Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengamat Perkotaan Nirwono Joga. Sumber: BSTV

Pengamat Perkotaan Nirwono Joga. Sumber: BSTV

Bulan Pemulihan Diri Kala Pandemi

Jumat, 30 April 2021 | 11:03 WIB
Nirwono Joga

Bulan Ramadan adalah bulan kemurahan (syahrul judd), bulan penuh kasih (syahrul rahmah), dan bulan penuh keberkahan (syahrul mubarak). Berpuasa di bulan Ramadan merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bagi pembinaan kesalehan invidual serta peningkatan kesalehan sosial. Di tengah wabah Covid-19, seluruh warga baik yang berpuasa maupun tidak puasa karena alasan tertentu, tetap wajib menjaga kesehatan jiwa raga dan kehidupan, dengan terus menerapkan protokol kesehatan.

Dengan semangat puasa Ramadan, kita dituntun menjadi manusia yang menebar kedamaian, dibimbing mengontrol pikiran, perasaan, dan perilaku yang baik, serta meningkatkan keimanan dan mengharap rida Allah. Kita diingatkan kembali untuk memahami makna puasa sebagai jembatan menuju ketakwaan dan kesucian, serta menguatkan posisi kemanusiaan kita. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Pertama, puasa Ramadan harus menjadi momentum penting untuk mendapatkan keistimewaan, keutamaan, dan pelipatgandaan pahala yang Allah janjikan. Kita diajari untuk mensyukuri setiap karunia yang Allah berikan kepada umat manusia. Kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan menjadi sangat berharga di tengah pandemi Covid-19.

Ibadah puasa harus menjadi jembatan untuk mendulang dan menuai kebaikan, serta momentum untuk membangkitkan rasa optimisme memasuki kenormalan baru. Dengan optimisme, kita bisa mmperbanyak amal saleh sebagai investasi di kemudian hari.

Kedua, di kala pandemi yang masih mewabah di berbagai wilayah, perlahan kita melihat peradaban manusia berubah. Ketidaknormalan menjadi norma, gaya hidup, dan budaya baru di kenormalan baru. Kewajiban menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan, serta mengurangi mobilitas keluar rumah sudah menjadi standar baru hidup kita.

Kota harus meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan. Kampanye kebersihan dilakukan secara terus-menerus untuk menghilangkan kebiasaan buruk seperti merokok, meludah, buang sampah, buang air kecil atau besar sembarangan. Budaya sehat diwujudkan berupa kawasan bebas rokok, tata cara baru batuk atau bersin, membangun sanitasi dan IPAL komunal, serta tersedia akses air bersih.

Ketiga, ibadah puasa juga mengajarkan kita pola hidup sehat dan bersih sebagai budaya warga kota sehat. Kita diingatkan untuk makan makanan sehat, bergizi, dan higienis. Meski puasa, kita tetap diizinkan berolah raga ringan setiap hari sekitar 30 menit di luar ruang sore hari sambil menunggu waktu berbuka agar tubuh tetap bugar. Malam hari kita juga dituntut beristirahat secukupnya, tidak tidur larut malam, serta memperbanyak ibadah malam tersungkur sujud di setiap penghujung malam hingga menjelang waktu sahur.

Kota memfasilitasi warga untuk tetap aktif bergerak secara fisik dan membiasakan berjalan kaki atau bersepeda dalam jarak dekat. Trotoar dan jalur sepeda yang aman disediakan untuk mengantar warga ke taman, warung, toko, pasar, tempat ibadah.

Keempat, pembangunan infrastruktur kota sehat diarahkan pada upaya meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan, promotif dan preventif kesehatan masyarakat, aksesibilitas dan layanan fasilitas kesehatan, dukungan dan inovasi serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di bidang kesehatan.

Kota sehat ditampilkan dengan rumah bersih, akses air bersih, sanitasi higienis, warga tidak mudah sakit. Perencana kota berkolaborasi lintas profesi, seperti ahli kesehatan masyarakat, teknik lingkungan, arsitek, arsitek lansekap, dan interdisiplin ilmu lain, membangun infrastruktur kesehatan masyarakat. Kota dan kesehatan memegang peranan penting terhadap bentuk, desain, dan konektivitas kota.

Kelima, kota memberikan peningkatan kualitas dan kelayakan hidup untuk menaikkan harapan hidup. Pemulihan kota di tengah pandemi memberikan peluang untuk memikirkan ulang kehidupan kota yang lebih menyehatkan, menyejahterakan masyarakat, mengantisipasi perubahan iklim, serta mempersiapkan diri menghadapi pandemi di masa mendatang.

Kota harus membangun sistem proteksi kota yang kuat terhadap ancaman kesehatan. Kota memiliki gagasan untuk mengantisipasi fenomena ancaman pandemi terhadap pengembangan kota. Berbagai inovasi perkotaan yang diharapkan, dipromosikan, dan diterapkan selayaknya berdasarkan pelajaran yang diperoleh selama pandemi.

Kota harus memiliki strategi untuk mengaktifkan kota dan kita untuk mampu bertahan kala pandemi, cepat memulihkan diri setelah puncak pandemi, serta mempertahankan kelangsungan hidup untuk menghadapi ancaman pandemi atau kebencanaan lainnya. Kita harus membangun peradaban kota lebih adil demi menciptakan bumi lebih sehat.

Puasa Ramadan akan meningkatkan kesadaran spiritual, membangkitkan komitmen moral dan sosial, serta keinginan berbagi kebaikan kemanusiaan dan lingkungan sekitar. Pencapaian tertinggi seorang muslim yang berpuasa adalah menjadi insan takwa, derajat mulia yang hanya bisa dicapai manusia unggul yang telah melewati proses spiritual, kesabaran dan kepasrahan penuh kepada Sang Khalik.

 

*) Kepala Pusat Studi Perkotaan

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN