Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Staf Khusus Menteri Perhubungan RI

Staf Khusus Menteri Perhubungan RI

Keamanan dan Kenyaman Bersepeda

Minggu, 21 Februari 2021 | 05:33 WIB
Abdulhamid Dipopramono *)

Pandemi Covid-19 juga menjadikan kegiatan bersepeda (gowes) semakin marak. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, semakin banyak orang berangkat dan pulang kerja menggunakan sepeda, bukan hanya saat berolahraga atau bersantai. Berbagai merek sepeda yang har ganya puluhan juta—bahkan ada yang di atas seratus juta—juga se makin banyak terjual di Indonesia.

Jumlah produksi pabrikan sepeda di dalam negeri semakin meningkat dan volume impor sepeda bermerek juga terus bertambah. Semuanya terserap oleh pasar. Kini tumbuh banyak klub atau komunitas pesepeda di berbagai kota dan daerah. Acara gowes massal dengan tujuan menggairahkan wisata juga rutin diadakan; seperti Tour de Borobudur dan Tour de Flores.

Menggenjot sepeda kini menjadi gengsi tersendiri, apalagi jika yang digenjot adalah sepeda branded. Padahal pada dasawarsa ‘70- an sampai ‘90-an bersepeda belum menjadi kegiatan yang dilirik masyarakat maupun pemerintah. Bahkan sepeda waktu itu dianggap simbol kendaraan milik masyarakat bukan kelas atas. Pelajar dan mahasiswa tidak tertarik menggenjotnya karena merasa lebih berkelas jika naik mobil dan sepeda motor.

Di banyak daerah, sepeda lebih lazim dipakai para buruh pabrik, pedagang pasar, petani, dan mahasiswa yang “pas-pasan” ekonominya.

Kebijakan Pemerintah

Semakin maraknya pesepeda dalam berbagai aktivitas membuat pemerintah harus mengantisipasinya. Secara fisik, di berbagai kota mulai dibuat lajur khusus pesepeda pada jalan-jalan utamanya, meskipun masih lambat perkembangannya.

Kini tuntutan perhatian terhadap pesepeda tidak cukup hanya soal-soal fisik dalam hal penyediaan infrastruktur, seperti lajur khusus di jalan raya dan area parkir saja, tapi juga di peralatan, asesoris, dan perilaku pesepeda. Terus eskalatifnya jumlah pengguna sepeda serta maraknya kecelakaan dan kriminalitas yang menimpa mereka, membuat pemerintah pusat—dalam hal ini Kementerian Perhubungan—menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 59/2020 pada September 2020.

Permenhub ini antara lain bertujuan menjamin keselamatan pesepeda; dengan mengatur berbagai persyaratan seperti harus adanya spakbor, bel, sistem rem, lampu, alat pemantul cahaya warna merah, alat pemantul cahaya di roda, dan soal pedal. Spakbor harus mampu mengurangi percikan air dan memiliki lebar minimal sama dengan ban. Bel bisa bersumber dari arus listrik dan getaran, yang penting harus selalu dalam kondisi baik.

Demikian juga rem, harus berfungsi baik (pakem). Lampu harus bisa menyala dan dipasang di bagian depan dan belakang sepeda. Ada alat pemantul cahaya berwarna merah dipasang di antara rak bagasi dan spakbor. Alat pemantul roda berwarna putih atau kuning dipasang pada jari-jari roda sepeda. Dan pedal harus di lengkapi dengan alat pemantul cahaya berwarna merah atau kuning di bagian atas dan bawah permukaannya.

Di luar aspek fisik tersebut juga ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar orang bisa aman dan nyaman bersepeda; misalnya tidak boleh berjajar lebih dari dua orang di jalan umum, pemakaian helm dan baju-celana yang aman dan memenuhi standar, merawat sepeda secara ru tin, melewati jalur dan lajur yang te lah ditentukan. Selain itu, serta secara pribadi memahami penyakit bawaan yang memiliki risiko, untuk prakiraan jarak tempuh dan kecepatan yang boleh dicapai dalam meng-gowes.

Keamanan dan Kenyamanan

Data kematian yang menimpa para pesepeda selama ini tidak saja disebabkan oleh kecelakaan fisik seperti tertabrak mobil atau sepeda motor, saling sangkut antarsepeda, atau terjatuh karena kondisi jalan yang buruk; tetapi juga karena penyakit bawaan seperti jantung atau ayan yang mendadak kambuh.

Ancaman keamanan dan kenyamanan bersepeda juga bisa berasal dari tindak kriminalitas. Sudah ba nyak kejadian para pesepeda dirampas telepon genggamnya, jam tangannya, dompetnya, tas cangklongnya, atau pehiasannya (bagi peng-gowes perempuan).

Merampas barang-barang seperti itu lebih gampang bagi pelaku criminal di banding merampas sepedanya. Namun, meskipun sepedanya ti dak dirampas, mewahnya sepe da yang digunakan seseorang bisa digunakan indikator oleh pa ra pembegal bahwa peng-gowes ter sebut orang kaya, sehingga te le pon genggam, tas, jam tangan, dan perhiasan yang dipakai dianggapnya berharga mahal.

Atau isi dompetnya tebal. Oleh karenanya, ketika bersepeda juga dianjurkan untuk tampil sederhana. Demi keamanan, Kementerian Perhubungan juga menganjurkan agar dalam menggunakan sepeda ke kantor pada jam-jam sibuk, pesepeda menyambung perjalanan dengan moda angkutan umum, apa lagi jika jarak dari rumah ke kantor cukup jauh dan melewati ja lur-jalur ramai.

Mengayuh terlalu jauh apalagi di jalanan dengan lalu lintas padat, sangat mengandung risiko. Sudah banyak moda transpor ta si umum saat ini yang memberi fa si litas dan menggratiskan biaya “ba waan” penumpang berupa sepeda, utamanya untuk sepeda lipat, de mi keamanan dan kenyamanan pesepeda.

Faktor Kesehatan

Selain akibat penyakit-penyakit bawaan yang bisa mencelakai pesepeda, pada masa pandemi juga banyak hal yang harus diperhatikan oleh pesepeda, utamanya tentang protokol kesehatan. Memang tidak ada aturan khusus bagi pesepeda dalam menghadapi pandemi atau penularan Covid-19 selain rumus umum berupa 3M, yakni selalu memakai masker, selalu mencuci ta ngan, dan menjaga jarak.

Namun harus diperhatikan juga bahwa ketika seseorang sedang mengayuh sepeda, ia akan bernapas intensif. Dan ketika ia mengembuskan napas intensif itu akan menyemburkan percikan cairan (droplet), sehingga masker tidak boleh sekali-sekali dilepas atau kendor. Apalagi jika di belakangnya ada pesepeda lain atau masyarakat umum yang berjalan kaki di sekitar.

Semburan droplet pesepeda berpotensi menularkan Covid-19. Bagi pesepeda, titik riskan untuknya di masa pandemi bukan hanya saat mengayuh di perjalanan tetapi juga ketika berhenti dan beristirahat, lalu makan-minum bersama, ngobrol bersama, dan in teraksi lain secara berkelompok.

Pada saat ini rumus 3M dirasa kurang leng kap sehingga harus ditambah menjadi 5M, dengan tambahan membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan. Bersepeda adalah suatu kegiatan melakukan mobilitas dan berpotensi menciptakan ke rumunan, oleh karena itu para pesepeda harus selalu waspada.

*) Staf Khusus Menteri Perhubungan RI

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN