Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sharon Gracia Simampo, Komisaris PT Ciptadana Multifinance

Sharon Gracia Simampo, Komisaris PT Ciptadana Multifinance

Fintech, Peluang Baru bagi Perusahaan Pembiayaan

Sharon Gracia Simampo, Jumat, 20 September 2019 | 11:32 WIB

Industri finansial teknologi (fintech) berbasis peer to peer (P2P) lending atau fintech pendanaan online di Indonesia telah berkembang pesat dalam dua-tiga tahun terakhir. Pada awal tahun 2018, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total penyaluran pinjaman fintech baru sebesar Rp 3 triliun. Pada Mei 2019 sudah meningkat hingga mencapai Rp 41 triliun, di mana Rp 18 triliun di antaranya disalurkan pada rentang waktu Januari-Mei 2019.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memproyeksikan penyaluran pinjaman dapat mencapai Rp 40 triliun sepanjang tahun 2019, suatu angka yang sangat mungkin untuk terlampaui. Outstanding pinjaman fintech telah mencapai Rp 8,3 triliun per Mei 2019. Sedangkan perusahaan pembiayaan, yang diketahui sudah mulai tumbuh di Indonesia pada tahun 1974, saat ini sudah memiliki outstanding pembiayaan senilai Rp 450 triliun.

Perkembangan pesat dari fintech lending sejauh ini tidak menjadi ancaman bagi perusahaan pembiayaan. Fintech dan perusahaan pembiayaan memiliki segmen pasar masing-masing dan hampir tidak ada kompetisi langsung di antara keduanya. Perusahaan pembiayaan menyentuh sektor pembiayaan dalam jumlah yang relatif besar, jangka waktu lama, dan sektor-sektor pembiayaan yang sudah menjadi pangsa pasar tetap seperti otomotif dan businessto- business (B2B).

Sementara itu, fintech lending dapat memberikan pinjaman dalam jumlah kecil kepada nasabah yang pada umumnya tidak memiliki jaminan. Namun, pembayaran umumnya dilakukan dalam jangka pendek dengan bunga yang tinggi.

Perkembangan fintech yang cukup pesat justru dapat menjadi peluang baru bagi perusahaan pembiayaan konvensional, di mana perusahaan pembiayaan dapat menjadi mitra bagi perusahaanperusahaan fintech. Fintech dan perusahaan pembiayaan konvensional memiliki kelebihan masing-masing. Perusahaan pembiayaan memiliki akses pendanaan dan infrastruktur penagihan yang solid dan telah teruji untuk dapat bertahan melalui naik turunnya siklus ekonomi.

Sementara itu, fintech memiliki kemudahan dari sisi penetrasi produk dan big data. Kerja sama antarkeduanya dapat meningkatkan potensi bisnis kedua pihak. Bagi perusahaan pembiayaan, potensi kredit akan menjadi lebih besar dengan bantuan penetrasi melalui cara-cara baru dari perusahaan fintech.

Bagi perusahaan fintech, keberadaan multifinance yang telah memiliki infrastruktur juga dapat mempercepat perluasan pasar ke daerah-daerah selain Pulau Jawa dengan struktur penagihan yang lebih baik.

Sebagaimana diketahui, perkembangan P2P lending banyak terfokus di Pulau Jawa, di mana akumulasi penyaluran sampai dengan Mei 2019 mencapai Rp 35 triliun, sementara di luar Pulau Jawa hanya sebesar Rp 6 triliun. Melihat potensi manfaat dari kolaborasi tersebut, OJK telah menerbitkan peraturan baru bagi industri multifinance, yakni POJK Nomor 35/ POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan, yang ditetapkan pada 27 Desember 2018.

Dalam peraturan tersebut, perusahaan multifinance dapat bekerja sama dengan pihak lain melalui pembiayaan penerusan (channeling) atau pembiayaan bersama (joint financing). Pihak lain tersebut adalah bank, perusahaan pembiayaan sekunder perumahan, lembaga keuangan mikro, perusahaan multifinance, perusahaan fintech, perusahaan modal ventura, yang telah memperoleh izin usaha dan terdaftar di OJK.

Dalam channeling, perusahaan pembiayaan hanya bertindak sebagai pengelola dan memperoleh imbalan dari hasil pengelolaan dana tersebut. Sementara untuk joint financing, perusahaan pembiayaan dapat memperoleh sumber dana bersama dengan pihak lain.

Dengan adanya mekanisme pembiayaan channeling, perusahaan fintech dapat mengikuti prinsip underwriting credit yang sudah dilakukan oleh perusahaan pembiayaan, sehingga mitigasi risiko dapat tetap dilakukan dengan baik. Sedangkan adanya cara-cara baru seperti pemprosesan digital dapat menolong efisiensi proses dan penentuan suku bunga yang lebih sesuai dengan risiko kredit setiap nasabah.

Dari sisi pengawasan, multifinance wajib bekerja sama dengan fintech yang telah mengantongi tanda terdaftar dan izin dari OJK. Nantinya akan ada proses duplikasi database fintech ke OJK dengan tujuan untuk mengawasi kinerja multifinance.

Selain itu, saat ini fintech sedang mempersiapkan diri untuk turut melaporkan data dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), dengan demikian kerja sama antara perusahaan pembiayaan dan fintech juga akan lebih terjamin.

Dengan adanya kerja sama yang baik antara perusahaan pembiayaan dan fintech, tidak hanya kedua industri yang diuntungkan, namun masyarakat juga turut diuntungkan dengan semakin cepat terbukanya akses-akses pembiayaan baru. Dengan demikian diharapkan cita-cita financial inclusion yang telah menjadi visi jangka panjang bersama dapat semakin cepat terwujud.

Sharon Gracia Simampo, Komisaris PT Ciptadana Multifinance

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA