Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

FDI dan Pengawasan Perbankan

Achmad Deni Daruri *), Rabu, 29 April 2020 | 23:38 WIB

Di era resesi atau bahkan depresi yang akan menghantam perekonomian dunia saat ini maka perekonomian Indonesia harus segera menangkap peluang investasi dari penanaman modal asing.

Baltabaev dalam penelitiannya membuktikan pengaruh positif dari penaman modal asing (FDI) terhadap daya saing perekonomian yang riil (baca: total factor productivity).

Penanaman modal asing (FDI) merupakan bentuk investasi yang efek bersihnya adalah positif bagi perekonomian. Dari sisimakroekonomi, peningkatan penanaman modal asing memberikandampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan perolehan devisa.

Hal tersebut dapat dilihat dari kinerja perekonomian yang mengandalkan penanaman modal asing, seperti Vietnam yang pertumbuhan ekonominya dalam beberapa tahun terakhir jauh di atas Indonesia. Juga Singapura yang perekonomiannya sudah dapat dikatakan sekelas negara- negara maju karena kontribusi penanaman modal asing yang relatif besar.

Penanaman modal asing juga cenderung meningkatkan ekspor karena mereka memiliki jaringan ekspor di pasar dunia. Penanaman modal asing di Vietnam menyumbangkan devisa ekspor yang sangat besar. Bukan hanya itu, penanaman modal asing juga membawa teknologi tinggi. Tidak mengherankanjika basis teknologi tinggi semakin kerasan untuk menetap di Vietnam.

Perusahaan seperti Apple membangun pusat data di Vietnam dengan nilai investasi miliaran dolar Amerika. Lantas bagaimana efeknya terhadap pengawasan perbankan? Vietnam sebagai negara yang baru saja berkenalan dengan kapitalisme tampaknya sangat terbantu oleh kedatangan penanaman modal asing, bukan hanya untuk menopang pertumbuhan ekonomi tetapi juga untuk memfasilitasi pengawasan perbankannya.

Dengan adanya penanaman modal asingmaka kalaupun ada peningkatan pertumbuhan kredit perbankan di Vietnam, dipastikan pertumbuhan kredit itu akan berjalan secara sehat.

Penanaman modal asing sebagai komplemen dari peningkatan pertumbuhan kredit bersifat Leontief production function sehingga ada efek penularan positif dari investasi penanaman modal asing terhadap pertumbuhan kredit perbankan lokal.

Perbankan lokal mendapatkan kegiatan bisnis yang telah terseleksi secara internasional. Perusahaan seperti Apple dalam memutuskan berinvestasi di manapun selalu mempertimbangkan keputusan tersebut secara good corporate governance sehingga investasi pusat data di Vietnam akan menimbulkan efek ganda positif dalam perekonomian yang pada gilirannya diikuti oleh pertumbuhan kredit di dalam negeri.

Bukan hanya itu, bisnis yang sehat yang dibangun oleh penanaman modal asing juga akan menulari model-model bisnis lainnya di dalam negeri sehingga memudahkan pengawasan perbankan. Risiko sistemik dari pengawasan perbankan menjadi rendah. Vietnam bukan saja merupakan satu-satunya contoh di Asia Tenggara, namun juga ada Singapura.

Kedatangan penanaman modal asing di Singapura termasuk di sektor perbankan justru meningkatkan daya saing perbankan di Singapura. Perbankan di Singapura merupakan perbankan yang paling unggul di Asia Tenggara.

Memang hal ini bukan saja karena kontribusi penanaman modal asing namun juga pemerintah Singapura dan pengawas perbankan di Singapura yang semenjak tahun 1980-an menggunakan pendekatan total factor productivity dalam mengevaluasi perekonomian dan sektor  keuangan di Singapura. Bahkan Singapura mengirimkan warga negaranya yang kebetulan seorang wanita untuk kuliah total factor productivity di Harvard University hingga ia mendapatkan gelar doktornya.

Dengan demikian, kombinasi antara penanaman modal asing dan implementasi analisis total factor productivity telah membuat perbankan Singapura semakin unggul dibandingkan para pesaingnya. Secara konseptual, produktivitas faktor total mengacu pada seberapa efisien dan intens input digunakan dalam proses produksi. Total factor productivity (TFP) kadang-kadang disebut sebagai “produktivitas multi-faktor”, dan berdasarkan asumsi tertentu, dapat dianggap sebagai ukuran tingkat teknologi atau pengetahuan.

Tidaklah mengherankan tingkat total factor productivity yang tinggi berkorelasi positif dengan semakin besarnya penanaman modal asing, yang pada gilirannya menyebabkan kualitas perbankan di dalam negeri juga semakin baik di mana mereka juga memiliki nilai total factor productivity yang lebih tinggi ketimbang pesaingnya di negaranegara lain.

Dengan tingginya nilai total factor productivity perbankan maka pengawasan perbankan telah berjalan dengan sendirinya karena perekonomian termasuk perbankan dan juga pengawas perbankan memilikitingkat teknologi yang tinggi dalam bentuk produktivitas multifaktor.

Dengan pendekatan total factor productivity, pengukuran dampak lingkungan hidup yang tidak terekam dalam neraca perusahaan telah terekam dalam analisi stotal factor productivity tersebut sebagai bagian dari produktivitas multifaktor.

Total faktor produktivitas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti teknologi, ekonomi, lingkungan hidup dan budaya. Inovasi, investasi di sektor yang lebih produktif, dan kebijakan ekonomi yang ditujukan untuk liberalisasi dan persaingan, semuanya mendorong perbaikan total factor productivity.

Ketika pemerintah negara lain masih berkutat pada satu produktivitas seperti produktivitas tenaga kerja atau produktivitas modal atau produktivitas lingkungan hidup (baca: karbon emisi), pemerintah Singapura telah menggunakan konsep produktivitas yang lebih sempurna, yaitu total factor productivity yang telah mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam perhitungan produktivitasnya.

Tidaklah mengherankan berkali-kali dunia termasuk Asia dihantam krisis keuangan, namun perbankan Singapura tetap berdiri kokoh dengan daya saing tinggi. Total faktor produktivitas adalah seberapa produktif modal, lingkungan hidup dan tenaga kerja secara bersama-sama, sedangkan produktivitas tenaga kerja hanyalah seberapa produktif tenaga kerja.

Berbeda dengan Singapura, sektor keuangan negara lain masih mengandalkan perhitungan pruduktivitas berdasarkan produktivitas tenaga kerja saja sehingga analisis daya saing perbankannya sangat dangkal.

Baltabaev mengingatkan kita semua bahwa penanaman modal asing secara nyata membuat Negara yang ditempatinya mendapatkan transfer teknologi yang berdampak positif bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Bukti lainnya dapat dilihat dari negara-negara yang penanaman modal asingnya besar secara relatif mampu menjinakkan virus corona di negaranya seperti Singapura dan Vietnam dengan korban meninggal yang relatif kecil dibandingkan Indonesia.

*) President Director Center for Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN