Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan
globalisasi.

Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi.

Cabai yang Genit dan Pedas

Jumat, 30 April 2021 | 15:03 WIB
Khudori

Ramadan menginjak pekan ketiga, harga cabai masih tinggi, jauh dari normal. Bagai kuda lepas dari pelana, harga cabai bergerak tanpa kendali, naik turun seperti roller coaster.

Di berbagai daerah harga cabai sempat menggila. Ibu-ibu rumah tangga pusing dibuatnya. Anggaran dapur bisa jebol. Pedagang dan pemilik usaha makanan kelabakan. Mereka bisa kehilangan konsumen. Pemerintah tak kuasa menjinakkan harga. Bisa dipastikan cabai kembali jadi biang inflasi pada April.

Sepanjang Januari-Maret 2021, cabai menjadi kelompok volatile food yang paling inflatoir, terutama cabai rawit. Bisa jadi, tahun ini cabai (rawit dan merah) bakal kembali merajai inflasi tahunan, mengulang tahun 2019 dan 2020. Jika ini terjadi, cabai telah sukses menciptakan hattrick, mengalahkan beras yang di tahun-tahun sebelumnya selalu superior. Ini menandai betapa pentingnya cabai dalam memengaruhi ekonomi rumah tangga dan pedagang, yang ujung-ujungnya berpengaruh besar pada ekonomi nasional.

Secara ekonomi, cabai tidak menduduki posisi istimewa. Areal tanam cabai dalam beberapa tahun ini bergerak antara 220-250 ribu hektare dengan produksi 1,2-1,5 juta ton per tahun. Produksi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Produksi terkonsentrasi di Jawa dan Bali (55%), Sumatera (34%), dan 11% di pulau lainnya (BPS, 2018). Hasil Survei Struktur Ongkos Petani Hortikultura (BPS, 2018) menemukan, cabai diusahakan petani berpendidikan SD dan SMP sebesar 60,18%, dan 25,28% tak sekolah/tak tamat SD. Hanya 14,54% yang berpendidikan SMA ke atas.

Mayoritas (871%) petani ini rata-rata tidak mendapatkan penyuluhan dan tidak bermitra (98,7%). Sebagian besar dari mereka (95,1%) membiayai usaha dari kantong sendiri. Kegagalan panen sebagian besar dari serangan organisme pengganggu tanaman: mencapai 78,7%. Keuntungan usahatani cabai memang menjanjikan, mencapai Rp32,7 juta/musim/hektare (63,4%). Tetapi biaya tanam cabai amat besar: Rp 64,3 juta. Bisa dipahami jika usahatani ini hanya ditekuni oleh petani kaya dan pengambil risiko.

Dalam kehidupan keluarga di Indonesia, cabai menempati posisi unik. Bukan saja dalam keseharian, tapi juga keilmuan. Dalam pola diet yang pernah jadi pedoman pangan dan gizi, cabai masuk bumbu-bumbuan yang harus ada. Tetapi, ia tidak memiliki sumbangan apa-apa terhadap penyediaan kalori, mineral, protein, dan vitamin. Karena itu, merujuk Soetrisno (2017), cara pandang terhadap cabai harus berbeda dari komoditas pangan lainnya. Karena ia hanya ada kalau terasa, sehingga tingkah lakunya jadi genit.

Dari sisi popularitas, cabai tidak kalah dari beras, makanan pokok sebagian besar penduduk Asia. Ini ditandai minat studi berbagai universitas, termasuk di luar negeri, terhadap cabai. Studi National Cheng Kung University Taiwan (2017) menemukan pola tanam dan panen cabai di Indonesia yang ajek: panen pada Mei-November dengan panen besar pada Mei-Juli dan panen tipis di Agustus-September, sedangkan Desember-April paceklik. Merujuk pola ini, sejak awal tahun hingga Ramadan adalah paceklik. Mustinya, jauh-jauh hari pemerintah bisa mengantisipasi ini agar harga cabai tidak semakin pedas.

Antisipasi ini jadi penting karena catatan panjang sejarah percabaian menandai bahwa tangan-tangan negara masih belum kuasa menjinakkan harga cabai. Ini ditunjukan oleh volatilitas harga cabai yang amat tinggi di berbagai kota: Jakarta 75,6%, Bandung 80,7%, Semarang 64,5%, Yogyakarta 91,2%, dan Surabaya 79,5% (Gafar, 2017). Pada titik inilah penting memahami konteks pasokan-permintaan dikaitkan dimensi waktu dan tempat. Kala pasokan lebih kecil dari permintaan, harga cepat melonjak. Sebaliknya, kala pasokan berlebih harga turun bebas. Permintaan relatif tetap, sedangkan pasokan bersifat musiman. Itu pun terpusat di Jawa-Sumatera. Jika logistik terganggu, harga bisa mbedhal.

Menilik gejolak yang siklikal, penanganan masalah cabai harus bersifat, pertama, mengisi kekosongan di luar musim tanam reguler, yaitu saat paceklik Desember-April. Kedua, mengantisipasi lonjakan permintaan kalender hijriah tahunan yang terus bergeser. Seperti dipahami, pasokan komoditas pertanian mengikuti kalender matahari dan permintaan mengikuti kalender bulan (Soetrisno, 2016). Kalender matahari dan bulan ini terus bergeser 10 atau 11 hari setiap tahun. Dari pengalaman, lonjakan permintaan terjadi pada tiga bulan ”masa pesta”, yakni Syaban (Ruwah), Ramadan (puasa), dan Syawal (Lebaran). Masa pesta yang berbarengan musim paceklik tentu perlu perhatian ekstra.

Ketiga, bersifat permanen atau tersedia sepanjang waktu. Terkait ini, langkah konkret yang bisa dilakukan adalah membangun unit pertanian cadangan cabai di lokasi kota yang jadi target pengendalian. Ini semacam daerah penyangga produsen cabai. Daerah penyangga ini harus berada di wilayah konsumen yang kebutuhannya amat besar. Ada dua fungsi daerah penyangga. Selain memasok rutin kebutuhan wilayah target, juga sebagai “senjata” apabila terjadi gejolak harga cabai di pasar. Cabai dari daerah penyangga ini bisa dimanfaatkan untuk operasi pasar di daerah yang harganya tinggi. Dengan cara ini, peluang pedagang nakal untuk mempermainkan harga bisa ditutup.

Di luar itu, bisa ditempuh intervensi non-pasar, yaitu mendorong warga menanam cabai di pot, polybag atau pekarangan. Pertimbangannya, pasokan cabai sebenarnya lebih dari cukup. Jika pemerintah terjun langsung menanam cabai, kemungkinan salah urus makin dalam. Dengan menanam sendiri, tiap keluarga akan memiliki “cadangan cabai” di pohon. Cabai bisa dipanen mulai umur 3 bulan. Tiap minggu cabai bisa dipetik 2-3 kali selama 3 bulan. Satu pohon menghasilkan 115 cabai, lebih dari cukup untuk 5 keluarga. Jika ini jadi gerakan nasional, tekanan permintaan cabai di pasar akan turun.

Terakhir, mengedukasi konsumen pentingnya mengonsumsi cabai olahan. Pada saat off season atau bukan musim panen, konsumen didorong memanfaatkan cabai olahan. Memang, antara cabai olahan dengan cabai segar berbeda rasa dan aroma. Namun demikian, sensasi pedas antara cabai olahan dan yang segar bisa dipastikan tidak berbeda. Lebih dari itu, mengonsumsi cabai olahan juga membantu pemerintah mengatasi instabilitas harga yang ujung-ujungnya juga akan membantu dalam menjinakkan inflasi.

 

*) Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku ”Ironi Negeri Beras” (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi.

 

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN