Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fetra Syahbana, Country Manager Nutanix

Fetra Syahbana, Country Manager Nutanix

Data yang Buruk Dapat Merugikan Organisasi Anda

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 11:02 WIB
Fetra Syahbana *)

Pandemi Covid-19 telah mempercepat bangkitnya ekonomi digital, sekaligus mempertegas pentingnya data sebagai aset organisasi yang paling berharga. Semua operasional dan proses bisnis saat ini semakin bergantung dan didorong oleh data.

Baru-baru ini, pemerintah Indonesia juga telah menyatakan bahwa data sebagai sumber daya ekonomi yang jauh lebih berharga dari pada minyak dan gas.

Di berbagai industri, perusahaan- perusahaan juga giat mengembangkan strategi untuk mengidentifikasi, menangkap, dan mengoptimalkan penggunaan data dalam pengambilan keputusan bisnis. Masalah tersembunyi yang dihadapi banyak perusahaan adalah data yang berkualitas sebagai pendukung bisnis.

Sedangkan data yang buruk dapat menciptakan kemunduran bagi penelitian, mengurangi atau menghilangkan daya saing, dan menghambat inovasi. Data buruk artinya adalah data yang tidak benar, tidak lengkap, tidak dapat dipahami, berada di tempat yang salah, tidak relevan, dan kedaluwarsa.

Praktisnya, data yang buruk membuang waktu tim penjualan, mengalihkan perhatian ilmuwan data (data scientist), dan menghabiskan waktu tim Teknologi Informasi (TI) yang harus melakukan sinkronisasi sistem yang tidak dapat berkomunikasi satu sama lain.

Semua itu menyebabkan menurunnya kepercayaan terhadap angka-angka dan berkurangnya pengambilan keputusan dari para eksekutif. Banyak perusahaan kesulitan memastikan akurasi data yang mereka gunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Tidak ada industri atau organisasi yang kebal dan, jika tidak segera diatasi, hal ini akan menjadi masalah yang dapat mengakibatkan kerugian finansial dan hilangnya reputasi.

Data berperan dalam membangun wawasan pelanggan, dapat menjadi penentu naik atau hancurnya sebuah brand, dan memiliki dampak signifikan terhadap bisnis perusahaan.

Sayangnya, banyak perusahaan melaporkan bahwa data yang buruk menjadi hambatan utama dalam meningkatkan pengalaman pelanggan dan sebanyak 69% sudah merasakan dampaknya.

Analisis data buruk dapat menimbulkan kerugian besar bagi bisnis karena wawasan yang tidak akurat akan menyabotase rencana perluasan atau pembelian, beberapa di antaranya bernilai jutaan dolar AS. IBM memperkirakan kualitas data yang buruk membuat ekonomi AS dirugikan US$ 3,1 triliun setiap tahun.

Kondisi itu seiring dengan digitalisasi di berbagai perusahaan, lingkungan data dan informasi mereka menjadi lebih kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa kerugian mungkin akan meningkat jika masalah data yang buruk tidak ditangani secara tepat waktu.

Kurangnya kesadaran tentang perlunya memelihara data terjadi di mana-mana. Jika perusahaan yang paham akan data, seperti Amazon, Google, dan startup lokal GoJek, mereka menggunakan data untuk memetakan dan merumuskan perilaku konsumen agar dapat melayani pelanggan dengan lebih baik.

Namun, sebagian besar perusahaan belum memiliki gambaran yang jelas tentang data mereka. Hampir 60% organisasi tidak mengukur biaya keuangan yang harus ditanggung setiap tahun akibat data yang kualitasnya buruk.

Gartner menyoroti bahwa organisasi-organisasi terkemuka yang digerakkan oleh informasi secara proaktif mengukur nilai aset informasi mereka, serta biaya yang ditanggung akibat kualitas data yang buruk dan nilai dari data yang berkualitas baik.

Hal ini memberikan keuntungan strategis bagi mereka di pasar. Indonesia saat ini sedang dalam proses untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, yang nilainya diproyeksikan mencapai Rp 1,7 kuadriliun atau US$ 124 miliar pada tahun 2025.

Data yang baik akan menjadi pendukung penting bagi negara untuk mempertahankan pertumbuhan dan pemulihan ekonomi yang cepat pascapandemi. Perusahaan-perusahaan perlu menanamkan pola pikir ‘sadar data’ di semua sektor industri penting. Dengan dukungan pemerintahan yang kuat, hal ini seharusnya membuat Indonesia berada dalam posisi yang baik untuk meningkatkan upaya ekonomi digitalnya.

Jadi, langkah apa saja yang dapat dilakukan perusahaan untuk ‘membersihkan’ datanya? Enam hal berikut dapat dilakukan setiap perusahaan untuk memaksimalkan nilai data mereka. Pertama, sentralisasi: Membersihkan himpunan data dari data yang buruk bukanlah tindakan sederhana yang cukup dilakukan satu kali saja; perusaaan-perusahaan harus berpikir jangka panjang.

Mulailah dengan mengabaikan berbagai saluran yang digunakan data yang masuk ke perusahaan, berkonsentrasi lah pada strategi terpusat untuk manajemen data, dan perlahan-lahan memastikan pendeteksian sumber datanya.

Kedua, konsolidasi: Organisasi- organisasi besar memiliki banyak database yang dijalankan oleh departemen berbeda dan sumber-sumber data lain yang tidak mereka sadari. Ini adalah faktor kunci yang semakin parah jika perusahaan tersebut memiliki banyak lokasi cabang. Konsolidasi dan identifikasi database dan repositori informasi meminimalkan terciptanya data yang buruk, sehingga membantu standardisasi data perusahaan.

Pemerintah Indonesia telah menerapkan Kebijakan Satu Data (SDI) untuk melakukan hal ini dengan mengumpulkan data nasional di bawah sebuah sistem yang dapat diakses, terintegrasi dan canggih.

Ketiga, standardisasi: Analisis data Anda untuk memahaminya dengan lebih baik. Alasan paling umum buruknya data perusahaan adalah kurangnya standardisasi dalam proses pengumpulan data.

Menggunakan parameter standar, tidak hanya di dalam perusahaan tetapi juga dengan para pemasok dan mitra, akan membantu memaksimalkan hanya data bersih yang masuk ke perusahaan. Keempat, selidiki:

Cari data yang menguatkan untuk menjadi pedoman dan memahami karakteristik sebuah penyimpangan. Ini memberikan kesempatan untuk memperbaiki anomali dan mengembalikan kualitas data aslinya.

Kelima, hilangkan: Data duplikat adalah penyebab utama ketidakakuratan data dan terjadi sebagai akibat dari adanya beberapa repositori yang disebutkan sebelumnya. Ini kemudian diperparah oleh kesalahan manusia dalam prosesnya.

Manfaatkan proses konsolidasi dalam menghilangkan duplikasi data agar sesuai dengan pedoman standar. Butuh waktu untuk mencapainya tapi hal ini amatlah penting dalam menyediakan akses cepat bagi informasi pelanggan dan meningkatkan kecerdasan bisnis.

Keenam, sterilkan: Platform cloud, khususnya cloud hybrid, menyediakan lingkungan yang ideal untuk membersihkan dan mensterilkan data, dengan dukungan berbagai alat (tool). Ada sebuah konsensus umum yang menyebutkan jika digunakan dengan benar, data dapat membantu mendorong perusahaan, meningkatkan valuasinya, dan sangat bermanfaat bagi bisnis.

Yang jelas, jika tidak ada kesadaran tentang data yang buruk, dampaknya akan buruk bagi reputasi,\ efisiensi dan profitabilitas perusahaan. Ketika sebagai anggota masyarakat kita menjadi lebih bergantung pada data, nilai data tersebut akan meningkat.

Data adalah aset yang memberikan kemungkinan tak terbatas bagi perusahaan jika dikelola dengan baik. Jika tidak, data yang salah kelola dan salah penanganan akan berpotensi menyebabkan penurunan bisnis yang dramatis dan tak terduga.

Di masa depan yang dikendalikan oleh data, mengetahui dampak/ biaya data yang buruk menjadi masalah hidup-matinya setiap perusahaan.

*) Country Manager Nutanix Indonesia

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN