Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Guncangan Ekonomi Global

Tri Winarno, Senin, 7 Oktober 2019 | 15:19 WIB

Dalam permainan klasik yang dikenal sebagai the game of “chicken”: dua pengemudi adu tumbukan satu sama lain, dan pengemudi yang pertama menghindari tumbukan akan dinyatakan sebagai pecundang. Kalau tidak ada yang menghindar berarti dipastikan keduaduanya akan mati.

Di zaman dulu, skenario tersebut dipakai sebagai pembelajaran untuk menilai risiko yang diakibatkan oleh persaingan dua kekuatan besar. Misalnya, kasus krisis Teluk Babi di Kuba. Kedua pemimpin, yaitu Uni Soviet dan Amerika Serikat dihadapkan pada pilihan: kehilangan muka atau menghadapi bencana perang dunia III.

Pertanyaan yang selalu muncul adalah apakah dalam kasus seperti tersebut dapat dicapai suatu kompromi sehingga kedua pihak tidak kehilangan kredibilitas?

Terkait dengan contoh di atas, sekarang secara geo ekonomi, dunia sedang menghadapi beberapa the game of “chicken”. Dan kalau gagal dicapai kompromi dari setiap permainan tersebut, maka dipastikan akan berujung pada resesi global dan krisis keuangan global.

Pertama dan yang paling mematikan adalah perang dagang dan teknologi antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Yang kedua adalah pertikaian antara AS dan Iran. Ketiga, di Eropa sedang berlangsung ketegangan antara British Prime Minister Boris Johnson dan Uni Eropa terkait dengan Brexit.

Terakhir, keempat, adalah kasus Argentina, di mana dapat dipastikan akan terjadi pertikaian antara Argentina dan International Monetary Fund (IMF), berkaitan dengan kemungkingan kemenangan Peronist Alberto Fernández dalam pemilihan presiden bulan depan.

Di dalam kasus pertama, kalau terjadi perang dagang skala penuh, disertai dengan perang teknologi, mata uang dan berujung perang dingin antara AS dan Tiongkok, maka akan berakibat pada penurunan industri, perdagangan dan belanja modal yang diikuti oleh penurunan konsumsi swasta. Sehingga AS dan ekonomi global akan mengalami resesi besar.

Begitu pula jika terjadi konfrontasi militer antara AS dan Iran, maka harga minyak akan melonjak di atas US$ 100 per barrel, sehingga memicu stagflasi (resesi yang disertai dengan kenaikan inflasi). Kondisi demikian pernah terjadi pada tahun 1973 selama perang Yom Kippur, tahun 1979 pasca- Revolusi Islam Iran, dan tahun 1990 setelah invasi Iraq ke Kuwait.

Kasus Brexit tidak serta merta mengakibatkan resesi global kalau terjadi hard Brexit, tetapi dipastikan akan mengakibatkan Uni Eropa masuk dalam resesi, yang kemudian akan menjalar ke belahan benua lainnya. Pertama, Inggris akan mengalami resesi dan disusul bahkan berbarengan dengan Uni Eropa akan mengiringinya.

Saat ini Uni Eropa sudah diambang resesi di sektor manufaktur, sedangkan Belanda, Belgia, Irlandia, dan Jerman –yang mendekati resesi– sebenarnya juga sangat bergantung pada kinerja ekonomi Inggris. Dengan menurunnya kepercaayan usaha di Uni Eropa akibat dari perang dagang antara AS dan Tiongkok, maka hard Brexit akan menjadi pukulan pamungkas yang menghantarkan Uni Eropa masuk dalam jurang resesi yang semakin dalam. Dapat dibayangkan betapa chaos-nya Uni Eropa jika ribuan truk dan mobil antre mengisi dokumen kepabeanan di Dover dan Calais.

Di samping itu, resesi Uni Eropa akan mempunyai efek yang melumpuhkan ekonomi global karena saling bertautan. Apalagi krisis Uni Eropa yang disertai dengan perang mata uang, yaitu jika euro dan pound jatuh sangat tajam dibandingkan dengan mata uang lainnya, maka akan memicu depresiasi mata uang kuat lainnya.

Krisis di Argentina juga dapat berdimensi global. Jika Fernández mengalahkan Presiden Mauricio Macri dan kemudian mengacaukan program bantuan US$ 57 milliar dari IMF, maka Argentina dapat menderita krisis gagal bayar utang dan krisis mata uang seperti pada tahun 2001. Hal itu akan memicu terjadinya pelarian modal asing dari emerging markets, khususnya akan memicu krisis di negaranegara yang terbebani utang tinggi, seperti Turki, Venezuela, Pakistan, dan Lebanon. Pun, akan semakin mempersulit ekonomi negaranegara seperti India, Afrika Selatan, Tiongkok, Brasil, Meksico, dan Ecuador.

Dalam empat skenario di atas, kedua pihak tidak ingin kehilangan muka, dipermalukan. Presiden AS Donald Trump ingin mencapai kesepakatan dengan Tiongkok, dengan tujuan dapat menstabilkan ekonomi dan pasar AS sebelum Pemilu Presiden AS 2020.

Demikian pula, Presiden Tiongkok Xi Jinping juga ingin mencapai kesepakatan dengan AS guna menghentikan tren perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Namun tidak ada yang mau menjadi the “chicken,” sebab akan melemahkan posisi politik domestiknya dan memperkuat posisi politik lawan.

Dengan tanpa ada kesepakatan di akhir tahun ini dapat dipastikan akan terjadi benturan antara Trump dan Xi. Ketika waktu terus berjalan maka kita harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan mewarnai ekonomi global ke depan.

Begitu juga dengan kasus Iran, di mana Trump berpikir dapat menekan Iran dengan cara membatalkan perjanjian Joint Comprehensive Plan of Action dan mengenakan sanksi berat pada Iran. Namun, Iran dengan cerdas membalas dengan memprovokasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, dengan pertimbangan bahwa Trump tidak akan mampu melakukan perang dengan skala besar mengingat dampaknya pada harga minyak dunia.

Di samping itu, Iran tidak mau melakukan negosiasi dengan AS tanpa pembebasan sanksi terlebih dahulu. Dengan kedua pihak keberatan untuk mengalah, dan apalagi Saudi Arabia dan Israel jadi kompornya Trump, maka risiko benturan semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu.

Terinspirasi oleh Trump, Johnson dengan pongahnya mengira dapat menekan Uni Eropa dengan menggunakan ancaman hard Brexit agar dapat memperoleh kesepakatan yang lebih baik dengan EU dibandingkan dengan pendahulunya. Tetapi sekarang Parlemen Inggris telah mengesahkan legislasi untuk mencegah hard Brexit, di mana Johnson sedang memainkan dua games of chicken sekaligus.

Suatu kompromi dengan Uni Eropa tentang “backstop” di Irlandia masih mungkin sebelum 31 Oktober 2019, tetapi kemungkinan de facto skenario hard-Brexit juga semakin meningkat.

Untuk kasus Argentina, kedua pihak juga saling jaga gengsi. Fernández ingin memenangkan kontestasi kepresidenan, dan berkampanye dengan pesan bahwa Macri dan IMF adalah sumber masalah Argentina. Kar tu truf IMF adalah sangat jelas: kalau IMF menahan secara permanen paket pinjaman US$ 57 miliar dan mengakhiri program bailout-nya, --tak melakukan pembayaran akhir sebesar US$ 5,4 miliar dari rencana bulan ini,-- maka Argentina akan menderita krisis keuangan lagi.

Tetapi Fernández juga strategis, sebab Fernandez tidak akan bayar utangnya ke kreditur yang dijamin oleh IMF sebesar US$ 57 miliar. Sehingga IMF akan menghadapi kesulitan membantu negara lain yang menghadapi masalah yang sama karena terkendala oleh krisis yang terjadi di Argentina. Sebagaimana dengan kasus-kasus lainnya, kompromi antara Fernandez dan IMF adalah solusi terbaik, tetapi benturan tidak dapat diabaikan dari skenario ini.

Masalahnya adalah tercapainya kompromi antara kedua pihak yang bertikai mengharuskan masingmasing mampu meredakan ketegangan dan membuang egonya, meski dalam permainan ini rasanya sulit untuk saling mengalah. Berita bagusnya adalah dalam keempat skenario guncangan di atas, masingmasing pihak masih berbicara satu sama lain, sehingga dimungkinkan dapat saling membuka dialog tanpa saling kehilangan muka.

Berita buruknya adalah masing-masing pihak masih sangat jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Lebih buruk lagi kalau egoism mendominasi akal sehat, sehingga masing-masing memilih sikap lebih baik berbenturan daripada dianggap sebagai “chicken”. Karena itu, masa depan ekonomi global sangat tergantung dari penyelesaian yang damai dari keempat skenario guncangan di atas, dan sebagian besar penduduk planet ini sangat berharap akan tercipta win-win solution sehingga ekonomi global akan mensyejahterakan kembali.

Tri Winarno, Pengamat kebijakan ekonomi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA