Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Keluarga dan Kota Layak Anak

Nirwono Joga, Kamis, 1 Agustus 2019 | 10:47 WIB

Anak adalah harapan dan investasi bangsa Indonesia di masa depan. Kualitas anak-anak akan menentukan Indonesia menjadi bangsa yang kuat atau lemah.

Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli yang tahun ini mengambil tema “Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak” merupakan momentum untuk mendorong keluarga menjadi benteng utama dan lembaga pertama dalam melindungi anak.

Peringatan HAN bertujuan memunculkan kepedulian semua pihak untuk mewujudkan lingkungan dan keluarga yang berkualitas bagi anak, dan arti penting peningkatan kualitas anak melalui pola pengasuhan yang berkualitas dalam upaya perlindungan anak.

Keluarga perlu berperan aktif dalam memberikan pola asuh yang nondiskriminatif, kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta menghargai pandangan anak. Hal ini dapat dimulai dengan mengembangkan lingkungan di tingkat rumah, sekolah, hingga mewujudkan kota layak anak (KLA). KLA selaras dengan Keputusan Presiden No 36/1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak-hak Anak, Undang-Undang Dasar 1945 (pasal 28b, 28c), Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1/2016 tentang Perlindungan Anak, dan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Anak No 2/2009 tentang Kebijakan Kota Layak Anak.

KLA adalah sistem pembangunan kota/kabupaten yang mengintegrasikan komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk pemenuhan hakhak anak. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Pertama, pembangunan KLA ber tujuan membangun inisiatif pemerintah kota/kabupaten yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak-hak Anak dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi, dan intervensi pembangunan dalam bentuk kebijakan, program, dan kegiatan, dalam upaya pemenuhan hak-hak anak, pada wilayah kota/kabupaten.

Langkah konkretnya, orang tua menciptakan rumah sehat dan keluarga hangat agar anak merasa aman dan nyaman tinggal dan bermain di rumah. Orang tua juga mendampingi anak saat menonton tayangan televisi, menggunakan komputer dan gawai, serta memberikan tuntunan edukatif dan kisah inspiratif kepada anak.

Lingkungan permukiman dan taman didesain yang rapi dan asri untuk menjadi tempat bermain anak dan berinteraksi sosialisasi antartetangga. Pepohonan teduh, udara segar, kicauan burung, aneka serangga, kembang indah di taman, dan hamparan rumput hijau merupakan ruang belajar anak untuk menumbuhkan kecintaan dan kepedulian terhadap alam. Anak-anak menjadi gembira dan sehat, belajar dengan riang. Gembira adalah ekspresi lahir batin. Ada unsur pembelajaran, penalaran, melatih kepekaan hati dan kecerdasan otak bagi tumbuh kembang anak.

Penyediaan taman bermain dan lapangan olah raga yang memadai dapat meredam konflik sosial, menghapus tawuran antarkampung atau antarsekolah, dan menjadi ruang untuk melepas kepenatan hidup di kota. Mereka akan tumbuh sehat jasmani, rohani, dan sosial.

Kedua, strategi pengembangan KLA adalah pengarusutamaan dan pengintegrasian hak-hak anak ke dalam setiap proses penyusunan (kebijakan, program, kegiatan) dan tahapan pembangunan (perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi), di tingkat kota/kabupaten.

Penerapan zonasi pendidikan membuka peluang untuk menata ulang kawasan permukiman menuju ke/dari sekolah. Pemerintah menyediakan jalur ke sekolah berupa infrastruktur pejalan kaki (trotoar, zebra cross atau pelican crossing, jembatan penyeberangan orang) dan jalur sepeda (rambu, marka, parkir), serta penetapan zona aman sekolah.

Sekolah ramah anak pada prinsipnya mengembangkan iklim dan budaya akademik yang penuh keramahan, toleransi, dan saling menghargai. Berbagai aktivitas di luar kelas dan halaman sekolah menjadi ruang bermain, berolah-raga, hingga upacara bersama. Kegiatan proyek sosial, pentas seni, pelatihan keterampilan, dan aksi pelestarian untuk melatih kepedulian anak terhadap lingkungan sekitar.

Ketiga, ruang lingkup KLA meliputi pembangunan tumbuh kembang dan perlindungan anak sebagai wujud pemenuhan hak anak. KLA diwujudkan dengan pendekatan holistik, integratif, dan berkelanjutan. Anak-anak diperkenalkan dan diajak terlibat sesuai kemampuan dalam mengolah sampah (kurangi, pakai lagi, daur ulang), mengelola air lestari (hemat air, membawa botol minuman sendiri), menghemat listrik dan mengenalkan energy alternatif (surya, bayu, biogas).

KLA menghidupkan semangat saling menghargai, toleransi, kerja sama, dan tolong-menolong di antara sesama dan lingkungan sekitar, mulai dari skala rumah, sekolah, permukiman, hingga kota.

Keempat, indikator KLA adalah tersedianya pemenuhan atas hak anak di segala bidang sebagai warga kota, berperan dan berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan pembangunan kota sesuai kemampuan dan kebutuhan anak.

Dengan demikian, pemerintah kota/kabupaten harus memenuhi, melindungi, dan menghormati hak anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum, urutan kelahiran, dan kondisi fisik dan/atau mental.

Kelima, rencana pembangunan KLA harus masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, rencana anggaran pendapatan dan belanja daerah, serta rencana kerja perangkat daerah agar dapat dilaksanakan dinas terkait. Pemerintah kota/kabupaten harus memiliki peraturan daerah tentang KLA dan (jika belum) membentuk dinas pemberdayaan perempuan dan anak yang bertanggung jawab dalam pengembangan KLA. Lembaga/komunitas masyarakat, dunia usaha, dan media massa juga dilibatkan.

Oleh karena itu, pemerintah daerah semestinya membangun sarana-prasarana kota yang ramah anak, mulai dari menyediakan trotoar dan jalur sepeda, taman bermain dan lapangan olah raga, menata sungai dan waduk/danau, memanusiawikan pedagang kaki lima, meremajakan kampung kumuh, serta menjamin ketersediaan udara sehat dan air bersih. Mewujudkan kota layak anak merupakan keharusan, bukan pilihan.

Nirwono Joga, Koordinator Pusat Studi Perkotaan

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA