Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri

Achmad Deni Daruri

Bitcoin dan Manajemen Risiko

Rabu, 29 Juli 2020 | 21:09 WIB
Achmad Deni Daruri *)

Tak hanya pandemi Covid-19, krisis Bitcoin berpotensi lebih dahsyat efeknya dan tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Pertama, krisis Bitcoin akan bersifat absolut outlier, karena ia berada di luar bidang ekspektasi reguler, dan karenanya tidak ada di masa lalu yang secara meyakinkan dapat menunjukkan kemungkinannya. Kedua, ia membawa “dampak” yang ekstrem.

Ketiga, terlepas dari status outlier- nya, sifat manusia membuat manajemen risiko hanya mampu membuat penjelasan untuk terjadinya setelah fakta, agar menjadikannya dapat dijelaskan dan diprediksi.

Dalam kacamata kuda, krisis Covid-19 tidak menurunkan hakikat keunggulan Bitcoin. Harga Bitcoin masih yang tertinggi dibandingkan dengan harga mata uang digital lainnya.

Selain itu, ada kecenderungan harga Bitcoin juga naik dengan terjadinya krisis ekonomi karena Covid-19, khususnya setelah pertengahan bulan Mei 2020.

Banyak investor tertipu oleh gerakan jangka pendek ini. Ahli pengambilan keputusan telah mengingatkan kesalahan seperti ini yang berpotensi menciptakan risiko yang sangat besar. Tversky dan Kahneman menjelaskan perbedaan manusia dalam penilaian dan pengambilan keputusan dalam hal heuristik. Heuristik melibatkan jalan pintas mental yang memberikan perkiraan cepattentang kemungkinan kejadian yang tidak pasti.

Heuristik adalah cara sederhana untuk dikomputasi oleh otak tetapi kadang-kadang menimbulkan “kesalahan parah dan sistematis”. Buktinya, harga Bitcoin sejak bulan Juni 2019 terus turun hingga saat ini.

Dalam konteks jangka menengah, tampaknya Bitcoin belum bisa menghindar dari krisis ekonomi karena Covid-19. Bahkan jika dibandingkan dengan posisi tertinggi pada bulan Desember 2017, posisi harga Bitcoin pada enam bulan pertama tahun 2020 masih di bawah separuhnya. Dengan demikian kecenderungannya harga Bitcoin memang akan terus turun di masa depan.

Pertanyaan selanjutnya, akankah di masa depan akan mencapai rata-rata harga pada tahun 2016? Jawabnya sangat sederhana, yaitu sangatlah mungkin karena individu menciptakan “realitas subjektif” mereka sendiri dari persepsi mereka tentang input. Konstruksi realitas seseorang, bukan input objektif, dapat menentukan perilaku mereka di dunia.

Dengan demikian, bias kognitif kadang-kadang dapat menyebabkan distorsi persepsi, penilaian yang tidak akurat, interpretasi yang tidak logis, atau apa yang secara luas disebut irasionalitas. Konsekuensinya dan juga terbukti adalah Bitcoin gagal menjadi alat pembayaran utama sehingga implikasinya adalah lembaga keuangan yang mengoleksi Bitcoin akan menghadapi risiko yang sangat tinggi. Manajemen risiko harus menghitung probabilitas turunnya harga Bitcoin menjadi harga seperti tahun 2016.

Masalahnya hingga saat ini tidak ada satupun lembaga keuangan yang berinvestasi pada Bitcoin melakukan perhitungan risiko yang seperti itu. Kemungkinan hilangnya nilai investasi adalah sebesar 95%.

Hal ini perlu segera diantisipasi oleh regulator pasar keuangan agar potensi kerugian ini dapat dihilangkan dengan menciptakan instrumen hedging yang baru.

Untuk itu regulator harus memberikan insentif terhadap instrumen-instrumen hedging baru yang berorientasi meminimalkan kerugian dahsyat dari jatuhnya harga Bitcoin.

Instrumen tersebut harus memiliki tiga sifat. Pertama, instrumen harus mengantisipasi dengan memainkan peran yang tidak proporsional dari peristiwa penting, yang sulit diprediksi, dan langka yang berada di luar bidang ekspektasi normal dalam konteks sejarah, ilmu pengetahuan, keuangan, dan teknologi.

Kedua, instrumen harus mampu menetralisasi non-komputabilitas dari probabilitas peristiwa langka konsekuensial yang menggunakan metode ilmiah (karena sifat probabilitas kecil). Ketiga, instrumen harus bebas nilai dan bebas dari bias psikologis yang membutakan orang, baik secara individu maupun kolektif, untuk ketidakpastian dan peran besar peristiwa langka dalam konteks sejarah.

Berdasarkan daftar bias kognitif yang terus berkembang dan telah diidentifikasi selama enam dekade terakhir penelitian tentang penilaian manusia dan pengambilan keputusan dalam ilmu kognitif, psikologi sosial, dan ekonomi perilaku,

Daniel Kahneman dan Tversky (1996) punya pendapat. Bahwa bias kognitif memiliki implikasi praktis yang efisien untuk bidang-bidang khususnya penilaian klinis, kewirausahaan, keuangan, dan manajemen. Hanya dengan cara ini maka manajemen risiko bebas dari kelemahannya.

“Masalah Linda” menggambarkan heuristik keterwakilan (Tversky & Kahneman, 1983). Para peserta diberikan deskripsi “Linda” yang menunjukkan bahwa Linda mungkin seorang feminis (misalnya, ia dikatakan prihatin dengan masalah diskriminasi dan keadilan sosial).

Mereka kemudian ditanya apakah mereka pikir Linda lebih mungkin menjadi (a) “teller bank” atau (b) “teller bank dan aktif dalam gerakan feminis”. Mayoritas memilih jawaban (b). Kesalahan ini (secara matematis, jawaban (b) tidak mungkin lebih daripada jawaban (a) adalah contoh dari “fallacy konjungsi”. Tversky dan Kahneman berpendapat bahwa responden memilih (b) karena tampaknya lebih “representatif” atau tipikal orang yang mungkin cocok dengan deskripsi Linda.

Heuristik keterwakilan dapat menyebabkan kesalahan, seperti mengaktifkan stereotip dan penilaian yang tidak akurat dari orang lain (Haselton, 2005). Untuk itu, pengawas sektor keuangan harus lebih waspada terhadap kemungkinan terjadinya krisis dahsyat dari jatuhnya harga Bitcoin yang mungkin beriringan dengan krisis Coronavirus!

*) President Director

Center for Banking Crisis

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN