Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Kekayaan Pluralisme Sumpah Pemuda

Paulus Mujiran, Senin, 28 Oktober 2019 | 11:26 WIB

Tanggal 28 Oktober 1928, the founding fathers berikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Komitmen ini menjadi awal pengikat kolektif dari Sabang sampai Merauke. Kita sudah berkali-kali memperingati Sumpah Pemuda. Sayangnya, kebersamaan yang mulai ditumbuhkan sejak Sumpah Pemuda 1928 kerap kurang tampak dari reaksi kolektif kita. Akhir-akhir ini rasa kebersamaan sebuah bangsa terasa memudar.

Rendahnya rasa kebersamaan menjadi awal aneka konflik internal komunitas bangsa. Konflik internal akan kian terasa jika bangsa majemuk ini dilihat dari sisi etnis, agama, bahasa, ataupun geografis bergesekan. Risiko retaknya persatuan mudah sekali terasa. Kebebasan akibat gerakan reformasi bukan membuat kita sebagai bangsa saling mencintai, namun saling benci dan membunuh. Isu SARA menjadi senjata ampuh untuk memecah belah persatuan dan kesatuan.

Jika pendahulu kita dapat melahirkan semangat kebersamaan yang tinggi melalui Sumpah Pemuda, seharusnya di era reformasi ini, kebersamaan itu lebih dapat ditumbuhkan. Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tonggak sejarah semangat persatuan bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar untuk melawan kekuatan penjajah yang salama itu menjadi momok yang sangat menakutkan.

Padahal, semangat persatuan yang digelorakan begitu menghebohkan keadaan masyarakat yang pada saat itu masih menganut primordialisme yang sangat kuat. Ikatan-ikatan yang berdasarkan kedaerahan seperti asal, bahasa, warna kulit dan sebagainya seolah melebur menjadi satu semangat yang patut diperhitungkan.

Mereka begitu peduli terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara ini. Butir-butir isi Sumpah Pemuda seolah ingin menyerukan bahwa persatuan merupakan jalan yang sangat ampuh dalam menyelesaikan permasalahan yang melilit bangsa ini. Muara Sumpah Pemuda akhirnya berujung pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pendiri bangsa percaya, persatuan dan kesatuan bangsa menjadi modal berharga merebut kejayaan bangsa ini dalam kemerdekaan.

Bila kita melihat kondisi bangsa ini maka yang ada di benak kita adalah kondisi bangsa yang rapuh. Di negara-negara berkembang, pembangunan politik demokrasi sangat menentukan namun tidak mudah untuk menyelesaikan pembentukan bangsa (nation building), baik fisik maupun karakter suatu bangsa. Apalagi bagi bangsa multietnis, multiras, dan multibudaya seperti Indonesia.

Merujuk Affan Gaffar dalam buku Transisi Menuju Demokrasi (1990), salah satu masalah pembangunan bangsa adalah persoalan pembentukan bangsa (nation building) yang belum selesai. Bagaimana mengubah loyalitas yang bersumber dari suku, ras, agama, dan bahasa menjadi loyalitas tunggal terhadap negara dengan nama Indonesia. Loyalitas tentu saja bukan kepatuhan semu melainkan ketaatan total kepada bangsa dan negara.

Gagasan membumikan kembali Sumpah Pemuda harus terintegrasi dengan integrasi kebangsaan. Myron Weiner dalam buku Introduction to the civilization of India developing India (1978) menyebut, integrasi bangsa merupakan salah satu aspek dari integrasi politik yang diperlukan tiap negara. Aspek lain dari integrasi politik itu adalah integrasi wilayah, nilai, elite-massa dan tingkah laku.

Untuk mencapai integrasi politik, Weiner mengajukan strategi integrasi; yakni para elite penguasa merekam aspirasi masyarakat, menghindari jurang pemisah antara masyarakat dan negara, serta melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan bagi pembangunan suatu bangsa.

Oleh karena itu baik individu, kelompok, maupun masyarakat merelakan sebagian kebebasan mereka untuk kepentingan yang lebih besar, yakni ikatan bangsa-negara untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan. Dalam batas-batas tertentu, kondisi integrasi suatu bangsa menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan, bahkan dalam beberapa pemikiran disebut sebagai kata kunci. Tujuan pembanguan tidak tercapai, apabila suatu bangsa mengalami disintegrasi.

Oleh karena itu, ketika toleransi suku dan agama mulai pudar, pudar pulalah integrasi kita. Kekuatan toleransi itu memang tidak berdiri sendiri. Belajar dari semangat Sumpah Pemuda, toleransi menjadi kekayaan yang luar biasa dahsyat. Sadar bahwa kita hidup dalam alam perbedaan. Pluralisme menjadi kekayaan sebagai bangsa.

Sumpah Pemuda mengingatkan kita semua bahwa Indonesia ini adalah milik kita bersama, tidak peduli dari kalangan agama atau suku yang mana pun, atau dari kalangan aliran politik yang bagaimana pun. Sumpah Pemuda telah mengikrarkan bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah-air dan satu bahasa. Tetapi, Sumpah Pemuda hanya bisa betul-betul dihayati atau dipatuhi, kalau semua merasa mendapat perlakuan yang adil.

Sumpah Pemuda hanya bisa betul-betul diakui atau ditaati secara bersama dengan sepenuh hati, kalau semua merasa dihargai setara. Adalah pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda, kalau ada golongan yang mau memaksakan secara sewenang-wenang paham keagamaannya atau aliran politiknya. Sumpah Pemuda mengingatkan kita semua, bahwa di Indonesia tidak boleh ada golongan yang merasa ditindas, dianak-tirikan, dikucilkan, atau diabaikan.

Dengan semangat dan jiwa asli Sumpah Pemuda yang dicetuskan dalam tahun 1928, kita perlu berusaha bersama-sama untuk menjadikan Indonesia sebagai milik kita bersama. Indonesia adalah untuk semua golongan, yang merupakan berbagai komponen bangsa. Dengan mengibarkan panji-panji Sumpah Pemuda, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila kita perlu berjuang terus bersama-sama demi kepentingan seluruh rakyat, demi kesejahteraan dan kedamaian berbagai golongan suku, keturunan, agama, dan aliran politik.

 

Paulus Mujiran

Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata, tinggal di Semarang

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA