Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Yuki MA Wardhana, Doktor Ilmu Lingkungan

Yuki MA Wardhana, Doktor Ilmu Lingkungan

Indeks Kepedulian Pengelolaan Sampah Plastik Produsen

Rabu, 18 November 2020 | 14:25 WIB
Yuki MA Wardhana *)

Sampah merupakan salah satu material yang terus dihasilkan oleh manusia sebagai konsekuensi penggunaaan suatu produk. Jumlah timbulan sampah akan terus bertambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Sehingga desain pengelolaan sampah harus dapat mempertimbangkan jumlah penduduk di masa yang akan datang.

Proyeksi timbulan sampah di Indonesia yang tertuang di dalam Kebijakan dan Strategis Nasional (Jaktranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga adalah sebanyak 67,8 juta ton pada tahun 2020 dan 70,8 juta ton pada tahun 2025. Jumlah sampah tersebut diprediksi akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2050.

Oleh karena itu, diperlukan upaya yang optimal dari berbagai pihak sebelum terjadi kenaikan dua kali lipat. Karena pada saat terjadi kenaikan jumlah penduduk maka ketersediaan lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) juga akan terbatas. Pemerintah telah mempunyai target pengurangan sampah sebesar 30% dari angka timbulan sampah yang ada pada tahun 2025, termasuk sampah plastik.

Berdasarkan hasil penelitian Unilever dan Sustainable Waste Indonesia yang disampaikan pada Research Talk di JESSD International Symposium 2020, baru sekitar 11,83% sampah plastik yang didaur ulang.

Gap antara target pengurangan sampah plastik dan jumlah yang didaur ulang masih jauh. Sehingga sinergi program daur ulang dengan program lainnya, seperti gerakan pengurangan penggunaan kantong plastik dan sedotan, sangat diperlukan.

Salah satu tujuan dari melakukan daur ulang dan program-program untuk mereduksi sampah plastic adalah mengurangi jumlah yang dibuang ke TPA. Dengan demikian dapat mengefisienkan umur teknis TPA dan lebih optimal menggunakan anggaran pengelolaan sampah pemerintah yang terbatas. Dalam mencapai kegiatan pengurangan sampah tersebut, pemerintah perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk produsen yang meliputi industri manufaktur, jasa makanan dan minuman, serta ritel.

Peran Produsen

Produsen selain memproduksi suatu barang dapat menjadi kunci dan think-tank pemerintah dalam pengelolaan sampah plastik. Secara regulasi, peran produsen sudah diatur dalam Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen yang tercantum di dalam Permen LHK No 75 Tahun 2019.

Terdapat tiga peran produsen dalam pengelolaan sampah plastik, yaitu pembatasan timbulan, pendauran ulang, dan pemanfaatan kembali. Produsen dapat membatasi timbulan sampah plastik dengan menggunakan bahan baku kemasan produk yang mudah diurai oleh proses alam sehingga timbunan sampah menjadi lebih sedikit.

Salah satu cara yang juga dapat dilakukan oleh produsen adalah dengan mengoptimalkan bentuk dan bahan kemasan sehingga lebih efisien menggunakan kemasan. Optimalisasi kemasan pada deterjen dapat mengurangi penggunaan kemasan sampai dengan 13%. Optimalisasi ini bukan hanya akan membawa manfaat positif bagi lingkungan, tetapi juga dapat menciptakan efisiensi bagi produsen dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membeli produk tersebut di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

Selama ini kegiatan yang dikenal masyarakat pada umumnya dalam pendauran ulang sampah dan pemanfaatan sampah plastik kembali adalah melalui mekanisme bank sampah. Pada rantai pengelolaan sampah, baik pada skema open maupun close loop, bank sampah berada pada middle stream yang artinya masih ada rantairantai sebelum dan selanjutnya.

Masyarakat sebagai pengguna kemasan merupakan pemeran pertama dalam stream ini. Dengan lebih memahami adanya nilai tambah ekonomi dari pengelolaan sampah plastik, masyarakat dapat lebih mengoptimalkan value chain dari penggunaan ulang kemasan plastik tersebut.

Manfaat bagi masyarakat dari dikembangkannya ekosis tem daur ulang dan pemanfaatan sampah plastik cukup besar dan tidak dapat dipandang sebelah mata.

Berdasarkan Buku Panduan Sistem Bank Sampah dan 10 Kisah Sukses yang diterbitkan oleh Yayasan Unilever Indonesia, kelompok bank sampah Pelita Harapan yang merupakan suatu komunitas RW di Makassar mampu menghasilkan pendapatan hingga sepuluh juta rupiah per bulan dari pengelolaan sampah di lingkungan RW tersebut.

Peran produsen juga sangat diperlukan dalam membentuk rantai selanjutnya sehingga rantai daur ulang sampah dapat sempurna dan meningkatkan nilai tambah dari sampah plastik yang dikelola tersebut.

Salah satu contoh inisiasi produsen dalam membantu masyarakat menemukan rantai daur ulang sampah dan memperkuat ekosistem daur ulang serta pemanfaatan sampah kembali adalah dibentuknya IPRO (Indonesia Packaging Recovery Organization) yang diinisiasi Unilever, Coca-Cola, Danone, Indofood, Nestlè dan Tetra Pak. IPRO bertujuan untuk memberikan sudut pandang dan inovasi baru dalam menghadapi berbagai tantangan pada pengelolaan sampah serta mempercepat praktik ekonomi sirkuler di Indonesia.

Inisiasi seperti ini perlu didorong untuk lebih masif dan melibatkan banyak entitas industri lainnya sehingga dampaknya dapat lebih terasa bagi ekonomi, lingkungan dan masyarakat.

Rendahnya angka sampah yang didaur ulang, menunjukkan bahwa peluang masyarakat untuk mendapatkan manfaat seperti yang dilakukan oleh kelompok bank sampah Pelita Harapan cukup tinggi.

Manfaat yang diterima masyarakat dapat lebih tinggi, apa bila produsen membantu masyarakat meningkatkan nilai sampah yang dikumpulkan atau menjadi bagian closing the loop dalam supply chain para produsen.

Indeks Kepedulian

Mengubah suatu proses produksi untuk menjadi ramah lingkungan, tentu tidak dapat dilakukan secara cepat. Pada umumnya produsen akan menghitung pengaruh perubahan tersebut kepada bisnis proses mereka sehingga beberapa produsen memiliki target dengan jangka waktu tertentu.

Produsen juga perlu menghitung waktu yang dibutuhkan untuk mengubah bisnis proses tersebut. Namun demikian, beberapa produsen sudah memulai terobosan dengan mengefisiensikan kemasan produk sehingga lebih sedikit menggunakan bahan plastik.

Apresiasi perlu diberikan kepada produsen yang memiliki usaha dan itikad baik dalam pengelolaan sampah plastik. Informasi mengenai usaha yang dilakukan oleh produsen terhadap kepedulian pengelolaan sampahnya tersebut harus dapat dicermati dan dipahami oleh publik sehingga dapat menjadi pertimbangan ketika akan membeli suatu produk.

Informasi yang disampaikan tersebut dapat berupa nilai indeks kepedulian pengelolaan sampah plastik oleh produsen tersebut. Indeks kepedulian pengelolaan sampah plastik produsen tersebut merupakan akumulasi dari usaha yang dilakukan oleh produsen dalam mengelola sampah di dalam dan luar proses produksinya.

Selain untuk konsumen, indeks kepedulian pengelolaan sampah plastik produsen juga dapat menjadi acuan bagi perbankan dan investor ketika akan membiayai suatu manufaktur atau membeli sahamnya.

Dengan demikian, para produsen dan entitas industri akan berlomba- lomba menaikkan indeksnya sebagai alat untuk memperoleh “premium access” untuk produknya.

Ekosistem pengelolaan sampah oleh produsen sebagai salah satu aktor kunci dan indeks pengelolaan sampah plastik produsen sebagai salah satu alatnya akan sangat membantu pemerintah dalam mengurangi timbulan sampah. Jika kolaborasi pemerintah dengan produsen dan masyarakat dapat berjalan dengan baik, sepertinya target pengurangan timbulan sampah sebesar 30% pada tahun 2025 semakin dekat untuk dicapai.

*) Penulis merupakan Doktor Ilmu Lingkungan, Akademisi Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dan Ketua Umum Indonesia Environmental Scientist Assosiation.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN