Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
MH Said Abdullah, Ketua Badan Anggaran DPR

MH Said Abdullah, Ketua Badan Anggaran DPR

Disiplin Program Vaksinasi

Selasa, 20 April 2021 | 12:26 WIB
MH Said Abdullah *)

Vaksin dan vaksinasi Covid19 memang bukan “obat sapu jagat” untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Seiring dengan dimulainya program vaksinasi secara global, dunia malah menghadapi kenaikan gelombang kedua kasus harian Covid-19. Bahkan beberapa negara seperti Vietnam dan Selandia Baru berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 tanpa vaksin. Sukses itu ditopang oleh kedisiplinan rakyat dan pemerintahnya dalam menerapkan protokol kesehatan. Namun tidak semua negara bisa seperti Vietnam dan Selandia Baru.

Bahkan Eropa dan Amerika Serikat sebagai negara maju dibuat kelabakan dengan pandemi Covid-19. Pilihan kebijakan yang diandalkan adalah menjalankan program vaksinasi Covid-19 sebagai upaya menekan laju pertumbuhan Covid-19 di negara mereka, meskipun tidak meninggalkan penerapan protokol kesehatan.

Hingga 19 April 2021 sesuai data worldometer.info, virus corona telah menjangkiti 141,9 juta penduduk dunia (1,8% populasi dunia) dan mengakibatkan lebih dari 3 juta di antaranya meninggal (2,1% dari yang positif virus corona). Jika dilihat dari grafik daily case, secara global Covid-19 pada bulan April 2021 ini menunjukkan tren puncak gelombang kedua. Pada 15 April 2021 kasus positif mencapai rekor tertinggi yakni 845 ribu, melampaui puncak kasus pada gelombang pertama di 7 Januari 2021 yang mencapai 843 ribu kasus positif harian.

Di Indonesia sendiri virus corona yang mengakibatkan penyakit Covid-19 hingga 18 April 2021 sesuai data Kemenkes telah menjangkiti 1,6 juta penduduk kita (0,5% populasi dari populasi penduduk kita). Virus ini juga mengakibatkan penduduk Indonesia meninggal sebanyak 43,3 ribu jiwa (2,7% dari total yang positif Covid-19). Kasus positif Covid-19 secara harian di Indonesia hingga 18 April 2021 menunjukkan tren penurunan. Puncak kasus terjadi pada 30 Januari 2021 yang mencapai 14.518 kasus harian. Kita berharap tren penurunan sejak Januari 2021 ini terus bisa kita jaga.

Upaya menjaga tren penurunan kasus positif Covid-19 harian ini dapat berjalan beriringan dengan berbagai program pemulihan ekonomi nasional. Harus kita akui tidak semua sektor bisa sepenuhnya pulih, setidaknya hingga akhir 2020 (data BPS) secara akumulatif tahunan beberapa sektor masih terkontraksi sangat dalam, seperti; angkutan udara -53%, angkutan rel -42,34%, penyedia akomodasi -24,4%, industri alat angkutan -19,86%, pergudangan dan jasa penunjang angkutan -17,61%, perdagangan mobil, sepeda motor, dan reparasinya 14,1%.

Kerja sama Global

Kita berharap Pemerintah Indonesia terus menguatkan kerjasama global dalam menurunkan kasus Covid-19. Kerja sama global itu diperlukan untuk memastikan ketersediaan dan suplai vaksin di berbagai belahan dunia, agar dunia tidak makin menunjukkan ketimpangannya dalam perlindungan manusia terhadap virus corona. Sebab tanpa kerja sama global ini dipastikan akan ada ketimpangan penduduk terhadap program vaksinasi Covid-19. Perusahaan dan negara produsen vaksin terutama negara negara maju akan mendapatkan previlages, sementara negara miskin seperti di Afrika dan sebagian Asia serta Amerika Latin akan menghadapi masalah suplai vaksin.

Ada dua hal penting yang menjadi momen krusial dunia dalam melawan Covid-19. Pertama kecepatan dunia dalam memproduksi vaksin dan vaksinasi berbanding dengan kebutuhan global, Kedua; laju peningkatan kasus Covid-19 serta support system kesehatan antar negara yang berbeda-beda

Mengacu data United Nation pada tahun 2019 sebesar 7,7 miliar, bila dunia hendak memenangkan perang melawan Covid-19, maka setidaknya vaksinasi harus mampu menjangkau 80% populasi penduduk dunia. Artinya vaksinasi Covid-19 harus menjangkau 6,16 miliar penduduk dunia. Bila protokol vaksinasi mengharuskan setiap orang harus menjalani vaksinasi dua kali, maka dibutuhkan 12,32 miliar dosis vaksin Covid-19.

Melihat besarnya dosis kebutuhan vaksin secara global, dan kemampuan dunia memproduksi vaksin tampaknya bukanlah hal yang mudah. Situasi ini berpotensi negara dan perusahaan produsen vaksin lebih memprioritaskan negaranya masing masing. Hingga akhir 2020 otoritas kesehatan dunia dan pemerintah masing masing baru memberikan beberapa vaksin Covid-19 yang lolos uji klinis dan mendapatkan izin edar, diantaranya; Moderna (USA), BionTech (Jerman), Pfizer (USA), Zydus Cadila (India), AstraZeneca (Inggris), RNA (Inggris), AnGes (Jepang), Sinovac (Tiongkok), dan Sputnik (Rusia), sementara ratusan lainnya masih menjalani tahap pengembangan di laboratorium.

Dalam jangka panjang berbagai perusahaan obat mungkin mampu memenuhi suplai vaksin Covid-19 secara global. Masalahnya, Covid-19 berbeda dengan berbagai penyakit lainnya, Covid-19 memiliki daya tular yang cepat, dan rata-rata diatas 2% berdampak kematian. Bukan hanya pada soal kesehatan, akibat pandemi Covid-19 melumpuhkan sendi sendi sosial dan ekonomi dunia.

Oleh sebab itu, menekan laju pertumbuhan covid19 melalui vaksinasi secara cepat menjadi momentum penting. Atas dasar inilah kecepatan waktu dalam produksi dan program vaksinasi Covid-19 menjadi penting sebagai tonggak pemulihan segala hal.

Hindari Kebisingan

Kita saat sedang menjalani program vaksinasi. Data Kemenkes hingga 19 April 2021 dari sasaran vaksinasi sebanyak 181 juta, dan kelompok prioritasnya mencapai 40,3 juta penduduk. Kelompok prioritas meliputi tenaga kesehatan 1,4 juta, petugas publik 17,3 juta dan lansia 21,55 juta. Kelompok prioritas telah menjalani vaksinasi covid tahap 1 mencapai 26,88% dan tahap 2 mencapai 14,71%. Saya memperkirakan setidaknya butuh waktu hingga 2,5 untuk menuntaskan vaksinasi sebanyak 181 juta penduduk. Itupun dengan asumsi ketersediaan vaksin dan tenaga vaksinasinya memadai.

Dengan sasaran vaksinasi 181 juta, maka setidaknya Indonesia membutuhkan vaksin Covid-19 paling sedikit 362 juta dosis. Merujuk keterangan pers Menteri Kesehatan, Indonesia sejauh ini mendapatkan komitmen yang pasti 125 juta dosis dari Sinovac, 50 juta dosis dari AstraZeneca, 50 juta dosis dari Novavac sehingga ada total 225 juta dosis vaksin Covid-19. Artinya kita masih kekurangan suplai vaksin covid19 sedikitnya 137 juta dosis.

Kita harapkan upaya Menteri Kesehatan mendapatkan 108 juta dosis vaksin gratis melalui COVAX Facility oleh The Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI) dapat terwujud. Program ini sangat membantu dalam kebutuhan vaksin nasional, terlebih dengan gratis sehingga membantu meringankan anggaran vaksinasi yang seharusnya kita alokasikan.

Pendeknya, kita masih belum aman terhadap stok vaksin Covid-19 untuk dalam negeri. Kita harapkan program pengadaan vaksin ini tidak terganggu. Kita hindari berbagai hiruk pikuk yang menganggu proses pengadaan vaksin Covid-19 ini. Kita hargai berbagai pihak dalam pengadaan vaksin, atau bahkan pembuatan vaksin, apapun labelnya; baik vaksin nusantara maupun bukan vaksin nusantara.

Yang terpenting proses produksi vaksin harus melalui berbagai ketentuan klinis yang telah ditetapkan oleh BP POM, dan tidak menganggu berbagai komitmen yang telah kita sepakati dengan berbagai pihak terkait pengandaan vaksin untuk Indonesia. Hal ini penting saya tegaskan agar hiruk pikuk kita tentang vaksin nusantara belakangan ini malah kontraproduktif. Kita hindarkan segala politisasi terkait vaksin dan vaksinasinya. Hal ini adalah wilayah scientific, dengan segala protokolnya yang telah baku. Sehingga semua pihak harus patuh terhadap hal itu.

*) Ketua Badan Anggaran DPR RI

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN