Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fabian Buddy Pascoal, Penulis adalah praktisi hukum bisnis dan Senior Partner pada Kantor Hukum Dentons HPRP.

Fabian Buddy Pascoal, Penulis adalah praktisi hukum bisnis dan Senior Partner pada Kantor Hukum Dentons HPRP.

BUMN di Jalur Sutra

Fabian Buddy Pascoal, Kamis, 25 Juli 2019 | 10:37 WIB

Usaha pemerintah Indonesia untuk mempercepat pembangunan nasional membawa beban pendanaan yang cukup besar, terutama dalam pembangunan infrastruktur. Pemerintah memperkirakan bahwa kebutuhan dana pembangunan Indonesia pada tahun 2020–2024 menembus Rp 24 ribu triliun.

Salah satu cara pemerintah dapat mengurangi beban pembiayaan ini adalah menggandeng pihak swasta untuk membantu pendanaan pembangunan, termasuk BUMN.

Di sisi lain, ada sumber pendanaan dan bantuan percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia yang datang dari program Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok. Pada KTT BRI di Beijing 26 April 2019 lalu, 23 MoU kerja sama dalam berbagai bidang telah ditandatangani oleh Indonesia dan Tiongkok. Apakah BUMN kita siap untuk menghadapi tantangan dan kesempatan yang dibawa oleh BRI?

Inisiatif BRI sekarang menjadi salah satu fokus utama kebijakan luar negeri Tiongkok di bawah pemerintahan Presiden Xi Jin Ping, dan diumumkan pada tahun 2013. Program ini dulu dikenal sebagai Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21, sebelum berubah nama menjadi One Belt One Road Initiative (OBOR), dan sekarang BRI. Saat ini program tersebut telah melibatkan lebih dari 20 negara, termasuk Indonesia, dan telah menghasilkan banyak pabrik, pelabuhan, infrastruktur, dan sarana-sarana komersial lain di negara-negara tersebut. Selain visi dan misi global pemimpin mereka, program ini dimungkinkan karena kapasitas likuiditas Tiongkok yang begitu besar, sehingga mampu untuk melakukan investasi besar-besaran di pelbagai belahan dunia.

Namun, program ini semacam pedang bermata dua untuk Negara-negara yang terlibat di dalamnya. Di satu sisi, Tiongkok menawarkan teknologi, kemampuan, dan pendanaan yang sering tidak tersedia di negara-negara mitra.

Di sisi lain, negara-negara penerima bantuan Tiongkok sering terjebak dalam jebakan utang yang memang tersirat dalam program ini. Sebagai contoh, persetujuan debt-for-equity swap antara Tiongkok dan Sri Lanka, di mana Tiongkok bersedia menghapus utang Sri Lanka sebesar US$ 8 miliar, bila pemerintah Sri Lanka sepakat untuk menyewakan pelabuhan Hambantota kepada Tiongkok selama 99 tahun.

Sementara itu, meskipun BUMN nasional terus berbenah diri, sejumlah rintangan terus menghalangi. Permasalahan terbesar yang dihadapi BUMN adalah kemampuan keuangan mereka yang terbatas. Banyak proyek BUMN yang merupakan penugasan yang belum tentu profitable. Ditambah lagi, proyek infrastruktur merupakan proyek berjangka panjang, sementara banyak beban utang BUMN yang merupakan utang jangka pendek. Keterlibatan BUMN dalam proyek-proyek infrastruktur BRI memang tidak bisa dihindarkan. Tantangan skala besar proyekproyek ini menjadi kesempatan yang amat baik untuk terus menajamkan kemampuan BUMN, sekaligus sebagai pendorong untuk BUMN segera berbenah diri dan meningkatan kemampuannya. Ada beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan BUMN nasional dalam rangka peningkatan kemampuan ini.

Yang pertama, BUMN harus selalu setia pada misi yang diembannya; mereka tidak hanya memiliki misi perusahaan swasta di mana mereka harus mengejar keuntungan, tapi juga misi pemerintah di mana mereka berperan membangun negara. Karena itu, BUMN merupakan panggung dua hal penting: Good Corporate Governance (GCG), dan Good Public Governance (GPG). BUMN harus terus menerapkan prinsip-prinsip GCG dan GPG yaitu Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, Professionality, and Fairness (TARIPF).

Kedua, BUMN harus meningkatkan efisiensi dari waktu ke waktu. Banyak BUMN yang masih tumpang- tindih satu sama lain dan masih berkompetisi antar-BUMN. Solusi kendala ini sebenarnya sudah dibicarakan pemerintah: Pembentukan super-holding BUMN. Sekarang ini sudah terbentuk enam holding, dan pemerintah sedang dalam proses membentuk delapan holding lain. Bila super-holding sudah terbentuk, maka efisiensi BUMN akan jauh meningkat. Super-holding ini akan seperti Temasek di Singapura dan Khazanah di Malaysia.

Yang ketiga, BUMN harus dapat merangkul dan melibatkan BUMD. Kita harus mengingat bahwa program- program yang berjalan dalam kerangka BRI ini akan dibangun di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku dan Bali. Proyek-proyek tersebut meliputi, antara lain, pembangunan kawasan industri dan infrastruktur penunjang (Taman Kuning, Kaltara), proyek pembangkit listrik hasil olahan sampah (Sulawesi Utara) dan Taman Teknologi di Pulau Kura-kura (Bali). Maka penting kiranya bila BUMN merangkul dan melibatkan BUMD daerah-daerah tersebut untuk ikut mengawal pelaksanaan proyek-proyek ini. Selain dapat memberdayakan BUMD, keterlibatan ini juga memberi manfaat langsung ke daerah di mana proyek-proyek ini dibangun.

Dunia sekarang sudah mulai bertransisi dari era kompetisi menjadi era kolaborasi global. Apa pun kepentingan pemerintah Tiongkok di belakangnya, BRI merupakan gambaran masa depan dunia yang sudah sulit ditentang. Namun, kita harus bisa menyikapi era ini dengan tetap mengingat dan melindungi kepentingan nasional Indonesia.

Seperti kata Wakil Presiden Jusuf Kalla tentang BRI; ownership proyekproyek ini harus tetap di Indonesia, dan hubungan kedua Negara harus menguntungkan kedua pihak. Maka, BUMN harus menjadi garda depan kolaborasi global ini dengan kapabilitas yang setara dengan atau bahkan melebihi standar internasional.

Fabian Buddy Pascoal, Penulis adalah praktisi hokum bisnis dan Senior Partner pada Kantor Hukum Dentons HPRP. Tulisan ini adalah pendapat pribadi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA