Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aviliani, Ekonom senior Indef

Aviliani, Ekonom senior Indef

Kalkulasi Dampak Ekosistem Ultramikro bagi Perekonomian Nasional

Kamis, 6 Mei 2021 | 14:40 WIB
Aviliani *)

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terus menjadi penyelamat ekonomi nasional saat krisis. Pada krisis 1997/98 lalu, saat korporasi besar terpuruk, UMKM tetap bertahan. Data Badan Pusat Statistik (2021) menunjukkan bahwa sepanjang 1998, sumbangan produk domestik bruto (PDB) UMKM tumbuh hingga 52% (year on year/yoy). Sedangkan nilai ekspor UMKM naik hingga 76% (yoy).

Saat itu, UMKM menyerap hingga 64,31 juta tenaga kerja yang tersebar di 36,81 juta unit usaha. Pun dengan krisis keu angan global 2008, UMKM tetap kokoh bah kan bisa tumbuh cukup baik. Jumlah UMKM mencapa 51,4 juta (naik 2,52% dari tahun sebelumnya).

Penyerapan tenaga kerja mencapai 94,02 juta atau naik 3,9% (yoy). Pada tahun tersebut, pertumbuhan sumbangan PDB UMKM mencapai 6,04% (yoy) dan pertumbuhan nilai ekspor mencapai 26,82% (yoy).

Salah satu faktor yang menentukan ketahanan UMKM saat krisis adalah dampak krisis itu sendiri. Pada krisis 1998 dan krisis keuangan global, krisis tidak menyerang sisi permintaan dan pe nawaran (demand and supply) secara bersamaan.

Pada krisis 1998, sisi permintaan domestic memang turun tetapi permintaan global tetap tinggi. Pada krisis keuangan global, ekonomi global yang terpuruk, sedangkan ekonomi domestik relatif kokoh. Hal inilah yang mendorong UMKMtetap survive pada dua periode krisis tersebut karena permintaan relatif tidak terpengaruh.

Situasi yang sangat berbeda terjadi pada krisis pandemi Covid-19, di mana dampak krisis menekan sisi permintaan dan penawaran bersamaan. UMKM pun terpuruk karena permintaan menurun dan kemampuan produksi pun terganggu.

Dalam berbagai kalkulasi, dampak pandemi Covid-19 menyebabkan kelumpuhan UMKM. Asosiasi UMKM Indonesia (2021) menyebutkan sekitar 30 juta UMKM yang terdampak pandemi pada 2020 akhirnya gulung tikar. Hanya sekitar 34 juta unit (dari total 64 juta unit) UMKM yang dapat bertahan selama 2020.

Tentu, kondisi tersebut menekan kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia. Pada 2020, kontribusi UMKM terhadap PDB mencatat level terendah dalam beberapa tahun terakhir, yaitu hanya 37,3%.

Sebelumnya, UMKM menyusun sekitar 57-60% dari PDB nasional. Dampak keterpurukan UMKM juga terekam dari sektor ketenagakerjaan. Agustus lalu 2020, jumlah pengangguran mencapai 9,77 juta (7,07%). Pengangguran karena pandemic Covid-19 mencapai 2,56 juta (Badan Pusat Statistik, 2020).

Dukungan Ekosistem Ultramikro

Dalam struktur UMKM Indonesia, sebagian pelaku usaha berada pada skala usaha mikro. Kementerian UMKM dan Koperasi (2020) mencatat pada 2019 sekitar 64,6 juta unit usaha di Indonesia merupakan usaha mikro (UMi). Jumlah tersebut men capai 98,67% dari total unit usaha di Indonesia.

Pada bagian lain, jumlah usaha kecil (UK) sekitar 798 ribu atau 1,22% dari total unit usaha di Indonesia. Dalam hal penyerapan tenaga kerja, UMi mempekerjakan hingga 119,5 juta pekerja atau 96,92% dari total tenaga kerja tahun 2019. UMi mengisi sekitar 37,35% dari PDB (harga berlaku) tahun 2019. Pada sisi kontribusi ekspor nonmigas dan investasi, UMi masih relatif kecil, masing-masing 1,4% dan 6,75% pada tahun 2019. Data-data tersebut menegaskan bagaimana peranan UMi dalam perekonomian Indonesia.

Akan tetapi, persoalan yang dihadapi oleh unit usaha tersebut bergerak pada aspek-aspek fundamental, seperti masalah administrasi pemilik (seperti alamat pemilik maupun alamat usaha) hingga dukungan pembiayaan.

Baru-baru ini pemerintah menggagas ekosistem holding ultramikro dengan berbagai tujuan. Pemerintah menilai bahwa ekosistem dapat menyelesaikan persoalan- persoalan fundamental yang dihadapi oleh ultramikro baik dari sisi keberlangsungan usaha hingga sektor pembiayaan.

Pada dasarnya, ekosistem ultramikro mengintegrasikan bisnis BRI, Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM). Sejak lama, ketiga BUMN tersebut fokus pada pembiayaan mikro dan ultra mikro. Pemerintah menargetkan selama empat tahun ke depan, integrasi ketiga BUMN tersebut dapat membiayai 30 juta nasabah baru.

Secara keseluruhan, ekosistem ultramikro berdampak positif pada beberapa hal. Pertama, penguatan dan integrasi data nasabah. Data menjadi aset yang sa ngat berharga. Ketersediaan dan akurasi data menjadi fondasi baik bagi holding BUMN untuk arah pengembangan ekosistem ke depan maupun menjadi acuan bagi pemerintah untuk merumuskan berbagai kebijakan strategis.

Kedua, peningkatan akses keuangan. Selama ini, persoalan yang dihadapi pelaku usaha mikro dan ultra mikro adalah sulitnya mengakses pembiayaan formal sehingga bisnis tidak berkembang bahkan mati. Sebagian besar unit usaha ultra mikro masih di kategorikan unbankable. Situasi semakin sulit karena sektor perbankan menggunakan prosedur formal sehingga meminggirkan pe laku usaha mikro dan ultra mikro.

Pelaku usaha mikro dan ultra mikro hanya mengandalkan modal pribadi. Inilah faktor yang menjadi penyebab sulitnya kelompok usaha tersebut berkembang. Pintu masuk peningkatan akses keuangan bagi pelaku usaha ultramikro muncul dari peluang penurunan suku bunga yang lebih rendah. Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara/BUMN (2021) menjelaskan bahwa penurun an suku bunga tersebut cukup lebar karena BRI memiliki cost of fund yang relatif rendah, sekitar 2,3%.

Hal tersebut bisa mengompensasi biaya dana PMN dan Pegadaian yang relatif masih tinggi, sekitar 9-10%.

Ketiga, ekosistem ultramikro menjadi entry point seseorang men jadi wirausahawan sehingga harus dirawat dan didukung. Model bisnis ekosistem ultramikrobukan hanya fokus pada pembiayaan tetapi juga pemberdayaan.

Sisi pemberdayaan dilakukan oleh PNM, sedangkan aspek pengem b angan bisnis digarap oleh Pegadaian. BRI menjadi pihak yang mengelola sisi pembiayaan sehingga usaha ultramikro naik kelas.

Ketika proses tersebut berjalan dengan baik, maka Indonesia akan mampu mencetak wirausahawan baru dalam jumlah besar. Sampai saat ini, wirausahawan sangat langka di Indonesia. Angkanya sekitar 3% dari populasi. Situasi yang demikian menyebabkan kebergantungan lulusan/tenaga kerja pada ketersediaan lapangan kerja relatif tinggi.

Dengan ekosistem ultramikro, pola pikir tenaga kerja harus bergerak dari pencari kerja menjadi penyedia lapangan kerja.

Konsep tersebut sangat relevan, apalagi di tengah-tengah lonjakan pengangguran selama pandemic Covid-19 Ekosistem ultramikro yang digagas pemerintah patut didukung karena memberikan dampak po sitif (spillover) bukan hanya bagi pelaku usaha tetapi juga bagi perekonomian secara keseluruhan.

Dengan ekosistem tersebut, per soalan-persoalan fundamental yang dihadapi pelaku usaha mikro secara perlahan dapat diatasi. Harapannya, usaha-usaha ultra mikro terus berkembang dan dapat menjadi penyangga ketika ekonomi terpuruk.

*) Ekonom Senior Indef

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN