Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Bencana Tanpa Jeda

Rabu, 28 Oktober 2020 | 22:49 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Tak ada kepastian kapan pandemi Covid-19 akan mereda. Yang tersisa hanya ketakutan dan kepanikan manusia, saat akselerasi penyebaran pandemi kurvanya terus menanjak dari waktu ke waktu. Per 19 April, kasus positif baru di Indonesia tercatat 6.575 korban, meninggal 582 orang dan sembuh 686 orang. Enam bulan kemudian (19 Oktober 2020), jumlah korban positif melesat menjadi 365.240 orang, 12.617 orang meninggal dan 289.243 orang sembuh.

Angka tersebut cukup membuat miris. Meski bukan untuk menakut -nakuti , tetapi cukup untuk membandingkan akselerasi pasien yang sembuh dan meninggal. Sekaligus mengukur sejauh mana prestasi penyembuhan petugas yang menangani pasien.

Juga untuk membandingkan tingkat risiko tenaga medis yang juga menjadi korban karena posisinya di garda depan. Selanjutnya, membandingkan pertambahan pasien yang sembuh dengan tambahan pasien baru yang terkena virus corona, sehingga dapat diketahui kapan titik kulminasi, dan seberapa lama wabah akan berakhir.

Terakhir, untuk membandingkan sejauhmana tingkat efektivitas Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berkorelasi dengan tingkat kepatuhan masyarakat ikut serta meredam penyebaran Covid-19.

Upaya membandingkan tersebut menjadi relevan untuk memitigasi dampak risiko terhadap kehidupan manusia. Termasuk pemerintahan karena terkait ancaman krisis ekonomi. Semakin lama PSBB diperpanjang, maka semakin lama pula masyarakat ‘terpenjara’ kebebasannya di dalam rumahnyasendiri. Yang jelas, manusia semakin terpuruk karena kesulitan hidup yang menghimpitnya. Dan akan kehilangan makna luxury.

Apa itu luxury? Luxury is being healthy. Luxury is not stepping into hospital. Luxury is being able to walk along the seashore. Luxury is going out on the streets and breathing without a mask. Luxury is meeting with your whole family, with your friends. Luxury is enjoying every sunrise. Luxury is the privilege of loving and being alive. All this is a luxury and did not know.

Belum selesai masalah Covid-19, bencana lainnya telah mengadang. Selain musim kemarau 2020, bencana lainnya yang diprediksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) adalah bencana hidrometeorologi, yang meliputi banjir, kebakaran hutan, longsor dan kekeringan.

Prihatin memang, bencana sepertinya tak mengenal jeda. Apalagi mencermati perkembangan dinamika atmosfer laut hingga bulan Oktober 2020, mengindikasikan adanya anomali iklim La Nina, yaitu kondisi penyimpangan/anomaly suhu permukaan laut Samudera Pasifik Tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin dibandingkan kondisi normalnya.

La Nina moderat yang mulai muncul bulan Agustus 2020, diperkirakan akan meluruh di bulan Mei 2021. Anomali iklim La Nina menyebabkan awal musim hujan lebih awal, dan terjadi peningkatan curah hujan di atas normal menjelang masuknya musim hujan (Oktober - November), namun dampaknya tidak seragam.

Selain anomali iklim La Nina, terjadi pula beberapa gangguan atmosfer lain yang memengaruhi peningkatan curah hujan seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Ekuatorial Rossby, serta adanya pertemuan massa udara (konvergensi) di Jawa Timur.

Hal yang perlu diwaspadai adalah adanya potensi gelombang tinggi di Perairan Selatan Jawa Timur dan Samudera Hindia Selatan Jawa Timur. Diperkirakan ketinggian gelombang dapat mencapai ketinggian 3,5 meter. Akibat fenomena La Nina, tiga provinsi, yaitu Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung juga berpotensi menghadapi bencana hidrometeorologi. Ketiganya berstatus siaga bencana.

Sedangkan 15 provinsi lainnya waspada bencana. Ketiga provinsi yang disebut awal telah meningkatan kewaspadaan dini dalam menghadapi potensi bencana seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angina kencang yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Antisipasi dini dilakukan dengan mitigasi nonstructural dengan penekanan pada aspek perilaku menjaga lingkungan dan bersiap siaga mengurangi risiko. Kesiapsiagaan harus dimulai dalam diri sendiri, keluarga hingga masyarakat agar terhindar dari risiko bahaya yang lebih besar.

Dalam menghadapi bencana ini, pemerintah (Kemensos, Kemenko Marinves, Kemenhub) menggalakkan Program Penanganan Bencana Berbasis Komunitas atau Community-Based Disaster Management (CBDM). Dan telah menyiapkan hampir 40.000 relawan serta kampung siaga di daerah rawan bencana. Tujuannya agar pada saat darurat bencana atau pada saat bencana datang, bantuan-bantuan kebutuhan dasar yang diperlukan masyarakat terdampak bencana bisa segera didistribusikan.

Bencana lain yang timbul akibat ketidakpastian sampai kapan pandemic Covid-19 akan berakhir dan ancaman bencana hidrometeorolgi adalah persediaan bahan makanan. Persediaan mungkin ada, tapi bagaimana membelinya atau memperolehnya. Karena itu, hari-hari berikutnya, yang paling ditakuti bukan lagi wabah corona. Tapi bahaya kelaparan.

Bencana ini berpotensi memicu konflik sosial dengan indikasi meningkatnya angka kriminal. Bencana-bencana yang terjadi silih berganti telah membawa perubahan hidup manusia.

Perubahan yang menyakitkan, karena menyebabkan orang merasa tidak aman, bingung, dan marah. Orang menginginkan hal-hal seperti sediakala. Covid-19 dan ancaman bencana alam lainnya, seakan tak berjeda.Tak membiarkan manusia lepas dari kubangan kesedihannya. Tapi itulah faktanya seperti yang dituliskan Ella Wheeler Wilcox, penyair dan wartawan dari Amerika Serikat.

“Jika hidup ini warna-warni, tidak mungkin hanya hitam-putih saja. Jangan berharap selalu bahagia, jangan juga berpikir kesedihan akan selamanya. Tuhan tidak pernah membiarkan hambanya terlarut dalam kesedihan, pasti ada rencana indah untuk membayar semua air mata.”

Pandemi Covid-19 dan ancaman bencana lainnya menguji setiap manusia tanpa memandang siapapun dan apapun. Bancana tidak hanya memberikan pilihan memperburuk atau memperbaiki kondisi psikologis masyarakat, tetapi juga keadaan finansial. Dibutuhkan keyakinan dan dukungan dari semua warganegara yang merasa bagian dari bangsa Indonesia.

Juga partisipasi aktif, semangat peduli dan berbagi menjadi keharusan bagi siapa saja yang ingin meringankan beban negara, dan melakukan tindakan nyata yang lebih bermakna.

Diperlukan juga evaluasi terhadap hal-hal yang sebelumnya dilakukan. Evaluasi diperlukan agar dapat memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dalam menciptakan solusi untuk membantu masyarakat. Dan mulai menyadari sebagaimana pernyataan HarrySlyman,

“Apa yang kita dapatkan sekarang adalah buah pilihan yang kita buat di masa lalu. Apa yang kita pilih hari ini adalah apa yang akan kita dapat di masa depan.” Sependapat dengan Burhanuddin Abdullah, membahas “bencana” sebenarnya adalah bicara tentang manusia.

Manusia lah yang menjadi penilai utama bahwa “yang itu” bencana, “yang ini” bukan. Tanpa manusia tak ada bencana. Betapa banyak kebakaran, longsor, atau tsunami hebat, di tempat-tempat di bumi ini yang tidak dihuni manusia atau di planet lain, tidak disebut bencana. Ia hanyalah gerak alam yang biasa.

Kebakaran hebat di matahari yang terjadi setiap detik bukan bencana. Justru, berkah. Longsor yang terjadi di sudut dunia yang tanpa penghuni bukan lah malapetaka. Begitu pula dengan virus corona.

Selama ratusan tahun mereka asyik dengan dirinya dan tidak menimbulkan efek apa-apa pada kesehatan manusia, karena mereka hanyalah makhluk yang dalam beberapa hal tertentu tidak beda dengan manusia. Mengapa terjadi bencana?

Para pemikir menuding manusia sebagai penyebabnya. Peradaban manusia dengan kemajuan teknologi membutuhkan ruang ekspansi dan  eksploitasi untuk menyalurkan hegemoni tanpa batas.

Pembangunan yang menghasilkan karbon yang tinggi menggerus lahan produktif, melubangi lapisan ozon bumi, melubangi gunung, mengebor perut bumi, menggunduli hutan, mencemari biota laut, dan pelan tetapi pasti mengubah iklim bumi. Bencana seakan memberikan pesan bahwa kini saatnya bumi memperbaiki diri, menyusun kembali keseimbangan hayati.

Agar terbebas dari polusi, dan kembali menjadi tempat layak huni. Bersentuhan dengan bencana adalah perjalanan panjang kesalahan manusia yang terus berulang. Tanpa banyak perubahan yang mendasar. Mungkin inilah sifat dasar manusia yang sombong, serakah, dan mudah lupa. Meskipun pengalaman telah membuktikan bagaimana dahsyatnya dampak buruk bencana terhadap kehidupan manusia.

Tak kurang pula peringatan dari Kitab suci, para Nabi, orang bijak, para pemimpin dan pengkhotbah kehidupan. Termasuk Eva Morales melalui pernyataan, “Cepat atau lambat, kita harus mengakui bahwa bumi memiliki hak untukhidup tanpa polusi. Apa yang harus manusia ketahui adalah manusia tidak bisa hidup tanpa bumi, namun sebaliknya planet ini dapat hidup tanpa manusia.”

Bencana kini telah menjadi sejarah. Sejarah bencana bumi harus bisa mengingatkan manusia jika bumi tempat bermukimnya seharusnya dipandang sebagai subjek sekaligus objek. Sebagai subjek, bumi memberikan sumber kehidupan untuk seluruh makhluk hidup di atasnya. Menyediakan jaring- jaring makanan sesuai siklusnya.

Manusia dilebihkan oleh Sang Pencipta karena dapat menjadikan bumi sebagai objek eksplorasi dan eksploitasisumber daya alam. Namun, kesalahan urus dan keserakahan manusia lah yang menjelmakan musibah dan bencana.

Jadi, mulai sekarang manusia harus berubah, mulai mengurusbumi dengan sebaik-baiknya. Tapi jika bencana sudah usai, akankahmanusia kemudian berubah? Hanya Tuhan dan manusia itu sendiri yang tahu jawabnya.

*) Pemerhati Masalah Ekonomi dan Kemanusiaan, Kepala Biro Humas dan Kerja sama, Universitas Muhammadiyah Bandung

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN