Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Andreas Hassim, Praktisi dan pengamat perbankan

Andreas Hassim, Praktisi dan pengamat perbankan

Endgame Perbankan Konvensional

Andreas Hassim, Rabu, 19 Juni 2019 | 09:06 WIB

Mungkin kita sudah lupa kapan terakhir pergi ke kantor bank karena kemajuan teknologi telah mentransformasi perilaku kita sehari-hari. Inovasi yang dilakukan Apple, Google, Facebook, Whatsapp, dll telah memengaruhi kebiasaan kita seharihari.

Kini, kemajuan teknologi dimanfaatkan oleh financial technology (fintech) untuk menjawab layanan keuangan yang mengutamakan customer experience dan kenyamanan. Inilah yang terlupakan oleh bank konvensional seiring dengan semakin ketatnya aturan karena sejatinya bisnis bank adalah bisnis kepercayaan yang memiliki dampak sistemik kepada sistem keuangan sebuah negara.

Kehadiran Amazon dalam memberikan kredit kepada mahasiswa (student loan), Facebook dalam digital payment, Alibaba dalam pasar uang digital (money market fund), maupun Wechat dalam transaksi keuangan digital memberi warna baru layanan keuangan yang mengikuti customer journey. Bukan mustahil jika akun bank pertama yang dibuka oleh bayi-bayi yang baru dilahirkan tidak lagi dibuka melalui perbankan konvensional melainkan platform yang disiapkan oleh Google, Facebook ataupun platform fintech lainnya. Pertanyaannya, bagaimana nasib perbankan konvensional ke depan?

Fenomena Bisnis Bank

Fenomena pertama, pertumbuhan bisnis bank sebagaimana industri yang telah mature menunjukkan pertumbuhan yang melambat di beberapa tahun terakhir. Dalam tiga tahun belakangan kredit hanya tumbuh 7,85% year on year (yoy) di tahun 2016, 8,35% yoy di tahun 2017 dan 12,05% yoy di tahun 2018. Hal ini juga diikuti Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dalam tiga tahun terakhir hanya tumbuh single digit yakni, 9,60% yoy di tahun 2016, 9,36% yoy di tahun 2017 dan 6,45% yoy di tahun 2018. Sementara itu, kredit pada triwulan I-2019 tumbuh 11,73% yoy dan DPK di level 7,18% yoy tentunya mendorong ketatnya likuiditas bank dengan pertumbuhan DPK di bawah pertumbuhan kredit.

Fenomena kedua, bank tidak lagi dapat hanya menawarkan produk-produk dasar generik berupa tabungan, giro atau deposito. Produk-produk ini dengan mudah tersubstitusi oleh layanan fintech yang bersifat shadow banking atau membayangi bisnis bank konvensional. Lebih dari itu, produk dasar (tabungan, giro, deposito, kredit, transaksi, dll) seperti halnya barang konsumsi (consumer good) yakni sabun, pasta gigi, shampoo, dll menjadi barang yang sudah sangat umum dan dikenal masyarakat.

Dua fenomena tadi sejalan dengan analisis yang dilakukan McKinsey&Company berjudul “Rewriting the rukes: Succeeding in the retail banking landscape.” Dalam analisisnya disampaikan empat perubahan yang membentuk perbankan ritel ke depan. Pertama, jumlah saluran distribusi (distribution channel) dengan pertumbuhan bisnis sudah tidak sejalan.

Dalam satu dekade terakhir simpanan di 25 bank terbesar di Amerika Serikat naik dua kali lipat, sedangkan jumlah saluran distribusi justru turun 15%. Kehadiran digital banking membuka peluang bank untuk melakukan akuisisi bisnis dengan lebih efisien. Namun demikian, langkah ini pun dilakukan hati-hati berbasis data untuk memastikan kesiapan pasar sekaligus analisis data terhadap perilaku nasabah termasuk siapa dan apa saja yang dilakukan nasabah ketika datang ke kantor bank.

Kedua, customer experience adalah kunci dalam pertumbuhan bisnis. Dalam memberikan customer experience positif, bank tidak cukup hanya menjadi baik saja tapi harus menjadi luar biasa dibandingkan kompetitornya. Oleh karena itu, bank perlu mempelajari customer journey bahkan menganalisis bagian-bagian dalam customer journey yang menjadi prioritas para nasabahnya. Misalnya apa yang menjadi prioritas nasabah dalam membuka akun simpanan, mulai dari kemudahan men-download aplikasi, mempelajari fitur produk, mengisi aplikasi, mengaktifkan akun, sampai melakukan transaksi.

Ketiga, skala ekonomi bank menjadi penentu dalam produktivitas dan efisiensi. Data perbankan lintas Negara menunjukkan bank-bank besar memiliki cost to income ratio yang lebih baik.

Keempat, pemisahan penjualan produk. Di tengah penurunan customer loyalty, para nasabah cenderung memiliki beberapa akun pada beberapa bank. Seseorang dapat memiliki KPR dari bank A dan memiliki kredit konsumtif lainnya dari bank B. Masing-masing bank cenderung focus pada segmen yang menghasilkan profit yang baik sesuai spesialisasinya.

Perlu Langkah Strategis

Sebagai respons terhadap fenomena layanan keuangan modern, setidaknya penulis mencatat dua hal untuk disikapi perbankan konvensional. Pertama, keahlian yang dibutuhkan para banker modern akan bergeser kepada programming dan data analisis (data analytic) untuk mendukung proses penciptaan produk (design thinking & product development) yang dibutuhkan oleh pasar.

Kedua, menciptakan customer experience positif dengan bank menawarkan solusi produk (bank as a service) yang terhubung dengan aktivitas keseharian, baik sebagai individu yang beraktivitas konsumtif maupun dalam beraktivitas melakukan pekerjaan (bank as a platform). Tidak berhenti di sana tapi bank harus mampu menciptakan suatu ekosistem (bank as an ecosystem) yang terhubung satu sama lainnya sehingga produk/solusi keuangan dapat menyatu (seamless) dengan banyak pihak secara komprehensif. Inovasi produk dibutuhkan untuk membuka diri seluas-luasnya dengan pelaku-pelaku di ekosistem, baik konsumen secara individu, pedagang ritel (merchant retailer), layanan public (public service), produsen produk dan jasa, dll.

Secara konkret, bank harus membuka diri seluas-luasnya kepada setiap pelaku di ekosistem dengan membuka Application Programming Interface (API). Tak ketinggalan pada segmen korporasi, bank harus memanfaatkan teknologi informasi yang komprehensif dalam menjawab kebutuhan operasional perusahaan. Proses operasional mulai dari sisi suplai, produksi, distribusi, dll harus mampu dijawab dengan layanan terintegrasi. Lebih dari itu, korporasi atau lembaga yang memiliki value chain atau turunan bisnis yang luas menjadi sasaran utama untuk menarik lebih banyak lagi bisnis.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi merupakan keniscayaan sehingga memerangi perubahan dengan tetap mempertahankan pola pikir lama justru akan mempercepat kejatuhan. Sebaliknya, menyesuaikan diri dengan perubahan serta berkolaborasi memanfaatkannya menjadi pilihan bijak untuk dapat terus eksis bahkan menjadi pemimpin dalam bisnis. Bank konvensional perlu bertransformasi menjadi bank modern yang mampu berkolaborasi membangun ekosistem bisnis modern.

Hari ini, di Indonesia sendiri layanan seperti Gopay, Grabpay, Dana, dan lainnya mampu menawarkan kemudahan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder. Tanpa sadar mereka sedang menjaring transaksi keuangan secara masif sekaligus dana berbiaya murah dengan jutaan “agen bank” berupa pengemudi ojek online, warung digital, dll.

Tentunya, situasi ini tak terelakkan sehingga kolaborasi menjadi kata kuncinya. Penulis teringat katakata bijak Direktur Utama BRI Suprajarto, yang mengatakan, “Banyak perusahaan berakhir bukan karena tidak mau bertransformasi, melainkan terlambat melakukan transformasi.”

Mungkin bisnis bank konvensional akan menjadi akhir cerita, namun bisnis bank modern tak akan lekang oleh waktu. Selama masih ada peradaban manusia, maka layanan keuangan tentunya akan terus ada dan menjadi kebutuhan.

Andreas Hassim, Praktisi dan pengamat perbankan

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN