Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ivan Apthioman, Direktur Utama PT Ciptadana Multifinance

Ivan Apthioman, Direktur Utama PT Ciptadana Multifinance

Jasa Factoring sebagai Katalis Bisnis UMKM

Kamis, 5 Desember 2019 | 11:14 WIB
Ivan Apthioman

Tantangan terkait sumber pembiayaan merupakan masalah klasik yang sering menjadi penghambat pertumbuhan bisnis mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Padahal, tidak hanya perbankan yang dapat menyediakan pendanaan formal bagi industri UMKM, namun terdapat sumber pendanaan lain seperti factoring atau yang dikenal dengan anjak piutang.

Seyogianya anjak piutang dapat menjadi penolong bagi bisnis kecil/ menengah, di mana pelaku bisnis dapat memperoleh fasilitas pembiayaan dalam bentuk pembayaran di muka (advanced payment) atas tagihan yang dimiliki.

Pelaku UMKM seringkali memiliki kendala terbatasnya akses ke sumber permodalan seperti perbankan. Sementara pergerakan arus kas yang lambat kerap menjadi masalah yang menghambat bisnis.

Dengan adanya anjak piutang, pelaku UMKM dapat memperoleh pendanaan dengan mengalihkan piutang yang dimiliki ke perusahaan pembiayaan. Piutang usaha yang termasuk dalam administrasi penjualan dapat ditangani oleh perusahaan pembiayaan, sehingga pelaku usaha dapat memusatkan konsentrasinya pada usaha peningkatan produksi dan penjualan.

Lebih jauh, adanya penerimaan cashflow yang lebih baik karena jasa anjak piutang juga dapat meningkatkan credit standing pelaku bisnis itu sendiri, dan pada akhirnya membuka akses yang lebih besar ke perbankan atau bentuk pendanaan formal lain.

Namun demikian, meskipun sudah dikenal cukup lama di Indonesia, industri anjak piutang masih belum banyak dikenal oleh pelaku UMKM. Penetrasi anjak piutang tergolong masih lemah di Indonesia.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, piutang pembiayaan jenis modal kerja, yang sebagian besar merupakan portofolio anjak piutang, mencapai Rp 25 triliun atau tumbuh sebesar 9,2% year-on-year pada periode September 2019.

Apabila dibandingkan dengan kredit yang diberikan perbankan kepada sektor UMKM sebesar Rp 1.040 triliun, anjak piutang baru mencapai kurang dari 3% terhadap total kredit UMKM di perbankan. Padahal, penetrasi perbankan sendiri bagi kalangan UMKM masih tergolong cukup rendah.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) menyatakan bahwa hanya 20% dari total 63 juta pelaku UMKM yang sudah mendapatkan akses ke kredit perbankan. Karena itu, fasilitas anjak piutang dapat menjadi katalis bagi perkembangan bisnis UMKM yang belum optimal, khususnya untuk menjawab kebutuhan modal kerja di tengah likuiditas perbankan yang ketat dan semakin selektifnya industry perbankan dalam menyalurkan kredit.

Penggunaan jasa anjak piutang di Indonesia juga masih tergolong amat rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara lain. Rasio volume factoring terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia tercatat sebesar 0,09%, lebih rendah dibandingkan Thailand (1,24%), Vietnam (0,19%), dan Malaysia (0,12%).

Penetrasi factoring juga masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara maju seperti Jerman dan high income-countries di mana volume factoring sudah mencapai >5% dari total PDB.

Penetrasi anjak piutang yang rendah ini terutama disebabkan oleh literasi keuangan yang masih minim di kalangan UMKM. Perusahaan multifinance sebagai penyedia jasa anjak piutang tergolong masih sedikit dan terpusat di DKI Jakarta.

Di saat yang sama, perusahaan financial technology atau fintech melakukan penetrasi yang masif terutama di segmen kecil/menengah, namun pada umumnya masih berupa invoice financing melalui peers-to-peers lending (P2P).

Terdapat perbedaan antara invoice financing dengan anjak piutang, di mana dalam anjak piutang terdapat pengalihan piutang terhadap pihak ketiga atau dalam hal ini perusahaan pembiayaan/multifinance.

Sedangkan dalam invoice financing, piutang tidak dialihkan namun digunakan sebagai underlying investasi. Sehingga dengan adanya perbedaan karakter dan masih terbuka luasnya pasar anjak piutang, P2P lending belum menjadi kompetitor bagi industri anjak piutang tetapi masih menjadi pelengkap bagi kebutuhan bisnis UMKM, sekaligus pendorong literasi keuangan bagi UMKM itu sendiri.

Adanya penetrasi yang lebih luas baik dari fintech maupun jasa anjak piutang, dapat memberikan dampak positif bagi sektor UMKM secara keseluruhan.

Seiring dengan perkembangan sektor UMKM, hal yang paling penting adalah bagaimana menjawab keseimbangan antara kebutuhan (demand) pembiayaan dengan supply dari pembiayaan itu sendiri.

Karena itu, inovasi maupun kolaborasi dari perusahaan pembiayaan konvensional dan fintech dapat menjadi solusi. Keduanya dapat bersama-sama meningkatkan penetrasi produk pembiayaan bagi UMKM. Di mana perusahaan pembiayaan yang selama ini menyediakan jasa anjak piutang memiliki kelebihan dari sisi sumber pendanaan yang lebih stabil dan credit risk culture yang mapan, sementara fintech dapat meningkatkan penetrasi melalui penggunaan teknologi yang lebih luas.

Dengan adanya literasi dan inklusi keuangan yang lebih baik, pada akhirnya kegiatan anjak piutang dapat menjadi katalis bagi perkembangan UMKM di Indonesia dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Ivan Apthioman, Direktur Utama PT Ciptadana Multifinance

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN