Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muhamad Karim, Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Dosen Universitas Trilogi Jakarta

Muhamad Karim, Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Dosen Universitas Trilogi Jakarta

Covid-19, Perikanan, dan Nelayan Kita

Sabtu, 11 Juli 2020 | 23:17 WIB
Muhamad Karim *)

Wabah Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 belum juga reda. Semua sektor pembangunan ekonomi menerima dampaknya. Salah satunya sektor perikanan. Nelayan tradisional pun tak ketinggalan merasakannya. Walaupun, mereka tetap melaut dan menangkap ikan, tak ada jaminan hasil tangkapnya terserap pasar.

Pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan bagi nelayan berupa: (i) insentif jaring pengaman sosial berbentuk bantuan sosial, PKH, bantuan sosial tunai, BLT Desa, paket sembako dan subsidi listrik gratis, (ii) subsidi bunga kredit, (iii) stimulus modal kerja, dan (iv) instrumen kebijakan non fiskal berupa kelancaran supply chain dengan menyediakan sarana produksi perikanan.

Sayangnya, pemerintah tak mengeluarkan kebijakan jaminan pemasaran, dan stabilisasi harga komoditas ikan di tingkat nelayan, pembudidaya ikan dan pascapanen. Imbasnya, ada daerah yang surplus hasil tangkapan nelayan, hingga mereka malah membuang ikannya ke laut akibat tak ada pembelinya.

Kejadian demikian tak akan terjadi jika pemerintah membelinya dengan harga kompetitif, dibarengi penyimpanan di cold storage. Selanjutnya bisa menyuplai daerah yang defisit dengan harga jual yang wajar. Lalu, bagaimana keberadaan BUMN perikanan yang mestinya membeli ikan tangkapan nelayan?

Kinerja Menurun

Selama musim pandemi Covid-19, kinerja sektor perikanan kurang membaik. Indikatornya, pertama, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa selama triwulan I-2020 pertumbuhan ekonomi perikanan hanya sebesar 3,52%. Nilai produk domestik bruto (PDB)-nya berdasarkan harga konstan Rp 64,495 miliar. Angka ini terendah dalam enam tahun terakhir.

Kedua, dalam triwulan I-2020, aktivitas industri perikanan turun drastis. Hasil survei Bank Indonesia (BI) soal kegiatan dunia usaha (SKDU), menunjukkan nilai saldo bersih tertimbang (SBT) sektor perikanan sebesar -0,40%. Nilai ini merosot dibandingkan dengan triwulan IV-2019 sebesar -0,16%. Penyebabnya, menurunnya permintaan dan gangguan pasokan akibat Covid-19 (BI, April 2020).

Ketiga, seiring dengan penurunan kinerja kegiatan usaha, berimbas pula terhadap kapasitas produksi terpakai (KPT) dan penggunaan tenaga kerja (PTK) sektor perikanan yang pada triwulan I-2020 lebih rendah ketimbang triwulan IV-2019. Pada triwulan I-2020, KPT perikanan 71,28% atau lebih rendah ketimbang triwulan IV-2019 sebesar 71,67%.

Begitu pula nilai SBT tenaga kerja pada triwulan I-2020 sebesar -0,17%, turun -0,03% ketimbang triwulan IV-2019 (BI, 2020). Meskipun diperkirakan bakal naik lagi pada triwulan II dan III-2020, namun kondisi pandemi Covid-19 yang belum mereda bakal memengaruhi permintaan ikan di pasar internasional maupun lokal.

Keempat, sejak pandemi Covid-19 harga ikan di Indonesia merosot hingga 40-50%. BPS (2020) melaporkan bahwa nilai tukar perikanan (NTP) menurun 0,35%. Nilai NTP Februari 2020 sebesar 100,65, Maret 100,30, dan April 98,70, lalu naik menjadi 99,11 pada Mei 2020 (naik 0,41%).

Nilai tukar nelayan (NTN) dan nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) periode Februari-April 2020 menurun hingga Mei 2020. NTN Februari 100,31, lalu Maret 100,05, April 98,48 dan Mei 98,69. Sedangkan NTPi bulan Februari 101,17, Maret 100,67, April 99,02 dan Mei 99,76.

NTP, NTN dan NTPi pada April- Mei nilainya di bawah 100. Berarti sektor perikanan, nelayan dan pembudidaya ikan mengalami defisit pengeluaran ketimbang pendapatan. Penyebabnya ialah merosotnya harga komoditas perikanan tangkap maupun budidaya.

Kelima, realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor perikanan mengalami penurunan selama pandemi. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis, pada triwulan IV-2019 realisasi investasi PMDN sebesar Rp 44,2 miliar, turun menjadi Rp 36,7 miliar pada triwulan I-2020 (turun 20%).

Sebaliknya, realisasi penanaman modal asing (PMA) meningkat. Triwulan IV2019 sebesar US$ 11,8 juta, naik menjadi US$ 34,7 pada triwulan I-2020 (naik 66%). Artinya, bisnis sektor perikanan kita tetap didominasi investasi asing. Buktinya, triwulan IV-2019 kontribusi PMDN 20,18%, sedangkan PMA 79,82%. Lalu, triwulan I-2020 kontribusi PMDN 6,66%, sedangkan PMA 93,34% (BKPM, 2020).

Keenam, ekspor perikanan triwulan I-2020 berkontribusi 2,97% (US$ 1,24 miliar) terhadap total ekspor Indonesia senilai US$ 41,79 miliar. Di samping itu, volume ekspor perikanan periode triwulan I-2019 dibandingkan triwulan I-2020 ternyata naik 10.804.266 kg (16,08%).

Sedangkan volume impornya naik 7.855.847 (126,87%). Periode yang sama tahun 2019 dan 2020, nilai ekspornya naik US$ 389.396 (0,14%), sedangkan impornya naik US$ 7.428.109 (64%). Neraca volume dan nilai perdagangannya pada triwulan I-2019 surplus 61,001,137 kg senilai US$ 258.345.499, sedangkan triwulan I-2020 surplusnya 63,949,556 kg senilai US$ 251.306.786.

Kenaikan volume necara perdagangan triwulan I-2019 sebesar 4,83% berbanding terbalik dengan nilainya yang turun 2,72% pada triwulan I-2020. Fakta ini juga diperkuat indeks perdagangan turun dari 0,92 pada triwulan I-2019 menjadi 0,87 pada triwulan I-2020, yang menandai peningkatan nilai impor.

Komoditas utama ekspor perikanan Indonesia pada triwulan I-2020 adalah udang (US$ 466,24 juta), tuna-tongkol-cakalang (US$ 176,63 juta), cumi-sotong-gurita (US$ 131,93 juta), rajungan kepiting (US$ 105,32 juta), rumput laut (US$ 53,75 juta), dan lainnya (US$ 448,90 juta) (BPS 2020).

Ketujuh, penerimaan Negara bukan pajak (PNBP) bulan Maret- Mei 2020 mengalami kenaikan 31,14% dibandingkan periode yang sama 2019. Jika Februari-Mei 2020 PNBP-nya sebesar Rp 620 miliar, periode yang sama 2019 hanya Rp 472,78 miliar (Kemenkeu, 2020).

Meski pandemi Covid-19 sektor perikanan tetap berkonstribusi terhadap PNBP, fakta-fakta tersebut di atas membuktikan bahwa pandemi Covid-19 memengaruhi kinerja sektor perikanan. Lalu, bagaimana nasib nelayan kita?

Soal Nelayan

Sektor perikanan dan nelayan mengalami dampak serius selama pandemi Covid-19. Meski PNBP dan neraca perdagangan perikanan trennya naik, tetapi kontribusi ini berkebalikan dengan nasib nelayan perikanan skala kecil (small scale fisheries), khususnya nelayan tradisional.

Mereka mengalami, pertama, harga ikan anjlok secara drastis hingga 40-50%. Kasusnya di PPN Brondong-Lamogan, Ujung Pangkah Gresik, Dukuhseti Pati, dan Pandanarang Cilacap.

Kedua, berhentinya aktivitas melaut nelayan akibat tidak terserapnya kelebihan hasil tangkapan di pasar. Contohnya, di Aceh, Maluku Utara, Rawasaban Tangerang, dan Muntok Bangka Barat. Malah nelayan di Bungku Morowali, Kepualaun Tanimbar- Maluku dan Lampulo, Aceh membuang hasil tangkapannya ke laut akibat tak ada pembeli ikan.

Ketiga, aktivitas perdagangan ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) dan pasar ikan turun drastis. Omzet perdagangan anjlok hingga lebih 50%. Di antaranya: Pelabuhanratu Sukabumi, Teluk Kuantan Kuansing, Lueng Putu Pidi Jaya, Mina Nauli Sibolga, Pagatan Tanah Bumbu, Sungai Liat Bangka Belitung, Kedonganan Jimbaran, dan gudang lelang Teluk Betung.

Keempat, dir umahkannya pekerja pada unit pengolahan ikan (UPT) akibat berhentinya operasi di Maluku Utara. Ditambah berhentinya nelayan melaut otomatis mendongkrak angka pengangguran sekaligus kemiskinan.

Semua masalah ini berdampak terhadap menurunnya daya beli nelayan. Mereka mengalami defisit di tengah surplus ekspor perikanan. Ini ditandai merosotnya NTP, NTN dan NTPi April, hingga Mei 2020 yang di bawah 100. Artinya, nilai yang keluarkan melebihi yang diterima nelayan.

Pertayaannya, apakah paket kebijakan pemerintah telah mampu mengatasi masalah nelayan ini? Di tengah pandemi Covid-19 masih ada harapan. Nelayan Cirebon dan Indramayu yang bernaung di bawah Serikat Nelayan Indonesia (SNI) bersama Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menginisiasi barter komoditas dengan Serikat Petani Karawang.

Mereka mempertukarkan ikan tangkapannya dengan pangan beras (Pikiran Rakyat 31/05/2020). Model semacam ini dapat saja diterapkan secara regional. Pemerintah bisa menginisiasi pertukaran perdagangan komoditas antara daerah surplus pangan atau ikan dengan yang defisit.

Dampak positifnya, ikan hasil tangkapan nelayan di suatu daerah yang surplus terserap oleh daerah defisit. Sebaliknya, berlaku juga komoditas pangan beras, umbiumbian, dan biji-bijian.

Kerja sama demikian dapat diinisiasi dan dijalankan antarpemerintah daerah, swasta/BUMD, koperasi nelayan, maupun badan usaha milik desa (Bumdes). Model ini bakal menghidupkan aktivitas perikanan skala kecil pada level masyarakat maupun antardaerah di Indonesia. Juga, menggairahkan iklim perdagangan komoditas perikanan dan pangan pokok lainnya.

Polanya menggunakan sistem kontrak sehingga saling menguntungkan dan menghidupi. Supaya lebih dinamis, prosesnya bisa memanfaatkan teknologi informasi hingga perdagangan antardaerah berjalan efektif dan berkelanjutan. Bila perdagangannya menggunakan transportasi darat dan laut, mekanismenya tetap menerapkan protokol kesehatan.

Negara mestinya memfasilitasi proses ini agar kehidupan nelayan tradisional, pedagang ikan/bakul, pasar ikan dan TPI kembali marak. Perdagangan lewat pertukaran ikan dan pangan antardaerah bakal menstabilisasi harga, memperlancar rantai pasok, dan penyerapan hasil tangkapan.

Imbasnya secara makro kinerja sektor perikanan berkontribusi terhadap kualitas pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah dan nasional. Kita berharap paket kebijakan pemerintah bisa disenaraikan dengan model kerja sama ini di tengah pandemic Covid-19.

*) Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Dosen Universitas Trilogi Jakarta

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN