Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga. Sumber: BSTV

Nirwono Joga. Sumber: BSTV

Infrastruktur Berkelanjutan Kala Normal Baru

Rabu, 15 Juli 2020 | 23:58 WIB
Nirwono Joga *)

Memasuki era normal baru, pemerintah tetap fokus menggenjot pembangunan infrastruktur agar pertumbuhan ekonomi terus bergerak. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berupaya untuk mempercepat pelelangan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, salah satunya percepatan pembangunan infrastruktur jalan tol.

Kehadiran infastruktur tol diharapkan dapat dikembangkan menjadi koridor ekonomi daerah. Pembangunan infrastruktur jalan tol diharapkan dapat mendorong pengembangan sektor unggulan daerah dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Koridor Trans-Jawa dan Trans-Sumatera dirancang mendukung pengembangan kawasan pertanian, peternakan, perikanan, destinasi wisata, serta kawasan industri.

Pengembangan infrastruktur tol diarahkan untuk mengurangi kepadatan lalu-lintas kendaraan, meningkatkan arus distribusi barang dan orang, serta mendorong perkembangan ekonomi daerah.

Selain itu, pemerintah berkomitmen untuk menyiapkan pengembangan moda transportasi berbasis rel, menyediakan lapangan kerja baru, serta tetap menjaga kelestarian alam.

Pembangunan infrastruktur telah menjadi komitmen politik Pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Pemerintah tetap akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur dalam lima tahun mendatang.

Pembangunan infrastruktur akan terus dilakukan secara masif hingga ke pelosok daerah. Pemerintah menargetkan dapat membangun 2.500 kilometer jalan tol lima tahun ke depan. Investasi yang diperlukan berkisar Rp 375 triliun – Rp 425 triliun. Jumlah itu belum termasuk dana pembebasan lahan yang diperkirakan sekitar Rp 100 triliun (Badan Pengatur Jalan Tol, 2020).

Memacu Pertumbuhan

Percepatan pembangunan infrastruktur tol harus mampu memacu pertumbuhan ekonomi dan pengembangan kawasan di sekitar jalan tol. Jalan tol adalah tulangnya, sementara kawasan ekonomi adalah dagingnya.

Kalau ada tulang dan daging, pemerintah dapat mendorong swasta tertarik untuk berinvestasi. Keberadaan infrastruktur diharapkan mampu mendorong peningkatan efisiensi bisnis dan konektivitas sentra produksi atau kawasan industri dengan jalur distribusi sehingga mampu menekan biaya logistik.

Kebutuhan akan infrastruktur tol untuk menjamin kemudahan pergerakan orang dan barang semakin tinggi seiring pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Pembangunan infrastruktur diharapkan mampu menggerakkan perekonomian dengan cara membuka lapangan kerja baru sekaligus menekan pengangguran dalam jangka pendek. Pun, mendorong pengembangan sektor unggulan (pertanian, perikanan, petenakan, industri, pariwisata) dalam jangka menengah, serta menjamin keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang sehat dalam jangka panjang.

Pembangunan infrastruktur secara masif tidak akan serta merta meningkatkan daya saing nasional, tanpa didukung aspek konektivitas yang baik, kualitas infrastruktur ke pelabuhan, bandar udara, dan terminal yang bagus, serta ketersediaan jaringan listrik yang memadai.

Infrastruktur tol menuju ke bandar udara penting untuk mendukung peningkatan kapasitas penumpang dan terminal kargo udara. Infrastruktur tol terhubung keluar masuk pelabuhan yang menjadi titik kumpul untuk kegiatan ekspor produk unggulan, membagi arus kargo peti kemas ataupun kargo kendaraan.

Infrastruktur tol menuju ke/dari kawasan industri penting untuk memudahkan arus logistik yang berkembang di sepanjang koridor tol dan menuju ke kawasan destinasi wisata lokal yang tersebar di sepanjang koridor tol.

Pembangunan infrastruktur tol harus terintegrasi baik dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah dan rencana tata ruang wilayah (provinsi, kota, kabupaten), baik terkait pengembangan tata ruang wilayah maupun pengembangan kawasan sektor unggulan (pertanian, perikanan, peternakan, industri, pariwisata).

Pembangunan kawasan sektor unggulan yang kompetitif harus tercermin dalam visi misi kepala daerah di rencana pembangunan jangka menengah daerah, penataan geografis sesuai rencana tata ruang wilayah dan rencana detail tata ruang, serta didukung pendanaan dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Pemerintah daerah (provinsi, kota, kabupaten) didorong menyediakan anggaran daerah untuk berbagi sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur pendukung dari jalan tol ke bandar udara, pelabuhan, kawasan industri, serta destinasi wisata.

Pembangunan infrastruktur tol harus didukung pula pengembangan infrastruktur di tingkat makro/nasional, meso/regional, dan mikro/lokal. Sehingga terwujud prinsip konektivitas berbasis kluster/daerah kota/kabupaten sesuai dengan sektor unggulan daerah.

Infrastruktur tol terhubung dengan jalur logistik barang dan orang yang terintegrasi secara lokal, regional, nasional, global. Pembangunan infrastruktur tol harus mencakup semua aspek layanan secara menyeluruh dan terintegrasi mulai dari proses bisnis utama, pendukung, penyediaan bahan baku, pengolahan, sistem logistik sampai ke konsumen, hingga kesiapan aparat birokrasi.

Pembangunan infrastrukturtol diharapkan memberi dampak positif untuk membangkitkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi jangka pendek- menengah. r

*) Ketua Peneliti Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN