Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ahmad Mikail Zaini, Ekonom Samuel Sekuritas.

Ahmad Mikail Zaini, Ekonom Samuel Sekuritas.

Ekonomi Indonesia dan Risiko Inflasi Tahun 2021

Selasa, 29 Desember 2020 | 22:17 WIB
Ahmad Fikri Aulia **) ,Ahmad Mikail Zaini *)

Milton Friedman, peraih Nobel ekonomi tahun 1976, pernah berujar, “Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.” Kalimat yang selalu diulang-ulang para ekonom ketika mereka khawatir bahwa proses pencetakan uang oleh pemerintah melalui defisit fiskal serta kebijakan moneter yang agresif akan membawa suatu negara kepada kenaikan harga barang dan jasa yang tak terkendali, yang sering disebut sebagai hyperinflation.

Inflasi tak terkendali amat bu ruk dampaknya terhadap eko nomi suatu negara karena akan menggerus daya beli masyarakat serta nilai tabungan masyarakat, yang pada akhirnya akan menciptakan resesi dan krisis ekonomi. Kekhawatiran Friedman tersebut sepertinya mulai diabaikan kebanyakan ekonom sepuluh tahun terakhir pascakrisis keuangan global tahun 2008.

Kekhawatiran ekonom kala itu akan kemungkinan terjadinya inflasi tak terkendali ketika The Fed memutuskan untuk mendorong masifnya pencetakan uang yang disebut dengan Quantitative Easing (Q.E) ternyata tidak terbukti.

Tidak kurang dari US$ 4 triliun kenaikan neraca The Fed 2009-2016 untuk membantu Amerika Serikat (AS) keluardari great recession ternyata tidak berdampak signifikan terhadap kenaikan harga-harga di AS. Tren inflasi di rata-rata negara-negara berkembang dan maju pun malah cenderung menurun menurut laporan majalah The Economist sepuluh tahun terakhir.

Ada berbagai fenomena yang membuat proyeksi ekonom yang percaya inflasi meleset. Pertama, fenomena globalisasi yang sangat cepat, ditandai dengan dibukanya pasar Tiongkok bagi investor asing dalam jangka panjang telah menekan kenaikan upah buruh di negara-negara maju yang mengakibatkan inflasi dapat terkendali.

Dampak positif dari globalisasi tidak hanya mendorong pasar tenaga kerja yang semakin kompe titif tetapi juga mendorong lahirnya berbagai inovasi terutama inovasi di bidang teknologi informasi (IT) yang menciptakan efisiensi di berbagai sektor ekonomi seperti penjualan retail, traveling, dan tourism.

Peneliti Badan Kebijakan Fiskal (Kemenkeu)
Peneliti Badan Kebijakan Fiskal (Kemenkeu)

Program Q.E The Fed serta tingkat suku bunga yang rendah juga membuat berbagai proyek seperti pengeboran shale oil yang tadinya tidak feasible secara ekonomi karena ongkos produksinya yang mahal, kini dapat dilakukan perusahaan migas dunia, yang pada akhirnya mendorong kejatuhan harga minyak dunia dan menjadi kan AS negara swasembada mi nyak. Aging population atau me nuanya populasi di negara-negara maju juga turut berperan men dorong penurunan permintaan aggregate dalam jangka panjang.

Pandemi Covid-19 di tahun 2020 yang mendorong hampir seluruh negara di dunia mengalami resesi direspons dengan cara-cara yang hampir sama oleh pemerintah dan bank sentral di negara maju dan berkembang, seperti apa yang terjadi di tahun 2008.

Defisit fiskal dinaikkan dan memoneterisasi utang pemerintah oleh bank sentral dengan membeli langsung surat utang pemerintah di pasar primer. Akibatnya, pertumbuhan M2 atau supply uang dalam arti luas naik tajam di berbagai negara tak terkecuali Indonesia.

Rata-rata pertumbuhan M2 Indonesia sebelum pandemi hanya tumbuh 7,0% (year on year/yoy) tiga tahun terkahir. Namun, ketika pandemi terjadi, M2 tumbuh hingga 11% (yoy).

Jika mengacu pada teori Friedman di atas seharusnya inflasi di Indonesia naik tajam, namun yang terjadi inflasi Indonesia justru turun menjadi hanya 1,5% (yoy) kemungkinan di akhir tahun 2020, dari 2,72% (yoy) pada 2019.

Faktor utama yang menyebabkan inflasi rendah ketika supply uang naik kencang adalah jatuhnya perputaran uang (velocity of money) di tahun 2020. Tercatat income velocity of money Indonesia turun dari 2,6 kali di tahun 2019 menjadi 2,3 kali di tahun 2020.

Kekhawatiran besar pun muncul ketika pandemic dapat diatasi dengan vaksin. Lantas apa yang akan terjadi dengan harga- harga barang ketika perputaran uang kembali naik di tengah tingginya pertumbuhan supply uang?

Sejatinya terdapat perbedaan signifikan antara krisis tahun 2020 dengan tahun 2008. Social distancing merupakan faktor yang tidak ada pada krisis 2008. Dampak dari social distancing tersebut kemungkinan telah banyak merusak rantai pasok global tanpa disadari. Contoh, data CIEC menunjukkan dalam dua bulan terakhir ong kos angkut kapal kargo dari dan menuju negara-negara Asia telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Kemungkinan besar dampak dari lockdown yang berkepanjangan di berbagai Negara telah merusak skala ekonomi dari industri tersebut sehingga harga ongkos angkut per kg naik 21% di tahun 2020.

Kedua, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah menunjukkan bahwa indeks harga pangan dunia per November 2020 telah naik 6,5% (yoy) akibat lockdown di sejumlah negara.

Harga beras dunia sempat naik tajam ketika Thailand dan Vietnam membatasi ekspor beras untuk mengamankan ekonomi dalam negerinya. Belum lagi banyak petani dan peternak gulung tikar akibat tidak terserapnya hasil panen mereka karena ja tuhnya permintaan.

Kekhawatiran akan inflasi yang tinggi pascapandemi juga dapat muncul dari fenomena exuberant behavior atau keceriaan yang berlebihan dari perilaku kon sumsi. Konsumsi yang berlebih an dari masyarakat ketika pande mi Covid-19 teratasi di saat produksi barang tidak bisa mengejar konsumsi berlebih tersebut ke mungkinan dapat mendorong kenaikan harga.

Contoh: keinginan masyarakat untuk bepergian pascapandemi diperkirakan akan mengalami kenaikan di saat banyak maskapai penerbangan mengurangi jumlah pegawainya sehingga dapat mendo rong naiknya berbagai harga tiket penerbangan. Fenomena lain yang dapat mendorong inflasi tinggi tahun depan adalah deglobalisasi dan geo politik.

Globalisasi yang selama ini telah menguntungkan perda gangan internasional ternyata memiliki kerentanan ketika menghadapi krisis kesehatan. Hal tersebut membuat banyak negara mulai berorientasi domestik, seperti yang dilakukan Indonesia melalui program food estate.

Selain itu, perang dagang ASTiongkok dan tingginya tensi geopolitik dengan Iran merupakan warisan dari Presiden AS Donald Trump untuk dunia dan merupakan grey rhino di tahun 2021 yang mung kin saja dapat memperburuk inflasi.

Perang dagang telah mengubah keuntungan dari globalisasi yaitu penurunan harga menjadi kenaikan harga barang. Perang antara AS-Iran yang bisa sewaktu- waktu pecah dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia di atas ekspektasi pasar.

Kedua faktor ini kemungkinan belum akan berubah signifikan di bawah kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Dengan risiko yang masih cukup tinggi dari naiknya harga barang di tahun 2021, maka sewajarnya pe merintah harus berhati-hati dalam mengelola defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok 5,7% dari produk domestik bruto (PDB) di tahun 2021.

Menurunkan tingkat korupsi terhadap belanja pemerintah serta mengedepankan skala prioritas terhadap program-progam yang ingin dijalankan merupakan kewajiban tahun depan di tengah risiko inflasi yang mengintai.

Ketahanan pangan lagi-lagi harus diperhatikan dengan mempercepat penambahan luas lahan pertanian, mendorong perbaikan infrastruktur pertanian, membe rikan akses kredit sebesar-besar nya bagi petani pangan dan nelayan. Kebijakan credit guarantee dari pemerintah melalui dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) harus cepat direalisasikan terutama untuk nelayan dan petani kita agar produksi da pat terus ditingkatkan.

Kerja s ma antara petani, nelayan, dan BUMN dapat didorong. BUMN dapat menjadi instrumen pemerintah untuk menyerap produksi hasil pertanian dan perikanan dan membantu mendistribusikannya ke pasar dalam negeri dan luar negeri. Kita berharap kalimat Friedman tersebut tidak kembali sakti tahun depan.

*) Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia,

**) Peneliti Badan Kebijakan Fiskal (Kemenkeu).

Tulisan ini murni pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat tempat penulis bekerja.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN