunung berapi dan gempa. Hal ini memberikan warning terkait ragam bencana yang terjadi, termasuk misal kasus di Bali–Lombok dan Yogya yang masih dikenal sebagai daerah tujuan wisata (DTW) berbasiskan potensi alam dan kebudayaan.

Oleh karena itu, erupsi Gunung Agung pada 28 Juni 2018 dan gempa 7 SR di Lombok beberapa waktu lalu menjadi ancaman terhadap daya tarik wisata di Bali-Lombok pada khususnya dan nasional pada umumnya. Paling tidak ini menjadi proses pembelajaran bagi Bali dan Yogya yang juga rentan terhadap dampak dari erupsi gunung berapi yang dalam beberapa waktu terakhir sempat ‘batuk’ juga.

Terlepas dari faktor alam, yang pasti, erupsi Gunung Agung di Bali pada khususnya dan ancaman erupsi gunung berapi lainnya serta ancaman bencana lainnya, termasuk gempa menjadi tantangan pengelolaan pariwisata di era global.

Padahal, brand yang ditetapkan Kementerian Pariwisata yaitu Wonderful Indonesia berhasil menjadi Brand of The Year 2018 oleh Philip Kotler Center for Asean Marketing pada 8 Maret 2018 di Jakarta pada forum ‘Awarding Night WOW Brand Festive Day 2018’.

Fakta ini menguatkan argument bahwa brand value memang ada nilai positifnya terhadap geliat bisnis dan kontribusinya terhadap kepariwisataan nasional. Paling tidak, dampak dari brand value di tahun 2016 adalah transaksi kepariwisataan Rp 6 triliun, lalu di tahun 2017 menjadi Rp 8 triliun dan target 2018 sekitar Rp 10 triliun. Faktor di balik brand value yaitu sinergi 3 C yaitu confidence, credibility dan calibration.

Komitmen

Data Kementerian Pariwisata menegaskan kunjungan wisatawan tahun 2017 mencapai 14.039.799, sedangkan target di tahun 2018 sebesar 17.000.000. Neraca jasa transaksi berjalan triwulan I-2018 masih defisit US$ 1,425 miliar, meski jasa perjalanan kegiatan pariwisata surplus US$ 1,665 miliar.

Data Organisasi Pariwisata Dunia PBB, UNWTO menegaskan belanja wisatawan berpengaruh bagi penerimaan sektor wisata dan di tahun 2017 yang terbesar dari wisatawan Tiongkok US$ 258 miliar, AS US$ 135 miliar, Jerman US$ 84 miliar, Inggris US$ 63 miliar, dan Perancis US$ 41 miliar. Bali menjadi DTW utama wisman dan di tahun 2017 kunjungan wisman sebanyak 5,5 juta, di tahun 2016 sebanyak 4,92 juta atau naik 23,1% dari tahun 2015 yaitu 4 juta wisman.

Dari sini bisa dihitung belanja wisatawan dan perputaran uang di Bali. Implikasi terhadap sektor riil dan geliat UMKM di Bali juga tidak bisa diabaikan karena mata rantai kepariwisataan cenderung kompleks. Faktor lain yang juga perlu dicermati adalah iklim sospol, sehingga agenda pilpres 2019 harus juga dipertimbangkan. Meskipun di pilpres 2019 terjadi rematch antara Jokowi dan Prabowo jilid II, namun situasinya berbeda karena Jokowi berduet dengan Ma’ruf Amin, sedangkan Prabowo bersama Sandiaga Uno.

Persepsi wait and see kepariwisataan dari ancaman iklim sospol akibat pilpres 2019 harus diantisipasi agar tidak berubah menjadi wait and worry, terutama bila masih mengumbar kampanye SARA dan ujaran kebencian. Dengan demikian, ada harapan sektor pariwisata bisa mendulang devisa demi penerimaan negara.

Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN