Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Daya Beli Vs Inflasi Musiman

Edy Purwo Saputro, Rabu, 22 Mei 2019 | 02:11 WIB

Berpalinglah sejenak daari hiruk pikuk pesta demokrasi karena Ramadan telah tiba dan tentu ancaman inflasi musiman menyambutnya. Inflasi pra Ramadan pada April 2019 mencapai 0,44% karena pengaruh tiket pesawat 0,03% dan bawang putih 0,04% yang berdampak terhadap inflasi Januari– April 2019 sebesar 0,8%.

Mengapa inflasi musiman selama Ramadan cenderung terus meningkat tiap tahun? Mengapa pemerintah tidak dapat menekan inflasi Ramadan? Mengapa konsumerisme cenderung meningkat setiap Ramadan? Bagaimana daya beli mereduksi konsumerisme?

Semua pertanyaan itu seharusnya menjadi isu pembahasan penting setiap Ramadan, terutama bagi pemerintah dan pihak terkait dalam mengambil langkah taktis mereduksi berbagai kemungkinan terjelek.

Ironisnya, inflasi musiman Ramadan dan Lebaran selalu menjerat daya beli masyarakat. Data BPS menegaskan bahwa inflasi Ramadan Mei 2018 mencapai 0,21% dan laju inflasi Lebaran pada Juni 2018 mencapai 0,59%. Bandingkan dengan inflasi Lebaran 2017 yang mencapai 0,69%, sementara Lebaran 2016 sebesar 0,69% dan pada Lebaran Juli 2014 dan 2015 mencapai 0,93%.

Di satu sisi, lonjakan inflasi musiman selama Ramadan–Lebaran memang menjadi fenomena riil yang tidak bisa lagi ditoleransi berkepanjangan, terutama dikaitkan dengan daya beli yang semakin sekarat.

Di sisi lain, ulah para spekulan dan pemodal besar yang mencari margin dari penimbunan sembako juga tidak pernah ditangani secara tuntas. Oleh karena itu, pembentukan satgas pangan pada Ramadan–Lebaran kemarin terbukti efektif meredam gejolak harga yang terlihat dari laju inflasi terendah dalam 5 tahun terakhir Ramadan–Lebaran pada 2018.

Teoritis

Adanya fenomena inflasi musiman selama Ramadan sampai Idul Fitri, pemerintah juga tidak mau disalahkah begitu saja. Bahkan, setiap menjelang Ramadan, pemerintah telah mengumumkan bahwa stok bahan kebutuhan pokok selama Ramadan-Idul Fitri tersedia dalam jumlah yang aman dan mencukupi.

Stok beras yang selalu membingungkan sudah diatasi sedemikian rupa sehingga kecil kemungkinan terjadi gangguan yang berar ti. Arti penegasan ini tidak lain dimaksudkan agar masyarakat tidak berspekulasi. Meski di sisi lain, fakta menunjukkan bahwa harga cabai sudah naik menjelang Ramadan, termasuk berbagai bahan pokok

lainnya seperti bawang putih, telur, dan minyak goreng curah.

Terlepas dari penegasan pemerintah tentang nilai jaminan ketersediaan bahan kebutuhan pokok yang memadai selama Ramadan-Idul Fitri, yang pasti, lonjakan harga sembako telah terjadi sejak menjelang Ramadan. Bahkan jika ditarik lagi ke belakang, sebenarnya lonjakan harga kebutuhan pokok telah terjadi pada masa kampanye pemilu dan secara kumulatif kenaikannya berkisar 10-15%. Hal ini akan menjadi lebih tinggi lagi menjelang Idul Fitri. Versi pemerintah, bahwa toleransi kenaikan harga yang wajar yaitu 5-10% dan ini memang berimbas pada inflasi musiman, meskipun kenaikannya masih bisa ditoleransi sehingga tidak terlalu mengkhawatirkan terhadap perekonomian.

Lonjakan harga sembako selama Ramadan telah juga dimulai dengan harga beras pada awal triwulan pertama tahun ini. Belum reda kenaikan harga beras, disusul juga lonjakan harga minyak goreng di sejumlah daerah. Hal ini adalah sesuatu yang sangat dramatis, sementara di sisi lain daya beli kian menurun.

Selain itu, harga cabai juga ikutan semakin pedas sehingga muncul kritik tentang kacau balaunya penanganan di semua sektor akibat lambannya sikap pemerintah. Hal ini juga tidak bisa terlepas dari konsentrasi pemerintah terkait pelaksanaan pesta demokrasi, belum lagi dampak bencana dan cuaca ekstrim di sejumlah daerah sehingga mengganggu produksi, panen dan distribusi.

Belum reda kasus kenaikan minyak goreng dan cabai, kemudian disusul kenaikan sejumlah harga komoditas pangan lainnya. Tanpa bermaksud menuding biang kerok kasus inflasi musiman selama Ramadan, pastinya lonjakan harga sembako selama Ramadan memicu dampak sosial-kemasyarakatan. Bahkan, bukannya tidak mungkin jika inflasi musiman ini tidak secepatnya ditangangi bisa memicu ancaman yang lebih kronis.

Fakta ini tentu sangat beralasan sebab statistic kejahatan selama Ramadan selalu meningkat dibanding hari-hari biasanya. Dari berbagai temuan kasus terkait kejahatan selama Ramadan selalu berujung pada upaya untuk pemenuhan di Idul Fitri, yaitu mulai dari kebutuhan pakaian baru sampai kebutuhan aktualisasi diri, sementara kebutuhan sembako kian mendesak.

Merujuk temuan fakta tersebut maka salah satu aspek utama yang harus dipikirkan oleh pemerintah selama Ramadan yaitu stabilitas harga. Bagaimanapun, dalam kondisi kerentanan masyarakat yang hidup di bawah himpitan kemiskinan dan tekanan daya beli, maka jaminan stabilitas harga menjadi sesuatu yang sangat didamba rakyat.

Di sisi lain, wakil rakyat yang diharapkan lebih peduli atas nasib rakyat ternyata kurang responsif. Oleh karena itu, dalam situasi yang demikian, seharusnya wakil rakyat dan pemerintah lebih peduli terhadap nasib rakyat agar rakyat bisa sedikit terhibur di tengah impitan kemiskinan dan isu kesejahteraan yang dilematis.

Inkonsistensi harga pada Ramadan yang memicu inflasi musiman tidak bisa sepenuhnya disalahkan ulah spekulan, tapi masyarakat pun harus disalahkan karena selama Ramadan sangat konsumtif. Bahkan, makin menjamurnya mal dan pusat-pusat perbelanjaan pada akhirnya memicu masyarakat untuk menghabiskan waktu sembari menunggu maghrib di mal dan pusat perbelanjaan.

Padahal, perilaku ini memicu impulse buying (pembelian yang tidak terencana), dan impulse buying yang berkelanjutan bisa memicu inflasi. Beralasan jika agama menghendaki pelaksanaan ibadah Ramadan tidak perlu berlebihan karena hakikat Ramadan adalah menahan hawa nafsu, bukan justru mengumbar nafsu konsumtif yang memicu inflasi musiman Ramadan-Lebaran. Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA