Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Dapatkah Kesepakatan Damai Tiongkok-AS Segera Tercapai?

Tri Winarno, Jumat, 8 November 2019 | 11:14 WIB

Rakyat Tiongkok baru saja merayakan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan sekarang waktunya kembali mencermati penyelesaian perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Konflik tersebut telah memasuki akhir permainan. Sungguh, negosiasi berikutnya akan merupakan kesempatan terakhir untuk menyelesaikan pertikaian perdagangan, teknologi, dan isu-isu ekonomi lainnya yang telah mengempaskan ekonomi kedua Negara tersebut.

Kalau kesepakatan gagal dicapai, maka dunia harus segera mempersiapkan diri untuk menghadapi turbulensi ekonomi yang lebih dahsyat dari dampak krisis keuangan global 2008. Amerika dipastikan akan menghadapi resesi, dan ekonomi global akan terbelah menjadi dua kutub besar yang memisahkan antara mereka yang berorientasi ke Tiongkok dan mereka yang pro-AS.

Sehingga ada pembenaran yang semakin meluas bagi konstituen nasionalis di kedua negara tersebut bahwa konflik antara AS dan Tiongkok tak dapat dihindarkan.

Sebagaimana kita ketahui, perang dagang antara AS dan Tiongkok sejauh ini telah melalui empat tahapan. Fase pertama dimulai Maret 2018, ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan ronde pertama pengenaan tarif impor produk-produk

Tiongkok. Fase kedua terjadi di “Argentine reset” pada G20 Summit di Buenos Aires, Desember 2018. Saat itu, Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping mengumumkan bahwa mereka akan merampungkan perjanjian dalam 90 hari. Namun, “gencatan senjata” tersebut berakhir ricuh pada awal Mei 2019, di mana masing-masing negara menuduh bahwa mereka menghendaki perubahan mendasar pada saat draf kesepakatan hampir akan ditandatangani.

Fase ketiga yang dikenal sebagai the summer of our discontent: AS mengenakan tarif impor baru lagi dan Tiongkok membalas menaikkan impor tarif produk AS sambil membantah tuduhan AS tentang perusahaan Tiongkok yang masuk dalam entity list pemerintahan Trump.

Ketika AS mem-blacklist Huawei dan lima perusahaan teknologi Tiongkok, maka dengan puitis Tiongkok menyebut bahwa tindakan tersebut adalah unreliable entities list sambil mengancam Tiongkok akan melakukan hal yang sama untuk perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di Tiongkok.

Memperhatikan perkembangan tersebut, mengapa perundingan ronde berikutnya dipastikan akan berhasil mencapai kesepakatan?

Pertama, ekonomi AS dan Tiongkok sama-sama sedang menghadapi masalah serius. Di AS, memburuknya angka penyerapan tenaga kerja di sektor swasta dan industri pengolahan telah memperkuat pesimisme tentang prospek ekonomi AS ke depan. Kalau kondisinya semakin memburuk, maka akan mempersulit Trump untuk bisa terpilih lagi sebagai presiden AS pada November 2020.

Begitu pula, Presiden Xi posisinya akan semakin lemah secara signifikan menjelang perayaan ulang tahun ke-100 Partai Komunis Tiongkok pada tahun 2021, yang akan menjadi awal dari upayanya untuk masa jabatan ketiga yang sudah kontroversial, yang akan dia mulai tahun 2022.

Masing-masing pihak mengklaim bahwa perang dagang telah merugikan pihak lawan. Tetapi fakta menunjukkan bahwa semua pihak dirugikan dengan perang dagang melalui destabilisasi pasar, menghancurkan kepercayaan bisnis dan mengerdilkan pertumbuhan ekonomi.

Masing-masing pihak juga mengklaim bahwa mereka mempunyai ketahanan ekonomi yang memadai untuk menghadapi perpanjangan perang dagang.

Sebenarnya tidak jelas siapa yang mempunyai argument yang lebih kuat. Memang benar AS kurang tergantung pada perdagangan internasional dibandingkan dengan Tiongkok, karena pangsa ekspor AS terhadap produk domestik bruto (PDB)-nya hanya 12%, sedangkan Tiongkok 19%, dan Uni Eropa 28%.

Tetapi walaupun Tiongkok diperlemah oleh pilihan kebijakan ekonomi yang kurang bagus sebelum perang dagang, negara Tirai Bambu ini masih memiliki fiskal, moneter dan instrumen kredit yang masih kuat untuk mencegah pelambatan ekonomi Tiongkok, dan dipastikan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan dipertahankan di atas 6%. Dan ingat, Tiongkok memiliki cadangan devisa lebih dari US$ 3,5 triliun.

Jadi, kedua pihak memiliki senjata ekonomi yang siap ditembakkan ke kepala lawan. Oleh karena itu, terlepas dari sikap politik, Trump dan Xi sangat menginginkan kesepakatan.

Selain itu, mereka mengharapkan akan terjadi kesepakatan sebelum akhir tahun 2019, untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari kenaikan tarif besar yang saat ini dijadwalkan akan berlaku pada 15 Desember 2019. Mengingat terbatasnya waktu, kedua pihak harus segera mengambil langkah simbolis dan substantive bahwa perang dagang segera berakhir.

Langkah pertama adalah Tiongkok menyodorkan draf perjanjian yang pernah diajukan sebelumnya yang terdiri atas 150 halaman dengan melakukan revisi terhadap klausul tiga red lines yang ditolak oleh AS sebelumnya. Terutama, tentang klausul bahwa AS akan menghapuskan tarif begitu kesepakatan ditandatangani, dan AS dapat mengenakan tarif lagi jika AS menganggap bahwa Tiongkok tidak mematuhi kesepakatan.

Kedua, Tiongkok akan memperbaiki usulan awal tentang pengurangan defisit neraca perdagangan bilateral sebesar US$ 200 miliar. Kesepakatan ini secara ekonomis memang kurang bernalar, tetapi kesepakatan ini penting bagi Trump secara pribadi maupun secara politis.

Ketiga, walaupun Tiongkok sangat ingin menghindar dari pelarangan subsidi negara untuk industri dan perusahaan negara ini, namun Pemerintah Tiongkok harus menjamin klausul tentang proteksi hak kekayaan intelektual dan pelarangan transfer teknologi secara paksa.

Di samping itu, diharapkan masingmasing pihak mendeklarasikan posisi kebijakan industrinya dalam Communiqué resmi bersamaan dengan penandatanganan perjanjian. Pernyataan tersebut dapat memperjelas baik secara domestik maupun internasional suatu mekanisme arbitrase yang akan dipakai untuk menegakkan perjanjian senetral mungkin.

Keempat, kedua pihak harus mampu menciptakan atmosfir politik yang semakin positif. Mingguminggu ini tanda-tanda itu mulai tampak, di antaranya adanya laporan tentang pembelian kedelai AS oleh Tiongkok di bulan September 2019. Walaupun jumlah pembeliannya masih di bawah rata-rata nilai historisnya, ini akan membantu Trump mengurangi kemarahan petani dari basis politiknya. AS sedang menunda kenaikan tarif 5% yang mulanya akan dikenakan pada tanggal 1 Oktober 2019. AS juga dapat saja mengeluarkan pengecualian untuk perusahaan AS menjual input non-sensitive ke Huawei.

Kelima, kedua pihak harus menjadikan Asia-Pacific Economic Cooperation Summit di Santiago pada 14- 16 November sebagai kesempatan terakhir untuk menandatangani kesepakatan. Setelah negosiasi tingkat tinggi antara Chinese Vice Premier Liu He dan US Trade Representative Robert Lighthizer bulan ini, masalah utama seharusnya dapat disetujui di Beijing pada awal November. Jika akhirnya kesepakatan dapat dituntaskan sebelum perayaan Thanksgiving, maka dapat dipastikan iklim usaha dan kepercayaan konsumen AS akan meningkat pada hari raya Natal 2019 nanti.

Saya termasuk salah satu komentator yang meyakini bahwa kesepakatan antara Tiongkok dan AS segera terjadi. Walaupun ada pertikaian geopolitik yang sangat tajam, tetapi antara Trump dan Xi mempunyai kepentingan yang sama, sehingga a deal more likely than not. Namun, adanya proses impeachment terhadap Trump akan menjadi bagian dari berkurangnya probabilitas tersebut.

Kalau Trump semakin lemah posisinya, ia akan semakin keras menekan Tiongkok dan tidak memperhatikan perkembangan ekonomi lagi. Namun demikian, Trump tidak ingin mempertaruhkan AS mengalami resesi tahun 2020, sehingga kesepakatan damai kedua negara adidaya tersebut masih akan sangat mungki Namun demikian, kegagalan mengelola konflik dalam dua bulan kritis mendatang masih dapat menyebabkan seluruh proses menuju kesepakatan akan berujung kegagalan.

Apalagi kedua pihak juga sudah mempersiapkan rencana alternatif untuk tahun 2020: yaitu semakin berkobarnya perang dagang, menguatnya sentimen nasionalis, dan menyalahkan pihak lawan atas akibat kerusakan yang ditimbulkannya.

Kalau rencana alternatif yang akhirnya terjadi, risiko resesi di AS, Eropa, dan Australia akan semakin tinggi, walaupun Tiongkok dapat memperlunak dampak krisis terhadap ekonominya dengan stimulus fiskal, kredit dan moneter.

Pilihan bagi AS dan Tiongkok sudah jelas. Bagi negara-negara lainnya, ongkos pertaruhannya akan semakin tinggi. Karena itu, kita semua berharap kesepakatan antara AS dan Tiongkok dapat segera terwujud, sehingga ekonomi global dapat dipacu lagi demi semakin menyejahterakan penduduknya.

Tri Winarno, Analis Ekonomi Senior

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA