Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran.

Paulus Mujiran.

Imlek dan Kerja Keras Etnis Tionghoa

Paulus Mujiran *), Jumat, 24 Januari 2020 | 11:54 WIB

Sabtu, 25 Januari 2020 merupakan perayaan tahun baru Imlek ke 2571 bagi masyarakat Tionghoa. Masyarakat Tionghoa meyakini Imlek merupakan lambang semangat perjuangan dan kemenangan dalam membina kehidupan beragama. Upaya merajut persaudaraan dan perilaku toleran di antara keturunan Tionghoa terlihat dalam praktik ibadah di altar langit. Tidak seperti perayaan Tahun Baru Masehi, hari-hari pertama Imlek punya makna khusus.

Keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata. Apalagi secara global etnis Tionghoa juga tengah naik daun. Tidak ada berita yang lebih heboh dalam dekade pertama milenium baru selain perkembangan Tiongkok yang pertumbuhan ekonominya paling pesat di dunia. Topik mengenai kebangkitan Tiongkok menjadi bahasan yang paling banyak diikuti surat kabar, blog dan media sosial.

Banyak cerita mengiringi kesuksesan Tiongkok, seperti: kebudayaan kuno, ras yang bersatu, etos kerja yang kuat, penduduk yang lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi daripada kebebasan pribadi, dan rakyat yang terobsesi dengan pendidikan. Yang paling mendasar, penduduk Tiongkok ditakdirkan untuk suatu saat menguasai dunia.

Reporter BBC Jeremy Paxman (2012) heran dengan etos kerja warga Tiongkok, “Seluruh perekonomian mengapung di atas lautan pekerja yang rela berangkat ke mana pun untuk mendapatkan upah harian. Kalian bisa mendengar mereka menempa di lokasi konstruksi dan melihat mereka memanjat menara setengah jadi sejak pagi buta sampai petang.”

Ketika negara-negara maju terlibat dalam kompetisi global dengan negara- negara berkembang, Tiongkok paling unggul di antara negara-negara itu. Negara maju kalah dalam kompetisi itu, sementara pengusaha mengelu-elukan Tiongkok mempunyai lingkungan bisnis yang ramah.

Tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Tiongkok yang tinggi mendukung gambaran tersebut.

Uniknya, kompetisi ini tidak melulu soal perekonomian tetapi juga soal kebudayaan dan perilaku. Pengasuban yang sering disebut “Tiger Mother” atau induk harimau menghasilkan anak yang berprestasi. Ada kisah menarik tahun 2010 ketika bocah bernama Wang Yue tertabrak di kota Foshan tidak jauh dari Guangzhou. Kisah ini menunjukkan sisi lain tentang Tiongkok. Si penabrak kabur melarikan diri.

Rekaman CCTV menunjukkan bahwa tidak kurang dari 18 orang melewati balita yang mengalami perdarahan di sisi jalan tersebut tanpa memberi pertolongan. Gadis kecil itu akhirnya meninggal dengan luka yang parah.

Koran Barat bertanya apakah perilaku pejalan kaki adalah warisan budaya Tiongkok, mengingat para misionaris di era Victoria pada abad ke-19 mencatat bagaimana rakyat Tiongkok memiliki kesadaran moral yang rendah?

Catatan sejarah masa lalu Tiongkok kurang menyenangkan. Salah satu tuduhan besar yang dikemukakan pihak luar terhadap masyarakat Tiongkok adalah suka menipu. Filsuf Jerman Hegel pada abad ke-19 menggambarkan mereka mempunyai imoralitas yang dahsyat. Tiga abad lampau sejarawan Spanyol, tepatnya pada 1857 menulis hal serupa, “Mereka menguasai seni menyamarkan perasaan dan keinginan untuk membalas dendam, menyembunyikan semua perasaan tersakiti dengan begitu baik sehingga orang percaya bahwa mereka tidak peka terhadap semua jenis amarah.”

Populasi penduduk Tiongkok juga merupakan salah satu faktor. Saking banyaknya penduduk Tiongkok, orang Eropa menyindir, “Seringkali kau melihat sejumlah anak keluar dari sebuah pohon, tempat orang tak menyangka akan menjumpai satu pun anak di situ.”

Bahkan misionaris Kristen pada abad-19 menulis dalam buletin China’s Millions mengungkap kesedihan tentang betapa banyak yang harus dilakukan oleh Tuhan di negeri ini. Sepanjang 1883 lebih dari delapan juta meninggal, hanya sedikit yang menerima doa suci dan kasih Tuhan.

Bahkan di abad 20 orang Barat beralih dari menawarkan agama kepada kepada rakyat Tiongkok daripada menawarkan keserakahan. Memang belum bisa dipastikan populasi yang besar ini ancaman atau peluang, namun terdapat mitos jika semua rakyat Tiongkok serempak melompat ke udara, maka bumi akan keluar dari porosnya dan umat manusia akan musnah.

Kemajuan Tiongkok yang dahsyat menggemparkan dunia. Sering hal ini disebabkan anggapan Tiongkok memiliki kebudayaan kuno yang tidak dapat berubah.

Lihat saja kekaisaran besar seperti Mesir, Babilonia, Persia, Macedonia dan Romawi musnah, kekaisaran Tiongkok tetap bertahan hingga kini. Mereka tidak mengalami perubahan apapun dalam hal pakaian, moral, hukum, adat dan tata krama. Tiongkok tidak pernah berubah karena Tiongkok memiliki kebudayaan yang paling kukuh dan tahan banting di planet ini. Kepekaan yang kuat mengenai kesatuan budaya tersebut menjadi alasan mengapa Tiongkok resisten terhadap agama asing. Berapa banyak misionaris datang ke Tiongkok tanpa membawa banyak perubahan.

Hampir tidak mungkin agama Kristen berkembang di Tiongkok. Alkitab hanya bisa dijiwai masyarakat Tiongkok jika ada revolusi total pada adat kebiasaan mereka. Kaum Prostestan mengalami hal serupa. Misionaris Protestan Robert Morison berkata dengan percaya diri, “Tidak, namun saya berharap Tuhan bisa.” Pesannya jelas: Tiongkok tidak berubah. Tiongkok mengubahmu. Semua tak ada hasilnya. Tiongkok sering digambarkan ahli waris sang naga. Homogenitas orang Tiongkok sebagai perkembangan sebuah masyarakat yang berasal dari satu ras, di bawah satu pemerintahan dan lingkungan yang sama terus-menerus menghasilkan masyarakat yang homogen. Tiongkok adalah ras murni tunggal dengan darah yang sama, bahasa yang sama, agama yang sama dan adat istiadat yang sama.

Seiring berkembangnya demokrasi di belahan dunia lain, khususnya Arab, membuat para aktivis demokrasi Tiongkok berharap pemerintahan otoriter Tiongkok akan runtuh. Di Kairo, Mesir untuk menjatuhkan rezim Husni Mubarak hanya butuh 18 hari untuk menjatuhkan rezim yang sudah berkuasa 30 tahun. Tetapi di Tiongkok pergerakan demokrasi tidak pernah tiba dan mekar. Hal itu merupakan bukti Tiongkok berbeda dari bangsa-bangsa lain. Tiongkok tidak akan mengalami revolusi dalam waktu dekat.

Tiongkok memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. “Ujian Tinggi” atau dikenal dengan Gao Kao merupakan ujian yang menentukan masa depan anak seluruh negeri. Tidak main-main, pemerintah mengatur dengan sangat serius. Pembuatan soal dilakukan di tempat rahasia untuk mencegah kecurangan.

Soal dicetak para penghuni penjara. Mereka yang ketahuan melakukan kecurangan didiskualifikasi, dilarang ikut ujian lagi dan dimasukkan dalam daftar hitam untuk dipertimbangkan calon pemberi kerja.

Sistem ujian yang ketat merupakan efek sistem ujian kekaisaran, mendorong anak-anak belajar keras. Anak-anak negeri itu hanya menikmati delapan hari bermain dan tanpa liburan sama sekali sepanjang tahun. Sistem pendidikan yang ketat membentuk karakter hidup untuk bekerja. Tiongkok tidak bisa ditaklukkan karena kegigihan dan produktivitas penduduknya. Masyarakat Tiongkok seperti baja, mampu bekerja lebih keras dibandingkan masyarakat lain yang terbiasa hidup nyaman.

Etos itu berakar dari budaya Konfusius yang mengajari pengikutnya untuk bekerja. Kemampuan bertahan dalam penderitaan merupakan modal sukses orang Tiongkok. Tak pelak bahwa prediksi Tiongkok menjadi macan Asia baru yang akan mengguncang dunia sepertinya segera menjadi kenyataan.

Seperti bunyi adagium: abad kesembilan belas dikuasai Inggris, abad kedua puluh oleh Amerika Serikat, dan abad kedua puluh satu oleh Tiongkok.

*) Kolumnis, Ketua Pelaksana Yayasan Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN