Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi.
Pernah meneliti industri pariwisata di Bali dan Jawa Timur. Sumber: Unair

Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi. Pernah meneliti industri pariwisata di Bali dan Jawa Timur. Sumber: Unair

Efek Domino Virus Korona Ancam Industri Pariwisata

Bagong Suyanto *), Senin, 24 Februari 2020 | 23:53 WIB

Perkembangan terbaru wabah Virus Korona Covid-19 belakangan ini memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan. Tidak hanya menginfeksi lebih dari 78.583 kasus dan menewaskan 2.364 orang di seluruh dunia (data per 22 Februari), di pusat penyebaran Virus Korona, Provinsi Hubei, Tiongkok tercatat menewasjan 2.346 orang sejak Desember 2019.

Angka kematian akibat virus ini di luar Tiongkok juga bertambah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengumumkan status darurat global untuk virus yang berasal dari pasar satwa liar illegal di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Berbeda dengan sebelumnya di mana arus wisatawan dari Tiongkok masih ditoleransi berkunjung atau melancong ke berbagai belahan dunia, saat ini sejumlah negara telah menyatakan menutup diri dari kehadiran wisatawan Tiongkok. Rusia, Singapura, Selandia Baru, dan sejumlah negara lain –termasuk Indonesia— dilaporkan telah melakukan moratorium visa bagi wisatawan dari Tiongkok.

Dalam hitung-hitungan Perhimpunan Perhotelan dan Restoran Indonesia (PHRI), kerugian akibat banyak wisatawan Tiongkok yang membatalkan kunjungan ke Indonesia mencapai Rp 2,7 triliun.

Turis Tiongkok yang datang ke Indonesia setiap libur Tahun Baru Imlek sebetulnya rata-rata mencapai 3.000 orang dengan biaya per orang US$ 1.100 setiap hari. Diperkirakan sektor pariwisata Indonesia untuk periode Januari-Februari kehilangan potensi penerimaan hampir Rp 2,7 triliun atau US$ 200 juta.

Efek Domino

Tanda-tanda bahwa dampak wabah Virus Korona makin mencemaskan belakangan ini kian tampak. Virus Korona dinilai lebih berbahaya daripada SARS. National Health Commision (NHC) Tiongkok menyebutkan Virus Korona lebih berbahaya daripada SARS, karena virus ini bisa berpindah ke orang lain meski masih dalam tahap inkubasi.

Menurut laporan, angka korban Virus Korona ini kemungkinan besar akan terus bertambah dan menyebar dalam skala yang lebih luas.

Bagi Indonesia, ketika penyebaran Virus Korona tak kunjung teratasi, maka cepat atau lambat arus wisatawan dari Tiongkok jelas akan berkurang drastis. Selama ini, kita tahu wisatawan dari Tiongkok merupakan turis terbesar nomor tiga yang berkunjung ke Indonesia. Data per November tahun 2019, tercatat jumlah wisatawan asal Tiongkok yang berkunjung ke berbagai daerah tujuan wisata di Indonesia sebanyak 147.500 atau 11,7% dari total wisatawan mancanegara.

Di Yogyakarta, misalnya, wisatawan dari Tiongkok, jumlahnya tercatat termasuk 10 besar wisatawan mancanegara terbanyak setiap tahun. Data Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2018, mencatat wisatawan asal Tiongkok menduduki peringkat ke-6 terbanyak menyambangi Yogyakarta dengan jumlah mencapai 19.197 orang. Jumlah ini mengalami kenaikan 87% dibanding tahun 2017 di mana turis Tiongkok yang berkunjung ke Yogyakarta masih 10.449 orang.

Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi jika penyebaran Virus Korona memicu efek domino terhadap perkembangan sektor pariwisata di Tanah Air. Menurut laporan di media massa, saat ini sudah banyak rencana kunjungan wisatawan asal Tiongkok yang dibatalkan karena tidak adanya penerbangan atau karena kebijakan pemerintah Tiongkok yang membatasi warganya bepergian.

Sejumlah kota di Tiongkok telah dinyatakan tertutup. Masyarakat yang sudah telanjur ada di kota itu dilarang keluar, sementara yang di luar pun dilarang masuk. Sejak 24 Januari 2020, sejumlah daerah tujuan wisata di Tiongkok dinyatakan tertutup –termasuk Kota Terlarang (forbidden city) dan Tembok China.

Tidak mustahil terjadi, ketika penyebaran Virus Korona makin tak terbendung, maka wisatawan dari negara lain pun akan membatalkan kunjungannya karena khawatir menjadi korban Virus Korona. Pada satu titik, kita tentu tidak berharap Indonesia mengalami krisis pariwisata seperti masa krisis moneter, atau seperti Bali di mana kunjungan wisatawannya anjlok drastis pascabom Bali.

Upaya Mengantisipasi

Untuk mengantisipasi agar perkembangan industri pariwisata di Indonesia tidak terkena efek domino penyebaran Virus Korona, berbagai langkah pencegahan sudah barang tentu perlu terus dilakukan. Selain melakukan berbagai langkah teknis, seperti memantau arus kunjungan wisatawan yang berisiko ter tular Virus Korona, memasang deteksi panas di bandara dan pelabuhan, dan lain-lain, yang tak kalah penting adalah bagaimana mempersiapkan exit strategy jangka menengah yang signifikan.

Secara garis besar, beberapa hal yang perlu dikembangkan ke depan menyikapi ancaman penyebaran Virus Korona adalah pertama, para pelaku industri pariwisata sudah tentu perlu terus melakukan perluasan pasar, dan tidak terlalu mengandalkan pada pasar wisatawan dari Tiongkok saja. Sejumlah pasar baru wisatawan, seperti India, Australia, Eropa, dan Asean perlu dijajagi karena merupakan pangsa pasar wisatawan yang signifikan.

Kedua, pemerintah khususnya para pemangku kepentingan perlu mengantisipasi penyebaran hoaks yang berisiko memperparah dampak perkembangan industri pariwisata di Tanah Air. Belajar dari pengalaman penyebaran Virus Korona, kita tahu hoaks-hoaks banyak bermunculan yang tak jarang makin memperkeruh situasi.

Menghadapi penyebaran hoakshoaks yang kontra-produktif seperti ini, tentu dibutuhkan sikap tegas dan soliditas pemerintah dalam memberikan informasi mengenai penyebaran Virus Korona. Jangan sampai terjadi, informasi tentang bahaya Virus Korona berkembang liar, hingga menimbulkan kepanikan yang tidak berbasis data yang akurat.

Ketiga, untuk melakukan counter informasi terhadap berbagai rumor tentang bahaya Virus Korona yang berpotensi merugikan sektor pariwisata di Tanah Air, para pelaku industry pariwisata perlu tetap fokus pada pengembangan daerah tujuan wisata yang mampu menimbulkan kesan mendalam pada benak wisatawan. Ketika pemerintah dan pelaku industry pariwisata berhasil menjamin lingkungan yang sehat dan memastikan bahwa para wisatawan aman dari riiko tertular Virus Korona, maka hal itu justru akan menjadi sarana promosi yang paling efektif untuk menggaet kehadiran wisatawan.

Menutup diri dari kunjungan wisatawan jelas mudah dilakukan, namun akan berisiko membuat persepsi wisatawan mancanagera justru kurang bagus terhadap industri pariwisata di Indonesia. Justru kalau kita mampu membuktikan bahwa berpariwisata ke Indonesia amanaman saja, maka wisatawan pun tak akan ragu-ragu untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata di Indonesia.

*) Guru Besar Sosiologi Ekonomi. Pernah meneliti industry pariwisata di Bali dan Jawa Timur

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN