Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dewa Putra Krishna Mahardika, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Telkom

Dewa Putra Krishna Mahardika, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Telkom

Isu Etika di Pasar Modal

Selasa, 14 Januari 2020 | 20:04 WIB
Dewa Putra Krishna Mahardika *)

Saat membuka perdagangan hari per tama 2020, Presiden Joko Widodo menyinggung mengenai praktik goreng menggoreng saham yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada beberapa hari sebelumnya, tepatnya saat penutupan perdagangan 2019, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyinggung aksi manipulasi harga saham oleh predator saham.

Kedua pejabat tersebut memang berkeinginan agar BEI bisa menjadi tempat penggalangan dana dan perdangangan aset keuangan yang bersih dari beragam modus kejahatan kerah putih.

Modus kejahatan di pasar modal sangat beragam, antara lain goreng menggoreng saham (mengarahkan harga saham pada tingkat tertentu dengan cara berkolaborasi dengan beberapa pihak untuk melakukan transaksi fiktif), insider trading (melakukan transaksi aset keuangan berdasarkan informasi material dari emiten yang belum dipublikasikan), janji fiktif (memberikan kepastian return dari investasi saham), dan ketidakhati-hatian yang disengaja (pembentukan portofolio keuangan tanpa mempertimbangkan profil investor).

Kejahatan kerah putih di pasar modal pada umumnya melibatkan professional keuangan, dan yang menjadi korban kejahatan tersebut umumnya adalah masyarakat yang menjadi investor ritel. Sebagian investor ritel yang tidak memiliki pengetahuan mengenai pasar modal mengandalkan dan memercayakan dananya untuk dikelola oleh profesional keuangan di pasar modal (seperti pemasar produk keuangan, penasihat keuangan dan manajer investasi); sedang sebagaian lainnya yang memiliki pengetahuan cenderung berinvestasi secara langsung pada pasar modal dan golongan ini bisa disebut investor ritel aktif.

Dari sisi kuantitas, investor ritel aktif menjadi mayoritas peserta perdagangan di BEI dan keberadaan mereka berpotensi untuk meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar modal. Dengan potensi perannya sebagai penyedia likuiditas, investor ritel aktif dapat membentu proses pembentukan harga saham yang efisien.

Namun, investor ritel sangat rentan terhadap kejahatan kerah putih yang dilakukan oleh profesional keuangan. Beragam peraturan telah dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK, sebagai pengawas pasar modal) dan BEI (sebagai penyelenggara kegiatan di pasar modal) guna mencegah terjadinya skandal yang dapat merugikan investor ritel. Namun, peraturan tersebut membutuhkan pengawasan untuk memantau kepatuhan, dan membutuhkan metode untuk mendeteksi indikasi terjadinya kejahatan kerah putih.

Sangat tidak mungkin mengharapkan OJK dan BEI mampu mengawasi tindakan setiap pelaku di pasar modal karena memang jumlah pelaku pasar sangat banyak dan metode pembuktian terjadinya indikasi kejahatan di pasar modal juga sulit. Hal ini menyebabkan skandal keuangan berpotensi terjadi walau beragam peraturan telah diterbitkan untuk mencegah terjadinya skandal.

Dalam kondisi ini peran etika sangat diperlukan dalam mencegah terjadinya kejahatan yang berujung pada skandal keuangan. Etika dapat mendorong para profesional keuangan untuk mengedepankan kepentingan nasabahnya (yang umumnya adalah investor ritel yang awam) dan masyarakat umum dibanding kepentingan pribadi dan perusahaan tempat bekerja.

Etika juga dapat mendorong para professional untuk mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan yang mereka lakukan terhadap kondisi pasar modal dan kondisi ekonomi.

Etika yang dijunjung oleh para professional keuangan, yang mengutamakan kepentingan nasabahnya dan masyarakat umum disbanding kepentingan pribadi dan perusahaan tempat bekerja, dapat memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan oleh profesional keuangan saat mereka menghadapi situasi dilematis dalam pengelolaan keuangan nasabah.

Seorang pemasar reksa dana tanpa etika mungkin hanya berupaya mengejar target jumlah dana yang dihimpun, tetapi pemasar dengan etika juga akan memperhatikan kecocokan produk reksa dana tersebut dengan profil nasabah. Seorang manajer investasi di perusahaan asuransi jiwa tanpa etika mungkin hanya berupaya mengejar return yang tinggi, tetapi manajer dengan etika juga akan menjaga komposisi portofolio aset keuangan sesuai mandat investasi.

Keberadaan etika pada pasar modal harus dimulai dari perusahaan tempat para profesional bekerja dan etika tersebut harus menjadi budaya dalam perusahaan tersebut. Aplikasi etika harus dicontohkan oleh atasan dan meresap dalam kegiatan sehari-hari bawahan. Pemahaman mengenai pentingnya etika dalam pengelolaan dana nasabah di pasar modal dapat menumbuhkan kesadaran dalam benak para professional keuangan bahwa tindakan mereka dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap profesi mereka dan terhadap pasar modal.

Kesadaran tersebut pada akhirnya dapat mengikis ego pribadi dalam meraup laba di pasar modal dengan beragam praktik yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah dikeluarkan oleh OJK dan BEI.

*) Konsultan keuangan independen dan dosen FEB Universitas Telkom

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN