Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mangasa Augustinus Sipahutar

Mangasa Augustinus Sipahutar

Inflasi Terendah Sepanjang Sejarah dan Ketidakseimbangan Pasar Keuangan

Senin, 11 Januari 2021 | 18:17 WIB
Mangasa Augustinus Sipahutar *)

Badan Pusat Statistik (BPS) pada publikasi bulan Januari 2021 menyampaikan bahwa inflasi Indeks Harga Konsumen adalah 1,68% (yoy). Menurut BPS, tingkat inflasi 2020 ini adalah tingkat inflasi terendah sepanjang sejarah sejak BPS merilis data inflasi.

Melihat lebih jauh terhadap inflasi tahun 2020, inflasi bulanan tertinggi adalah di bulan Desember sebesar 0,45%, dan terjadi empat kali deflasi yaitu di bulan Mei, Juli, Agustus, dan September.

Berdasarkan inflasi tahunan, inflasi tertinggi adalah di bulan Februari sebesar 2,98% dan terendah di bulan Agustus sebesar 1,32%. Sebagaimana lazim dijelaskan di dalam literatur ilmu ekonomi bahwa inflasi adalah musuh perekonomian, tentu kita bertanya mengapa tingkat inflasi yang rendah ini perlu menjadi bahan perhatian dan bahkan perlu diwaspadai.

Bukankah inflasi yang rendah itu baik? Untuk tujuan penyederhanaan fenomena inflasi dalam tulisansingkat ini, dapat dijelaskan bahwa pengambil kebijakan, baik moneter dan fiskal, selalu berusaha untuk mencapai tingkat inflasi yang stabil, tidak tinggi dan tidak rendah. Mengapa?

Inflasi selalu mendistorsi perekonomian, dan inflasi yang tinggi atau yang rendah akan mendistorsi perekonomian lebih dalam lagi. Sama seperti inflasi, deflasi yang merupakan bayangan inflasi pada cermin, juga akan mendistorsi perekonomian, namun demikian, deflasi akan membuat perekonomian berada pada kondisi yang jauh lebih buruk.

Dalam bahasa ilmu ekonomi dinyatakan bahwa inflation is bad, but deflation may be worse because deflation is often a symptom of deeper economic problems.

Sebagaimana diketahui, sejak merebaknya virus corona menjadi pandemi di awal tahun 2020, negara-negara di dunia melakukan kebijakan pembatasan sosial berupa karantina wilayah, lockdown dan lain-lain. Pembatasan sosial ini masih terus berlanjut hingga tahun 2021.

Pembatasan sosial ini secara langsung memengaruhi keberlangsungan dunia usaha atau sektor riil. Sektor riil mengalami penurunan jam kerja, penurunan produksi dan penurunan penjualan. Lalu, karena sektor riil di seluruh belahan dunia terhubung dalam satu rantai pasok global maka pembatasan sosial membuat pro duksi global terganggu, yang sering disebut sebagai aggregate supply shocks atau guncangan penawaran agregat.

Lebih lanjut, pembatasan sosial yang terjadi memengaruhi konsumen atau rumah tangga dengan adanya pemutusan hubungan kerja atau pengurangan penghasilan akibat pengurangan jam kerja yang membuat penurunan pendapatan. Pembatasan sosial pada akhirnya turut membuat permintaan global terganggu, atau yang sering disebut sebagai aggregate demand shocks atau guncangan permintaan agre gat.

Dari sisi pengambil kebijakan, baik kebijakan moneter maupun fiskal, berbagai upaya telah dila kukan untuk melawan atau meng-counter guncangan yang terjadi, baik di sisi penawaran maupun sisi permintaan. Stimulus moneter dan fiskal telah di gelontorkan untuk menahan laju pemburukan ekonomi. Stimulus moneter dan fiskal itu juga menjadi alat perjuangan untuk memulihkan perekonomian yang terguncang.

Lalu, pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana hubungan antara inflasi yang terendah sepanjang sejarah BPS terhadap krisis ekonomi yang terjadi akibat pandemi virus corona? Bagaimana pula hubungan antara stimulus moneter dan fiskal yang ditetapkan dengan rendahnya tingkat inflasi?

Dalam keadaan di mana output  perekonomian agregat berada di atas output perekonomian agregat tingkat alamiah, terdapat hubungan positif antara output perekonomian agregat dengan tingkat inflasi. Artinya, output perekonomian agregat akan mendorong tingkat inflasi ke tingkat yang lebih tinggi.

Sepanjang tingkat inflasi yang terjadi masih berada pada tingkat inflasi yang ditargetkan oleh otoritas moneter dan fiskal, maka perekonomian masih berada pada situasi yang stabil.

Berbeda halnya jika tingkat inflasi yang terjadi berada di atas tingkat inflasi yang ditargetkan, maka situasi ekonomi sudah mulai memanas. Sehingga pengendalian inflasi diperlukan dengan menaikkan suku bunga sehingga perekonomian kembali ke output perekonomian agregat yang tidak memicu terjadinya inflasi lebih lanjut.

Pada situasi ekonomi Indonesia yang diterpa pandemi virus corona, perekonomian berada pa da fase resesi, di mana terjadi pertumbuhan ekonomi negatif. Pertumbuhan ekonomi negatif yang terjadi mengakibatkan output perekonomian secara agregat berada di bawah tingkat output alamiahnya. Hal ini berimplikasi pada penurunan tingkat inflasi. Untuk meng-counter pemburukan ekonomi ini, otoritas moneter dan fiskal telah mengeluarkan berbagai stimulus. Bank Indonesia (BI) meng-counter pemburukan ekonomi dengan melakukan penurunan BI 7-day Reverse Repo Rate sebanyak 5 kali sebesar 125 basis poin di ta hun 2020 ke level 3,75%, penurunan Giro Wajib Minimum (GWM), quantitative easing, dan pembelian BI atas surat-surat berharga di pasar primer dan sekunder, menjadi pendorong banjirnya likuiditas di pasar.

Secara bersamaan, pemerintah juga meng-counter pemburukan ekonomi, salah satunya dengan menggelontorkan anggaran untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp 695 triliun pada tahun anggaran 2020.

Semua kebijakan itu ditujukan sebagai counter policy untuk menghadapi guncangan rantai pasok global yang diikuti oleh guncangan permintaan agregat.

Dengan berbagai stimulus ekonomi ini, lalu pertanyaan berikutnya adalah mengapa inflasi menuju ke tingkat paling rendah sepanjang sejarah publikasi BPS? Apa dampak tingkat inflasi terendah ini bagi perekonomian Indonesia di masa yang akan da tang? Untuk itu, mari kita perhatikan stimulus pada kebijakan moneter secara spesifik.

Sebagaimana disampaikan di atas, stimulus pada kebijakan moneter ditujukan untuk merang sang permintaan agregat yang terkontraksi akibat kontraksi yang terjadi pada pena waran agregat. Stimulus kebijakan moneter tersebut adalah kebijakan ekspansi moneter yang ditujukan untuk meningkatkan jumlah uang di dalam perekonomian melalui instrumen-instrumen kebijakan moneter seperti penurunan suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate, penurunan GWM, serta pembelian surat-surat berharga di pasar primer dan sekunder.

Harapan dari ekspansi kebijakan moneter itu adalah agar dengan penurunan suku bunga tersebut, permintaan uang meningkat menuju kepada tingkat keseimbangan atau ekuilibrium yang baru. Harapannya adalah bahwa dengan peningkatan per mintaan uang maka sektor riil secara perlahan-lahan akan bangkit, baik melalui pemulihan ketersediaan modal kerja mau pun untuk melakukan ekspansi dengan pembelian barang-barang modal atau investasi.

Jika sesuai dengan harapan, kebijakan moneter tersebut akan merangsang penawaran agregat ke arah ekspansi, pa ling tidak, perlahan-lahan me nuju ke situasi sebelum terjadi nya kontraksi penawaran agre gat akibat pandemi virus corona. Output perekonomian akan kembali meningkat dan penyerapan tenaga kerja juga akan mengalami peningkatan seiring dengan bergairahnya sektor riil. Daya beli masyarakat akan mengalami pemulihan secara perlahan-lahan, dan lalu inflasi perlahan-lahan akan meningkat. Namun demikian, mengapa kebijakan ekspansi moneter tersebut tidak mampu mendorong daya beli?

Salah satu faktor penyebabnya adalah terjadinya ketidakseimbangan di pasar keuangan. Berbagai instrumen kebijakan moneter telah berhasil menurun kan suku bunga di satu pihak, namun demikian, di lain pihak, penurunan suku bunga tersebut tidak mampu membalikkan kurva permintaan uang yang telah mengalami kontraksi akibat gun cang an permintaan dan penawaran agregat yang terjadi secara bersamaan seiring dengan pandemi virus corona.

Sektor riil belum mampu merespons penurunan suku bunga. Sektor riil belum mampu me naikkan permintaan uang. Ketidakseimbangan di pasar keuangan ini mengakibatkan adanya ekses penawaran uang atau sering disebut sebagai kelebihan likuiditas di pasar keuangan.

Kelebihan likuiditas itu me ngakibatkan output perekonomian tidak mengalami kenaikan. Output perekonomian masih tetap berada jauh lebih kecil dibandingkan output perekonomian tingkat alamiahnya. Implikasinya adalah daya beli masyarakat tetap rendah atau bahkan semakin rendah yang direpresentasikan dengan tingkat inflasi yang sangat rendah sebagaimana terjadi pada tahun 2020

Untuk mencapai keseimbangan di pasar keuangan dengan suku bunga rendah yang terjadi saat ini, satu-satunya cara adalah dengan menstimulasi permintaan uang mel alui kebijakan nonsuku bunga. Permintaan uang yang rendah yang diindikasikan oleh tingkat permintaan kredit perbankan yang sangat rendah sebaiknya segera dirangsang dengan kebijakan-kebijakan perkreditan yang tidak biasa.

Penciptaan skim-skim perkreditan yang baru, kemudahan syarat-syarat pemberian kredit, insentif fiskal bagi para pemohon kredit, dan lain-lain perlu dipikirkan agar pasar keuangan berada pada kondisi keseimbangan sesuai dengan rezim suku bunga rendah yang ditetapkan oleh BI.

Jika hal itu dilakukan, sektor riil akan kembali bergairah, output perekonomian perlahan-lahan akan meningkat menuju kepada tingkat output alamiahnya. Kenaikan output perekonomian secara perlahan-lahan akan meningkatkan penyerapan kerja dan pemulihan daya beli, sehingga inflasi akan meningkat seiring dengan pemulihan daya beli. Dalam hal ini, baik otoritas moneter dan fiskal tidak boleh lengah. Perlu usaha yang sangat serius untuk menghindari kejatuhan inflasi menuju deflasi. Deflasi akan berdampak jauh lebih buruk pada perekonomian dan sangat sulit untuk dikendalikan, bahkan lebih sulit dikendalikan dibanding inflasi.

*) Ekonom, Dosen Luar Biasa  ada Program Pascasarjana FEM, IPB University; Lulusan Terbaik Program Doktor, IPB University

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN