Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kala Benda Mati Seolah Hidup

Selasa, 2 Januari 2018 | 09:47 WIB
Oleh Abdul Salam Taba

Fenomena semua benda bakal terhubung ke internet, tampaknya bukan lagi pepesan kosong. Indikasinya, terlihat dari makin maraknya penggunaan teknologi IoT (intenet of things) yang berfungsi memperluas konektivitas internet secara kontinu dan menyokong komunikasi antarperangkat di mana dan kapan saja, sepanjang ada akses internet.

 

Dengan fungsi itu, barang seperti jam tangan, kulkas, AC, lampu, telemetri, kamera pengontrol, dan benda apapun, termasuk makhluk hidup, bisa tersambung ke jaringan lokal maupun global dan membuat benda mati seolah bernyawa (hidup).

 

Proses ini dimungkinkan karena IoT disokong fungsi registrasi dan koleksi data, analisa sinyal dan interpretasi, serta koneksi antarperangkat, sehingga setiap benda bisa berkomunikasi dan dikendalikan dengan mudah. Pertanyaannya, apa yang dimaksud IoT dan kapan teknologi itu mulai dikenal? Benarkah teknologi yang dinilai bisa menyokong pengembangan digitalisasi dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru ini, tidak perlu diregulasi dan distandardisasi?

 

Terlepas benar atau salah, bagaimana seharusnya pemerintah dan pemangku kepentingan terkait menyikapi fenomena IoT agar penerapannya berdayaguna dan berhasilguna. Sejatinya, IoT bertujuan memperluas manfaat dan konektivitas internet secara terus menerus (ubiquitous) yang dilenggkapi dengan fitur kecerdasan buatan, sensor, konektivitas, dan otomatisasi, serta fungsi analisis, koleksi, dan integrasi data tanpa tenggat waktu.

 

Dengan fitur itu, pekerjaan yang secara teknis operasional bersifat kompleks dan sulit, bisa dilakukan dengan mudah, cepat, dan efisien, tanpa terhalang ruang dan waktu. Awalnya, istilah IoT dipakai oleh Kevin Ashton pada 1999 selaku direktur eksekutif Auto-ID Center di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Pada tahun yang sama ditemukan perangkat RFID (radio frequency identification) global yang banyak digunakan oleh militer AS dan di semua toko ritel Walmart pada 2003 RFID. Pada 2008 internet protocol (IP) mulai dipakai di jaringan smart object untuk mengaktifkan IoT, dan peluncuran IPv6 pada 2011 telah memicu pesatnya pertumbuhan IoT yang didukung perusahaan multinasional seperti Cisco, IBM, dan Ericson.

 

Secara fungsional, Iot digunakan oleh masyarakat, pemerintah, dan industri untuk berbagai keperluan seperti smart home, smart city, smart office, dan smart factories, dan sistem pendukung bekerja jarak jauh (telecommuting/ telework). Pada tahun 2016, bos Facebook, Mark Zuckerberg, berhasil membuat smart home seperti Jarvis --asisten pribadi buatan yang dipakai Tony Stark si Iron Man di film Avengers—yang dapat diperintah menyalakan dan memadamkan perangkat elektronik seperti TV, AC, dan membuka pintu hanya dengan suara.

 

Di instansi pemerintah, IoT dipakai memonitor dan mengelola sampah seperti yang diterapkan oleh Cincinatti, Amerika Serikat dengan program “pay as you throw”. Program ini berhasil menurunkan volume sampah masyarakat 17% dan meningkatkan volume daur ulang sampah hingga 49%. Penerapan IoT untuk pengelolaan sistem air cerdas di Kota Doha, Sao Paulo, dan Beijing juga bisa mengurangi kebocoran air 40-50%.

 

Adapun penggunaan IoT pada jaringan listrik pintar, menurut McKinsey Global Institute, mampu menghemat US$ 200 miliar hingga US$ 500 miliar per tahun hingga 2025 (https://id.m.wikipedia.org; 15/12/2017).

 

Sementara di industri, setidaknya ada lima alasan mengapa IoT perlu diadopsi oleh perusahaan di berbagai industri ke dalam strategi transformasi rantai suplai mereka (https://arenalte.com; 23/11/2017). Pertama, memicu inovasi yang dapat meningkatkan produksi dan keuntungan. Karena dengan data real time yang terhubung ke proses bisnis perusahaan, manajemen dapat mendiagnosa potensi permasalahan lebih awal dan memecahkan masalah yang berakibat mengurangi produksi dan keuntungan yang bisa diraup.

 

Kedua, dengan memanfaatkan data real time ke dalam proses bisnis perusahaan, manajemen dapat mengambil keputusan terbaik yang sesuai dengan minat pelanggan dan target perusahaan. Ketiga, meningkatkan efisiensi perusahaan karena dengan menghubungkan armada dan kargo ke IoT, peralatan yang digunakan dapat lebih diberdayakan, peningkatan estimasi waktu tiba pelanggan atau produk lebih akurat, dan pengurangan biaya yang tidak perlu.

 

Keempat, perusahaan memperoleh pemahaman dan wawasan secara real time dari aset-asetnya yang terhubung ke IoT. Kelima, perusahaan dapat memonitor pekerjaan, kesehatan, lokasi, dan kepatuhan setiap pekerja --baik yang berada di dalam maupun di luar kantor-- guna memastikan keselamatannya dan memitigasi risiko.

 

Di Indonesia sendiri, IoT banyak dimanfaatkan untuk sistem penanda ketinggian air banjir, pengontrolan lalu-lintas kendaraan, dan berbagai aplikasi kota cerdas (smart city) lainnya di berbagai daerah seperti Jakarta, Makassar, dan Aceh, misalnya.

 

Selain itu, digunakan mendeteksi keberadaan dan kondisi barang. Contohnya, pemakaian kode batang (barcode) pada sebuah produk barang membuat bisa dilihat barang mana yang laris dan kurang diminati, serta memprediksi produk yang stoknya harus ditambah atau dikurangi. Pun, IoT dipakai industry perangkat elektronik, rumah tangga, gawai, hingga mainan anak.

 

Dengan berbagai kegunaan tersebut, IoT diprediksi menjadi salah satu layanan yang bertumbuh secara eksponensial seiring merebaknya kecerdasan buatan dan aplikasi. Hasil studi Gartner menunjukkan peningkatan kuantitas pengguna layanan IoT secara global dari tahun ke tahun, di mana pada 2017 berjumlah 8,4 juta atau naik 31% dibanding 2016, dan mencapai 20,4 juta pada 2020. Sementara pemakai terbanyak pada 2017 adalah masyarakat dengan jumlah aplikasi 5,2 miliar unit atau setara 63% dari total pengguna aplikasi IoT (www.gartner.com; 7/2/2017).

 

Menurut Teguh Prasetya, founder Indonesia IoT Forum, pasar IoT saat ini sudah terbentuk secara nasional dan terus bertumbuh secara organik dengan pangsa pasar pada 2022 diprediksi akan mencapai Rp 444 triliun. Dari jumlah itu, porsi konten dan aplikasi sebesar Rp 192,1 triliun, disusul platform sebesar Rp 156,8 triliun, perangkat IoT sebesar Rp 56 triliun, serta network dan gateway sebesar Rp 39,1 triliun (www:metrotvnews.com; 29/8/2017).

 

Data Indonesia IoT Forum memprediksi ada sekitar 400 juta perangkat sensor yang terpasang di Indonesia pada 2022. Sebanyak 16% digunakan industri manufaktur, 15% kesehatan, 11% asuransi, 10% perbankan dan keamanan, masing-masing 8% pada ritel dan layanan komputasi, 7% pemerintahan, 6% transportasi, 5% utilities, masing-masing 4% pada properti, layanan bisnis dan pertanian, serta 3% sisanya untuk perumahan dan lain-lain.

 

Namun di balik pertumbuhan pengguna dan berbagai manfaat yang ditawarkan, IoT ternyata masih gampang terpapar dari serangan virus. Karena selain ekosistem perangkatnya dibuat dan terhubung secara konstan dengan jaringan lokal dan global, sistem keamanannya pun lemah dan mudah diretas. Akibatnya, keamanan data dan privasi pengguna belum bisa terjamin dengan baik.

 

Secara praktis, serangan virus terhadap IoT dapat dilakukan secara pasif dan aktif. Serangan pasif terjadi dengan cara memanfaatkan kelemahan dari keamanan perangkat maupun jaringan IoT. Jenis serangan ini tidak mudah dideteksi karena penyerang (hacker) memiliki banyak celah dan jalan masuk, termasuk melalui aktivitas internal untuk mencuri data rahasia pengguna.

 

Sementara serangan aktif dilakukan hacker dengan menjadikan perangkat dan jaringan IoT sebagai sasaran utama. Caranya, dengan melakukan remote access dan teknik sybil atau DDoS (distributed denial of service) yang membuat perangkat seperti webcam nirkabel, kamera CCTV dan monitor bayi rentan dieksploitasi. Bahkan serangan ini dapat mematikan peralatan medis di rumah sakit.

 

Kelemahan lainnya adalah kerumitan dan kompleksitas dalam hal desain, penyebaran, dan pemeliharaan totalitas sistemnya sehingga belum dapat berkembang secara progresif. Sebab, integrasi teknologi IoT dengan teknologi dan perangkat lainnya tidak fleksibel yang berakibat komunikasi (keterhubungan) antarperangkat dengan berbagai aplikasi di back-end belum bisa nyambung secara otomatis.

 

Berbagai kekurangan tersebut bukannya menyurutkan upaya pengembangan IoT, tapi justru makin menyulut perusahaan multinasional, serta organisasi/lembaga kajian dan standardisasi nasional maupun internasional (ITU, IEEE, ITSO, FCC, UL, JIS atau TA S), untuk meningkatkan keamanan, kegunaan dan interoperabilitasnya dengan teknologi dan perangkat lainnya. Di Indonesia, upaya ini dimotori oleh BPPT dengan bersinergi beberapa perusahaan IT dan universitas negeri ternama.

 

Adanya keinginan agar IoT tidak perlu diregulasi dan distandardisasi, sebagaimana dinyatakan Ketua Indonesia Cyber Security Forum, Ardi Sutedja dengan dalih karena teknologinya masih dinamis dan berevolusi setiap saat (http://m.bisnis. com; 11/9/2017), sepintas lalu tampaknya beralasan. Karena jika diatur dan distandardisasi, apalagi kalau regulasi dan standardisasinya terlalu banyak dan ketat, akan berpotensi kontra produktif dan menghambat perkembangan IoT.

 

Namun bila dicermati, alasan itu tidak tepat. Sebab, IoT sudah digunakan oleh masyarakat, pemerintah dan perusahaan, sehingga jika tidak diregulasi dan distandardisasi akan merugikan dan membahayakan masyarakat (konsumen). Logikanya, regulasi dan standardisasi berfungsi “memagari” berbagai kepentingan konsumen akibat sistem keamanannya yang belum terjamin.

 

Selain itu, regulasi menciptakan persaingan sehat antarprodusen dan mendorong interoperabilitas antara teknologi IoT dengan teknologi dan perangkat lainnya, termasuk inovasi dan peningkatan potensi kegunaan IoT secara lebih luas. Karena itu, pemerintah dan pebisnis serta pemangku kepentingan terkait lainnya perlu bekerjasama dan bahu-membahu mengatasi berbagai hal yang masih menjadi kelemahan IoT, sambil terus berupaya mengembangkan manfaat dan potensi lainnya. Caranya, mendukung dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan pengembangan IoT, baik secara teknis operasional (peningkatan sistem keamanan dan interoperabilitas, misalnya) maupun dari segi regulasi dan standardisasinya. Dengan cara ini, Indonesia tidak hanya mampu mengembangkan desain, platform, dan perangkat lunak maupun perangkat keras, tapi juga dapat melindungi masyarakat dari dampak negatif penggunaan IoT.

 

Abdul Salam Taba, Alumnus Fakultas Hukum Universitas Bosowa 45 Makassar dan School of Economics The University of Newcastle, Australia

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN