Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan
Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

FDI dan Current Account Deficit

Senin, 9 Agustus 2021 | 23:30 WIB
Fauzi Aziz

Penulis semula berasumsi bahwa hadirnya investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) akan berkontribusi besar dalam menekan neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Ternyata tidak sepenuhnya seperti itu.

Mengapa penulis berpendapat demikian? Alasannya karena mereka datang untuk merebut pasar dalam negeri. Pada umumnya mereka datang dengan satu strategi bahwa menguasai pasar dalam negeri yang populasinya besar adalah menjadi bagian strategi ekspor mereka. Mereka datang membawa modal, teknologi dan mesin peralatan, bahan baku serta tenaga kerja. Ini semua sejatinya adalah komponen impor. Kebebasan ini mereka nikmati karena kebijakan investasi Indonesia bersifat terbuka. Bahkan rezim devisa bebas sudah diberlakukan sejak tahun 1982.

Kok sebegitunya punya pendapat seperti itu? Beberapa alasannya. Pertama, hingga kini Indonesia masih dipandang sebagai salah satu pivotal state yang memiliki pasar dalam negeri yang cukup besar dan sumber komoditas penting untuk dunia, seperti batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dsb. Kedua, ekspor hanya menyumbang 21% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan industri pengolahan non migas juga hanya menyumbang sekitar 19% terhadap PDB.

Ketiga, kontribusi Indonesia dalam global value chain juga belum optimal sehingga berakibat secara keseluruhan industri pengolahan non migas hidup di bawah tekanan berat untuk tumbuh. Efisiensi skala produksinya cenderung tidak optimal karena pertumbuhannya mengalami tekanan berat.

Investasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi harus diakui penting. Tapi jika investasi tersebut hanya berkontribusi terhadap pelebaran CAD, maka kebijakan investasinya perlu dikoreksi. Langkah ini penting karena apalah artinya PDB ekonomi tumbuh bila hanya sekitar 21% produksi barang dan jasa yang diekspor. Ini bisa disebut sebuah "kerugian" nasional karena waktu mengundang FDI masuk, mereka sudah menikmati insentif dari pemerintah dalam bentuk pembebasan atau keringanan pajak dan bea masuk. Expected return and profit yang diperoleh tidak cukup memberikan kontribusi terhadap pendapatan devisa, tapi malah lebih banyak boros menggunakan cadangan devisa untuk impor bahan baku/penolong dan komponen untuk mendukung produksi. Tidak hanya itu, tiap tahun mereka masih melakukan transfer keuntungan dan dividen ke negara asalnya, serta nyaris tidak ada dana yang di re-investasi.

Bagi pemerintah, pertumbuhan ekonomi adalah sesuatu yang diharapkan. Tapi harapan itu tentu tidak sekadar tumbuh. Tiga hal yang paling diharapkan, yakni konsumsi tumbuh, investasi tumbuh dan ekspor juga tumbuh. Berkaca dari kinerja ekonomi tahun 2020, tercatat bahwa pertumbuhan ekonomi tumbuh minus 2,07% akibat pandemi Covid-19 belum berlalu. Konsumsi rumah tangga tumbuh minus 2,63%, investasi fisik minus 4,96%, ekspor minus 7,70%, dan impor minus 14,71%. Hingga kuartal I-2021 masih tumbuh negatif meskipun di bawah 1%. Ekspektasi pemerintah pada kuartal II tahun ini akan terjadi kurva “V”, di mana ekonomi diharapkan tumbuh 7%. Bisa tumbuh seperti tahun 2019 saja sudah baik yakni 5,02%, di mana konsumsi rumah tangga masih bisa tumbuh 5,04%, investasi fisik 4,45%, tapi ekspornya minus 0,86%, dan impor minus 7,39%. Industri pengolahan tumbuh 3,80%.

Kurva “V” merupakan lompatan hebat bila hal itu menjadi kenyataan. Berarti mesin pendorongnya bertenaga besar. Yang bertenaga besar biasanya hanya konsumsi, investasi, dan ekspor neto (XN). Belanja pemerintah melalui APBN tidak banyak bisa diharapkan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Banyak pihak yang tidak percaya dengan prediksi tersebut. Tapi, ternyata hasilnya benar.

Dapat dicatat bahwa antara tahun 2011 hingga tahun 2019 saja ekonomi hanya tumbuh rata-rata 5% per tahun. Paling tinggi terjadi tahun 2011, yakni sebesar 6,17%. Setelah itu melandai rata-rata 5% , yang kemudian menjadi minus 2,07% tahun 2020.

Menjadi harapan kita bersama bahwa setiap investasi langsung, baik PMDN/PMA, produksi yang dihasilkan harus memberi kontribusi besar terhadap rasio ekspor terhadap PDB minimal rata -rata 60% per tahun. Begitu pula dengan sumbangan produksi terhadap konsumsi dan investasi dalam negeri dan belanja pemerintah harus juga optimal, minimal bisa mencapai angka 70%.

Situasi ini akan memberi insentif pada pertumbuhan sektor industri penghasil barang dan jasa, kontribusi terhadap PDB, sehingga efisiensi skala produksi di sektor industrinya optimal, income dan profitabilitasnya meningkat. Kondisi makro yang harus kita capai diupayakan ke arah itu, meskipun tantangannya tidak ringan. Kinerja makro yang ideal tentu akan membantu penguatan neraca dunia usaha yang berarti bahwa secara at company level fundamental bisnisnya kuat.

Hal ini juga menjadi insentif bagi perusahaan industri yang melantai di bursa saham, baik yang akan melakukan IPO maupun rights issue. Perusahaan -perusahaan industri yang fundamental bisnisnya kuat patut diperhatikan untuk menjadi dasar bagi pilihan investor maupun calon mitra strategis untuk melakukan kolaborasi dan aliansi.

Paradigma baru FDI adalah mencari partner lokal yang fundamental bisnisnya kuat untuk dijadikan mitra strategis. Upaya ini seyogianya dapat diwujudkan pula di kawasan Asean, kerja sama ekonomi dalam rangka RECP dan kerja sama-kerja sama bilateral.

Kesimpulannya adalah investasi PMDN/PMA ke depan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi, tapi harus menyumbang ekspor neto minimal 60% terhadap PDB. Jika tidak, investasi yang tumbuh hanya akan menjadi beban bagi ekonomi nasional. CAD adalah masalah kita, dan merupakan fenomena sektor riil. CAD Indonesia berfluktuasi sejak 2014 hingga kini, berada pada kisaran 2-3% terhadap PDB. Saat terjadi CAD, maka devisa yang keluar lebih besar dari yang masuk. Setiap terjadi CAD, sumbangan terbesar selalu dari pendapatan primer yang diperoleh PMA yang dibawa ke luar. Defisit pada pos pendapatan primer ini yang sulit diredam akibat Indonesia menjalankan rezim devisa bebas.

CAD selama ini ditutup/ditambal dengan transaksi finansial agar Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) bisa ke arah positif atau setidaknya defisit NPI tidak terlalu dalam. Jadi peran neraca transaksi berjalan sangat penting dan fundamental bagi penguatan struktur ekonomi nasional. Pada akhirnya semua itu berpulang pada persoalan manajemen kebijakan investasi, industri dan perdagangan sebagai primery policy untuk menggerakkan perekonomian nasional. Sekali lagi harus in the one direction. Policy investasinya adalah FDI menjadi bagian solusi CAD. Sesuai amanat UU nomor 3/2014, kerja sama internasional di bidang industri harus ditujukan untuk meningkatkan ekspor dan kontribusi pada global value chain. Delapan puluh persen Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang ditempatkan di dalam negeri sebaiknya sebagian dapat dipakai untuk tujuan investasi orientasi ekspor dan membangun industri substitusi impor. Ini penting karena CAD adalah fenomena sektor riil. DHE yang dipakai untuk investasi diberikan suku bunga rendah dan ketika dikonversi menjadi investasi tidak dikenakan witholding tax dan dan bebas PPN selama 10 tahun.

Hal lain bahwa sumber masalah CAD adalah transaksi e-commerce. Data BI tahun 2017 mencatat bahwa transaksi market place di Indonesia mencapai Rp 75 triliun, yang diprediksi akan terus meningkat tiap tahunnya bisa mencapai ratusan triliun. Pada tahun 2017 jumlah pembelinya 24,7 juta. 80% berupa produk impor dan 20% produk lokal/dalam negeri.

Catatan penulis, pada tahun 2018 PDB industri sebesar Rp 2.947,3 triliun menyumbang kebutuhan belanja konsumsi rumah tangga hanya sekitar 30%. Ini menjadi tantangan bagi pelaksanaan progam P3DN. Membangun industri bukan sekadar mendirikan pabrik. Lebih dari itu adalah membangun portofolio industri dan bisnis, serta didorong untuk menjadi pemimpin pasar. Salam sehat.

 

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN