Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Kardinal Suharyo, Pelayan yang Rendah Hati

Paulus Mujiran, Minggu, 22 September 2019 | 07:33 WIB

Pemimpin tertinggi umat katolik seluruh dunia, Paus Fransiskus pada Minggu, 1 September 2019 lalu menunjuk Monsinyur (Mgr) Ignatius Suharyo yang kini Uskup Keuskupan Agung Jakarta menjadi Kardinal. Dalam tradisi Gereja Katolik, seorang Kardinal adalah pribadi nan unggul sekaligus istimewa karena dipilih dari sekian banyak uskup untuk menggembalakan umat secara kolegial bersama Paus. Pelayanan Kardinal tidak hanya sebatas teritorial keuskupan, melainkan meluas hingga lintas batas negara.

Menurut Wikipedia, Kardinal adalah pejabat senior dalam Gereja Katolik Roma. Berada di bawah Paus dan ditunjuk langsung oleh Paus sebagai anggota Dewan Kardinal. Tugas Kardinal ialah menghadiri rapat dalam dewan suci dan bersedia siap sedia hadir baik secara pribadi maupun bersama-sama kapan Paus membutuhkan nasihatnya.

Umumnya para Kardinal memiliki tugas tambahan memimpin suatu Keuskupan atau departemen dalam Kuria Romawi. Akan tetapi, peran utama Kardinal adalah memilih Paus baru bila terjadi kekosongan (sede vacante) tahta keuskupan Roma karena kematian atau pengunduran diri Paus yang lama.

Hanya Kardinal yang masih berusia di bawah 80 tahun dapat menghadiri konklaf untuk memilih Paus. Kardinal berasal dari bahasa Latin “cardo” yang berarti “yang utama”, “pimpinan”. Pengangkatan pejabat dari luar Roma ini mulai berjalan sejak abad ke-12. Bagi bangsa Indonesia, pengangkatan Kardinal ini mempunyai makna istimewa. Kedudukan Kardinal merupakan penasihat Paus yang dapat menyampaikan aspirasi bangsa Indonesia. Apalagi tidak semua Negara yang terdapat umat katolik mempunyai Kardinal. Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapat kehormatan mempunyai Kardinal.

Dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia kita pernah mempunyai tiga orang kardinal yang bijaksana dan rendah hati.Mereka itu adalah mendiang Yustinus Kardinal Darmayuwono yang meninggal pada 3 Februari 1994, kemudian juga Yulius Kardinal Darmaatmaja yang kini sudah purna tugas dan tinggal di Wisma Lansia Novisiat Serikat Jesus di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah. Kini ketika Kardinal Darmaatmaja memasuki purna karya karena sudah berusia 84 tahun, Indonesia diberikan rahmat istimewa oleh tahta suci Kardinal baru yang akan dilantik pada konsistori oleh Paus Fransiskus pada 25 Oktober mendatang di Vatikan.

Uskup Agung Ignatius Suharyo (sumber: facebook)
Uskup Agung Ignatius Suharyo (sumber: facebook)

Suharyo lahir di Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 9 Juli 1950. Putra pasangan Florentinus Amir Hardjodisastra dan Theodora Murni Hardjodisastra. Cita-cita kecilnya sebenarnya ingin menjadi polisi namun justru berubah menjadi pastor ketika ada seorang pastor menghampiri dirinya menanyakan apakah ia mau menjadi pastor. Pada tahun 1961 Suharyo masuk Seminari Menengah MertoyudanMagelang dan pada tahun 1976 ditahbiskan sebagai imam praja Keuskupan Agung Semarang. Tujuan memilih imam praja sederhana karena bisa menjadi pastor paroki.

Sepulang dari meraih gelar doctor Teologi Biblis di Universitas Urbania Roma, Suharyo ditugaskan menjadi dosen dan dekan di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta sampai ditunjuk oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang. Ia ditahbiskan menjadi uskup pada 22 Agustus 1997 dengan motto, “dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan”.

Dan pada 29 Juni 2010 ditunjuk menjadi Uskup Keuskupan Agung Jakarta menggantikan Yulius Kardinal Darmaatmaja SJ yang memasuki masa pensiun. Dengan Kardinal baru Mgr. Ignatius Suharyo, Indonesia kini memiliki dua kardinal yang masih “sugeng”. Memang dari segi usia Yulius Kardinal Darmaatmaja tidak lagi berpeluang memilih dan dipilih menjadi Paus. Namun peluang Paus dipilih dari Indonesia sangat besar khususnya bagi Ignatius Suharyo. Ignatius Kardinal Suharyo merupakan sosok pelayan yang rendah hati baik sebagai imam praja Keuskupan Agung Semarang maupun sebagai uskup.

Ia memilih semboyan “Serviens Domino Cum Omni Humilitate” (Kisah Rasul 20:19), yang artinya “Aku Melayani Tuhan dengan Segala Rendah Hati” sebuah bagian dari perikop perpisahan Santo Paulus dengan para penatua di Efesus. Sebagai seorang Uskup, ia memilih untuk tidak menggunakan zucchetto dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam memimpin Misa, serta tidak menggunakan tongkat gembala ketika memberikan homili.

Ia tegas pada saatnya harus tegas, adil dan menjunjung tinggi belarasa dan kepedulian kepada mereka yang tertindas. Ia juga bukan orang yang menggebu-gebu alias terlalu bersemangat tetapi kalem dan sederhana. Dalam praksis penggembalaannya, Suharyo menerapkan manajemen modern, yakni partisipatif dengan melibatkan semua kalangan.

Ia jauh dari kesan otoriter karena memegang tongkat kegembalaan dengan rendah hati. Ia berslogan Jawa, “ngajangi ombo” yang berarti piring yang luas untuk semua aktivitas umat. Dalam bahasa Romo A. Budi Purnomo: tidak mempersulit yang mudah dan mempermudah yang sulit. Ini berbeda dengan kebanyakan orang yang cenderung kalau dipersulit untuk apa dipermudah demi mendapatkan keuntungan individu.

Dengan menjadi Kardinal sesungguhnya perannya lebih luas karena dapat menjadi corong perdamaian dan menjadi jembatan dalam menciptakan kerukunan umat beragama di Tanah Air.

Sebagai Kardinal di negara penduduk muslim terbesar di dunia tentu peran itu tidak dapat diabaikan begitu saja. Ini juga sebuah kebanggaan karena Paus dan Vatikan memandang penting keberadaan Indonesia dalam percaturan global. Sikapnya yang selalu berbelarasa mendatangkan kegembiraan dan harapan bagi sesama.

Tentu saja kita berharap sikap rendah hati itu menjadi jiwa pelayanan semua orang yang dijumpainya. Selamat mengemban tugas Bapa Kardinal untuk gereja dan masyarakat Indonesia.

Paulus Mujiran, Tokoh Katolik, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA