Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Osbal Saragi, Praktisi Perbankan

Osbal Saragi, Praktisi Perbankan

Generasi Milenial dan Masa Keemasan

Osbal Saragi, Rabu, 20 November 2019 | 11:12 WIB

Belum lama ini, kita menyaksikan dan mendengarkan pidato pertama Presiden RI Joko Widodo dalam rangka pelantikan presiden dan wakil presiden RI periode 2019-2024 di Gedung Parlemen DPR/MPR.

Secara tegas dan gampang dicerna isi dan pesan strategis dari presiden yang telah menetapkan aspirasi dan target yang akan dicapai Republik ini hingga sampai tahun 2045, kurun waktu satu abad Indonesia merdeka.

Hal yang menjadi fokus arahan visi dan misi Presiden Jokowi adalah menjadikan Indonesia negara kuat dan hebat yang masuk dalam lima negara ekonomi terbesar di dunia, yang ditandai dengan produk domestik bruto (PDB) mencapai US$ 7 triliun, pendapatan per kapita yang naik menjadi Rp 320 juta/kapita/tahun atau Rp 27 juta/kapita/bulan, serta tingkat kemiskinan mendekati 0%.

Aspirasi ini dapat diartikan Indonesia mampu keluar dari negara berpenghasilan menengah menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Sebenarnya, pada tahun 2017, konsultan keuangan PricewaterhouseCoopers dalam laporannya berjudul The Long View, How will the global economic order change by 2050, telah meramalkan Indonesia pada tahun 2050 akan menjadi negara berkekuatan ekonomi terbesar keempat dilihat dari produk domestik bruto hasil perhitungan keseimbangan kemampuan berbelanja atau dikenal dengan istilah purchasing power parity.

Sebelumnya lagi, McKinsey&Co, konsultan manajemen bergengsi dari Amerika Serikat, dalam laporannya berjudul The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential, pada tahun 2012 lalu meramalkan Indonesia tahun 2030 akan menjadi kekuatan ekonomi ketujuh, jika mampu mengangkat produktivitas ekonominya.

Dua laporan ilmiah ini mengartikan bahwa aspirasi presiden merupakan sesuatu yang dapat dicapai jika segenap bangsa ini memiliki komitmen untuk menggapai impian besar ini.

Bonus demografi ditengarai sebagai faktor utama yang akan mendorong Indonesia mencapai masa keemasan. Lebih dari itu, generasi milenial, yakni kelompok demografi yang lahir di awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an akan mengambil peran penting dalam perjalanan menuju aspirasi tadi.

Pada rentang saat ini hingga tahun 2045, generasi milenial berada pada masa yang tepat (dalam usia produktif) sehingga akan menjadi tulang punggung bangsa ini.

Selain itu, dominasi generasi milenial yang diperkirakan mencapai 31% dari penduduk Indonesia atau hampir 87 juta orang (lebih besar dari jumlah penduduk Thailand, Myanmar, Malaysia, dll) akan menjadi kekuatan tersendiri untuk mampu bersaing. Oleh karena itu, tak keliru jika saat ini, pemerintah sangat peduli dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi generasi milenial untuk ambil bagian dalam posisi-posisi penting di Republik ini sebagai langkah mempersiapkan generasi yang tangguh untuk mewujudkan mimpi sebagai negara berpendapatan tinggi di 2045.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita cermati dalam mempersiapkan generasi milenial yang tangguh. Pertama, kreativitas. Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat dan pertukaran informasi yang sangat mudah, harihari ini model bisnis lama perlahan tapi pasti mulai tenggelam dan digantikan oleh model bisnis baru.

Merespons hal ini, perlu dipicu kreativitas para generasi milenial untuk keluar dari pakem yang ada (out of the box) dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka mengemukakan pendapat sekaligus dukungan dalam mewujudkan gagasannya.

Oleh sebab itu, dibutuhkan pemimpin yang berpikiran terbuka (open mind) untuk mampu mengelola kreativitas para generasi muda ini.

Kedua, inovasi. Di tengah gelombang teknologi disrupsi (disruption technology), sangat dibutuhkan inovasi-inovasi baru untuk menjawab tantangan atau permasalahan terkini. Inovasi domestik yang juga dapat digambarkan dengan angka pengajuan hak paten global (World Intellectual Property Organization) masih relatif minim, yakni hanya berkisar di angka 4.000-an paten per tahun jika dibandingkan Tiongkok yang sudah menembus angka 500.000-an paten per tahun.

Kehadiran teknologi informasi seperti halnya internet of things, bigdata, artificial intelligence, cloud computing, 3D printing, dll harus menjadi tantangan bagi generasi milenial kita untuk menciptakan sesuatu yang baru sehingga Negara kita bisa menjadi negara produsen dan bukan hanya sebagai Negara konsumen.

Belajar dari transformasi negara-negara berkembang menjadi negara maju, maka inovasilah yang menjadi pendorongnya seper ti halnya dilakukan Jepang, Korea Selatan, Taiwan dll.

Ketiga, entrepreneurship atau kewirausahaan. Jumlah wirausaha di Indonesia disinyalir baru mencapai 8 juta pelaku usaha, yang artinya baru sekitar 3,1% dari jumlah penduduk Indonesia.

Sedangkan jika dibandingkan negara-negara maju, maka rasio ini harus beranjak menjadi minimal 14% dari total penduduk yang ada.

Pemberdayaan masyarakat dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan perlu terus dilakukan untuk mendorong kemunculan wirausaha baru sambil terus mengangkat kelas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk naik kelas seiring dengan perkembangan teknologi. Program seperti 1.000 technopreneur, UMKM go digital, akses pembiayaan kepada UMKM dll perlu mendapat perhatian serius untuk menambah jumlah pelaku usaha sekaligus meningkatkan skala usahanya.

Lebih dari itu, peningkatan daya saing produk dan jasa menjadi pekerjaan rumah sehingga UMKM lokal mampu eksis bahkan bersaing kompetitif dengan produkproduk dari manca negara. Pengajar dari Harvard Business School, Michael Porter dalam bukunya “The Competitive Advantage of Nations” menyampaikan empat faktor yang memengaruhi daya saing (competitive advantage) dari hasil studinya terhadap 100 industri di 10 negara.

Faktor pertama adalah factor endowments atau faktor pendukung. Faktor pendukung ini terdiri atas faktor dasar (basic factor) seperti halnya kekayaan alam, iklim, lokasi, demografi, dll serta faktor lanjutan (advanced factor) seperti halnya infrastruktur, sumber daya manusia yang terampil, fasilitas riset, dll. Negara yang memiliki daya saing cenderung memiliki kesiapan terhadap faktor pendukung ini.

Faktor kedua adalah kondisi permintaan (demand condition). Porter berpendapat bahwa perusahaan mampu meningkatkan daya saingnya ketika konsumen local memiliki banyak kebutuhan akan barang dan jasa tersebut dan permintaannya terus tumbuh menjadi lebih kompleks setiap saat.

Faktor ketiga, hubungan dengan industri pendukung (related & supporting industries). Keberhasilan suatu industri yang berdaya saing juga dipengaruhi oleh ketersediaan dan kesiapan rantai suplai (supply chain) industrinya, baik penjual bahan baku maupun pembelinya.

Faktor keempat adalah kondisi internal perusahaan dan kondisi persaingan. Budaya perusahaan dan budaya lokal tentunya akan memengaruhi kinerja perusahaan. Selain itu, kondisi persaingan dapat memengaruhi sikap perusahaan dalam menciptakan daya saing.

Pada akhirnya, masa keemasan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mempersiapkan generasi milenial yang kreatif, inovatif dan memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) sangat dibutuhkan untuk membawa negeri ini menjadi negara yang kaya dan disegani oleh masyarakat dunia. Komitmen segenap bangsa dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi menjadi negara maju. Melewatkan kesempatan ini berarti membiarkan Republik ini menjadi tua sebelum kaya.

Osbal Saragi, Praktisi Perbankan

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA