Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Kebajikan Kebijakan Kebencanaan

Jumat, 12 Maret 2021 | 22:36 WIB
Nirwono Joga *)

Ketika membuka rapat koordinasi nasional penanggulangan bencana 2021 di Istana Negara, Jakarta, 3 Maret 2021, Presiden Joko Widodo mengingatkan kembali bahwa Indonesia merupakan negeri rawan bencana. Dalam setahun Indonesia dilanda 3.253 bencana atau sembilan bencana per hari, baik berupa bencana alam (banjir, tanah longsor, gempa, likuefaksi, tsunami, kebakaran) maupun nonalam (pandemic Covid-19, demam berdarah dengue).

Bencana (musibah) disebutkan dalam Alquran sebanyak 75 kali berbanding lurus dengan kata syukur yang juga memiliki angka sama dalam penyebutan. Hal ini mengisyaratkan bahwa hampir semua musibah (bencana) yang terjadi atas manusia adalah dikarenakan manusia lalai, melupakan syukur (QS As-Syura: 30). Allah juga menegaskan agar manusia jangan berbuat kerusakan di muka bumi (QS Al-Maidah: 64; QS Al-Qashash: 77).

Bencana disebabkan dari alam sebagai ketentuan Allah, seperti gempa bumi (QS Al-A’raf: 78), aktivitas vulkanik gunung berapi (QS An-Naml: 88), tsunami (QS al-Infithar: 3). Bencana karena perbuatan manusia seperti tanah long sor akibat penggundulan hutan, banjir karena tata ruang yang salah (QS Ar-Rum: 41). Lalu, langkah apa yang harus dila kukan?

Pertama, manusia harus memahami kausalitas (hukum sebab akibat) terjadinya bencana. Manusia dapat memiliki pemahaman yang utuh mengenai mengapa sebuah bencana bisa terjadi. Menyadarkan tanggung jawab terhadap sebab akibat bencana, mengubah pola pikir dan kebiasaan buruk yang mengakibatkan terjadinya suatu bencana.

Manusia tidak boleh menebang pohon berlebihan atau tidak membuang sampah sembarangan, sebaliknya kita dituntut untuk menghijaukan bumi dan melestarikan alam. Kota/kabupaten dipersiapkan dapat bertahan terhadap guncangan tanpa gangguan permanen atau gagal fungsi, memiliki kecenderungan untuk memulihkan diri atau menyesuaikan secara mudah terhadap perubahan mendadak atau kenahasan.

Kota dirancang untuk mencegah terjadinya bencana (antisipasi), mengurangi ri siko bencana (mitigasi), serta menyesuaikan terhadap perubahan bencana (adaptasi). Kedua, manusia adalah makhluk yang dibekali akal dan nafsu yang ditunjuk sebagai kalifah di bumi, perwakilan Allah di bumi. Manusia bisa menjadikan alam ini baik, sebaliknya bisa pula membuat alam hancur. Allah telah mengamanatkan tata kelola bumi kepada manusia. Apabila tunduk pada aturan-Nya, maka alam akan dijaga, namun jika melanggar, Allah akan memberikan peringatan dengan mengizinkan terjadinya bencana.

Nikmat alam yang diberikan kepada kita hendaknya disyukuri, karena dengan bersyukur, kita akan merawat apa yang telah di be rikan untuk kita. Nikmat ke har monisan alam seperti silih berganti siang dan malam, musim kemarau dan hujan, kehangatan matahari dan air hujan. Kita akan menjaga dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar berkah dan terhindar dari musibah dan adzab (QS Ibrahim: 7).

Ketiga, untuk meminimalisasi terjadinya bencana pemerintah harus memperkuat sistem masya rakat setiap daerah untuk pe duli dan berperan aktif dalam pencegahan terjadinya bencana sebagai tanggung jawab bersama.

Manusia harus memahami perannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi dalam mengatur dan menjaga alam (QS Al-Baqarah: 30). Manusia dibekali akal untuk berpikir memahami ilmu pengetahuan, mengidentifikasi, menguraikan dan memberi solusi dalam mengantisipasi dan memitigasi bencana, serta beradaptasi hidup di daerah rawan bencana. Manusia bertugas menjaga suasana lingkungan agar tetap kondusif untuk kehidupan manusia dan makhluk lainnya, menjaga bumi agar tidak rusak.

Keempat, tugas dan fungsi manusia sebagai kalifah harus selalu menjadi bagian muhasabah dan dzikir agar kita bisa selalu sigap dan siap siaga jika terjadi bencana. Pemerintah harus meningkatkan kapasitas dan kemampuan masyarakat untuk menjaga alam, menghadapi berbagai ancaman bencana, serta memberikan edukasi dan literasi kebencanaan. Pemerintah harus membangun semangat kepedulian masyarakat kepada pelestarian alam sebagai tempat kita hidup dan menabur amal soleh. Sikap kepedulian terhadap ancaman bencana yang dapat terjadi di sekeliling kita, meringankan penderitaan korban bencana, serta sikap mitigasi bencana.

Kelima, dalam perspektif manusia, bencana memiliki tujuan sebagai ujian atau cobaan (Bala’, Imtihan, Ibtila’) dan Bala’ diberikan Sang Khalik untuk menguji hamba yang Ia cintai, untuk mengukur seberapa besar keimanan dan kesabaran umatnya (QS Al-Baqarah: 155). Jika Ia berkehendak suatu kebaikan atas hamba-Nya, maka hamba itu akan dimuliakan (QS Al-Fajr: 16-17), diangkat derajatnya manakala mampu menerima dengan sabar dan ikhlas. Karena tidak ada peristiwa yang terjadi di alam ini melainkan atas izin dan kehendak-Nya (QS Al-Hadid: 22; QS At-Taghabun: 11).

Berbagai bencana alam dan nonalam yang melanda Tanah Air harus mampu menyadarkan kita semua untuk melakukan introspeksi dan merefleksi diri terhadap hubungan manusia dengan Sang Pencipta (hablum minnallah), relasi sesama manusia (hablum minannas), serta korelasi terhadap alam (hablum minalam). Semoga.

*) Ketua Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN