Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Dampak Larangan Ekspor Minyak Iran bagi Perbankan

Achmad Deni Daruri, Kamis, 29 Agustus 2019 | 22:42 WIB

Pemerintah Amerika Serikat di bawah komando Presiden Donald Trump melarang ekspor minyak Iran karena kekhawatiran Trump bahwa Iran menjadi negara adidaya di Timur Tengah yang mampu memproduksi senjata nuklir. Padahal, sebelumnya pemerintah Iran bersama Amerika dan dunia telah memiliki “kesepakatan nuklir bersama” yang memengaruhi geopolitik dunia.

Di Timur Tengah, geopolitik kekuatan produsen minyak akan semakin berimbang. Peran Iran berpotensi semakin besar dengan adanya kesepakatan tentang nuklir antara Iran dan enam Negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Penawaran migas pun tidak bisa lagi didikte oleh satu kekuatan di kawasan itu. Sebab, peranan negara-negara Amerika Utara dalam produksi migas dunia diperkirakan naik menjadi 25,8% pada 2035.

Mulai 2020, produksi migas di wilayah Amerika Utara diperkirakan melebihi produksi di kawasan Timur Tengah. Apalagi, porsi produksi dari wilayah Timur Tengah diperkirakan turun menjadi 25,4% pada 2035. Peningkatan produksi gas di wilayah Amerika Utara diproyeksikan membuat peranan gas alam semakin penting secara global. Peranan gas sebagai sumber energi cenderung terus meningkat sehingga pada 2035 mencapai 26,2% dari produksi total sumber energy dunia. Porsi tersebut hampir menyamai peranan batu bara (26,3%) dan sedikit lebih rendah dari kontribusi minyak bumi (28,0%).

Dapat dipastikan bahwa dengan dihentikannya ekspor minyak Iran maka permintaan akan gas juga akan meningkat di masa depan. Bagi sektor pembiayaan, seperti perbankan, maka transisi ini akan juga meningkatkan peran pembiayaan perbankan terhadap sektor gas di Amerika Utara.

Sementara itu, intensitas konsumsi energi dunia diperkirakan bergeser dari negara maju ke negara berkembang di  wilayah Asia Pasifik, terutama Tiongkok dan India. Pada 2035, konsumsi energy di Asia Pasifik diperkirakan mencapai hampir separuh (47,2%) dari konsumsi total energi dunia.

Sebaliknya, peranan Amerika Serikat dan Eropa dalam konsumsi energi dunia turun masing-masing menjadi 13,2% dan 11,0%. Implikasinya, Asia Pasifik akan menjadi perhatian penting perbankan dunia yang berorientasi kepada pembelian energi di masa depan. Defisit energy yang akan menimpa Tiongkok dan India, tentu memerlukan perhatian khusus bagi perbankan dunia. Risiko terbesar akan dihadapi oleh perbankan yang berorientasi kepada pembiayaan konsumsi energi di India.

Risiko Perbankan

Kemajuan teknologi dan efisiensi penggunaan energi menyebabkan pertumbuhan konsumsi energi di Amerika Utara dan Eropa melambat. Mulai periode 2025-2030, konsumsi energi di Amerika Utara mulai berkurang, sehingga untuk 30 tahun ke depan konsumsi energi di wilayah tersebut hanya tumbuh rata-rata 0,08% per tahun.

Di Amerika Serikat konsumsi energi diperkirakan tumbuh dengan rata-rata hanya 0,02% per tahun dan di Eropa 0,04% per tahun. Pertumbuhan konsumsi energi di wilayah Asia Pasifik juga diperkirakan melambat dari 1,42% per tahun pada 2015-2020 menjadi 0,58% per tahun pada periode 2030-2035. Penurunan pertumbuhan di Asia Pasifik terutama disebabkan penurunan pertumbuhan di Tiongkok.

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi energi di India akan tetap tinggi, rata-rata 1,6% per tahun sampai 2035. Tren inilah sebenarnya yang diupayakan oleh Donald Trump dengan melarang ekspor energi minyak Iran, sehingga ketergantungan Asia Pasifik akan energi berpindah secara cepat dari Timur Tengah menuju Amerika Utara. Konsekuensinya akan ada transisi pembiayaan energi, baik dari sisi produsen dan konsumen yang berimplikasi kapada transisi ketergantungan perbankan, dari perbankan yang berorientasi Timur Tengah menjadi perbankan yang berorientasi Amerika Utara.

Proyeksi produksi dan konsumsi energi di masa depan mengindikasikan negara-negara Amerika Utara, khususnya Amerika Serikat, bakal berperan semakin penting di pasar energi global. Pada 2021, Amerika Serikat diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri dan pada 2035 akan mengalami surplus energi sebesar 9% dari produksi total. Sampai 2035, wilayah Timur Tengah tetap menjadi sumber utama pasokan perdagangan energi global dengan persentase yang menurun dari 68% pada 2015 menjadi 50% pada 2035.

Surplus energi diperkirakan terus terjadi di wilayah Amerika Latin dan Afrika, namun peranannya dalam perdagangan energy global diperkirakan bakal berkurang. Dapat diduga bahwa perbankan yang terkait dengan bisnis minyak akan menghadapi risiko yang lebih besar ketimbang perbankan yang berorientasi kepada pembiayaan gas. Ketimpangan energi antarkawasan diperkirakan semakin besar. Defisit energi di Asia Pasifik secara relatif membesar. Hampir seluruh (99%) defisit energi terjadi di Asia Pasifik. Defisit energi di wilayah Eropa juga meningkat, namun secara relatif kian kecil dan dapat ditutupi oleh surplus energy wilayah sekitarnya (Eurasia).

Defisit energi yang sangat besar di Asia Pasifik, terutama Tiongkok dan India, dapat memengaruhi geopolitik di kawasan itu. Tiongkok dan India diperkirakan berupaya menyerap sumber energi dari negara-negara Asia yang secara neto mengalami defisit.

Untuk mengamankan pasokan energinya, bukan tidak mungkin mereka menggunakan kekuatan ekonomi, politik dan militer. Posisi dan peranan suatu negara dalam tata hubungan politik dan ekonomi di wilayah Asia Pasifik akan pula dipengaruhi oleh ketahanan energi masing-masing negara.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa Tiongkok dan India memerlukan bantuan yang luar biasa dalam sektor pembiayaan termasuk perbankan untuk menutup defisit ini. Yang dikhawatirkan banyak pihak adalah adanya upaya politis yang mengeksploitasi perbankan di India dan Tiongkok sehingga perbankan mereka terekspose oleh risiko kredit yang bersifat sistemik.

Otoritas Jasa Keuangan di Indonesia harus mampu mengantisipasi perkembangan ini secara seksama. Dilarangnya ekspor minyak Iran diperkirakan akan memperbesar defisit energi di India dan Tiongkok tersebut. Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA