Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Dosen MET Atmajaya

Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Dosen MET Atmajaya

Kerugian BP Jamsostek Murni Risiko Investasi

Kamis, 25 Februari 2021 | 12:37 WIB
Hans Kwee *)

Kasus dugaan penyimpangan pengelolaan investasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial(BPJS) Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) mulai diselidiki Kejaksaan Agung. Beberapa nama manajer investasi (MI) besar ikut diperiksa Kejaksaan Agung dalam kasus ini.

Beberapa teman mengirim pertanyaan melalui pesan singkat kepada penulis: sebenarnya ada apa dengan BPJS TK? Apakah kasusnya bisa seperti Jiwasraya? Apakah akan ada risiko gagal bayar karena para MI besar terlibat?

Mungkin beberapa teman khawatir karena selama ini menaruh dana investasinya di beberapa MI yang namanya disebut ikut diperiksa Kejagung. Penulis sempat melakukan kontak dengan beberapa pengurus MI yang diperiksa oleh Kejaksaan Agung untuk konfirmasi, sebenarnya apa yang terjadi.

Kesimpulan yang penulis dapatkan adalah ke rugian yang terjadi di BPJS TK, baik di investasi langsung saham maupun melalui reksa dana, sebenarnya adalah risiko investasi yang terjadi karena penurunan harga saham secara umum akibat pandemi Covid-19. Virus corona baru yang dinyata kan WHO sebagai pandemic C vid-19 pada 9 Maret 2020, telah me nimbulkan kekhawatiran yang sangat besar.

Hal ini memaksa ba nyak negara untuk melakukan lockdown untuk mengurangi penye baran virus corona baru ini. Indonesia yang awalnya relatif aman dari virus corona, mencatatkan ka sus pertama dan kedua pada awal Maret dan sesudah itu kasus terus naik.

Pemerintah Indonesia terpaksa melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengendalikan penyebaran virus ini seperti yang dilakukan negara lain. Dampak pembatasan sosial adalah demand dan supply shock, yang sangat mengganggu roda perekonomian sehingga berpotensi membawa ekonomi banyak Negara ma suk ke jurang resesi. Kondisi ini tentu memengaruhi potensi laba perusahaan publik yang listing di bursa efek sehingga terjadi penurunan harga saham secara se rentak.

Potensi penurunan laba dan kekhawatiran yang meningkat telah mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) turun dari awal tahun 2020 di level 6.300-an menjadi 3.911 pada Maret 2020. Maka hampir semua instrumen investasi, baik itu saham maupun reksa dana, mengalami kerugian akibat hal tersebut.

Dari saham blue chip yang berfundamental baik dengan likuiditas bagus sampai saham yang dianggap third liner. Memang ada saham yang ti dak turun, yaitu saham-saham yang sudah di harga 50 atau batas harga terendah dan saham yang tidak ada transaksi.

Bila kerugian investasi dianggap sebagai kerugian negara, tentu akan merepotkan. Apalagi potensi kerugian BPJS TK karena belum direalisasikan atau unrealized loss. Tentu semua orang perlu memahami bahwa investasi mengandung risiko, dan salah satunya adalah risiko turunnya nilai investasi produk yang dibeli.

Dalam dunia investasi berlaku prinsip: high risk high return, sehingga membeli saham atau reksa dana yang punya potensi return tinggi tentu ada potensi penurunan nilai juga. Melihat data yang ada, saham-saham yang ada di BPJS TK rata-rata masuk indeks LQ45 atau minimal pernah ada di dalam indeks tersebut.

Itu artinya saham-saham tersebut selama ini aktif diperdagangkan atau likuid. Selain itu, melihat list saham yang ada, sebagian adalah saham-saham BUMN yang menerapkan tata kelola perusahaan (good corporate governance/GCG) relatif baik. Dari list saham yang tersebar di berbagai media massa, penulis berpendapat mayoritas punya fundamental yang baik.

Dikabarkan di tahun 2016 pihak BPJS TK pernah menolak pembelian saham PT Hanson International (MYRX), sebuah emiten yang tersangkut kasus Jiwasraya. Alasan penolakan saham MYRX karena tidak masuk kriteria yang disyaratkan. Ini menunjukkan BPJS TK punya SOP yang baik dalam pemilihan saham. Sedangkan reksa dana yang dimiliki BPJS TK semua dikelola oleh manajer investasi (MI) besar. Ternyata dalam memilih reksa dana, syarat yang harus dipenuhi oleh MI juga tidak mudah.

Ada metode scoring dan grading terhadap MI dan reksa dana yang dianggap layak dibeli. Salah satu yang dilihat adalah kredibilitas para pengelola dana dan dana kelolaan harus di atas Rp 1,5 triliun.

Melihat nama MI yang dipilih BPJS TK, penulis percaya bahwa para pengelola dana tersebut profesional, punya reputasi yang baik dan kecil sekali peluangnya diaturatur pihak lain dalam melakukan pengelolan dana. Beberapa teman di MI yang cukup besar tetapi tidak kebagian dana dari BPJS TK pernah bilang bahwa metode pemilihan MI oleh BPJS TK adalah sangat hati-hati.

Selain itu, para MI ketika mengelola dana di BPJS TK mendapatkan fee yang relatif kecil, sekitar 1%-an. Sisi lain unrealized loss yang terjadi di BPJS TK juga berfluktuasi dari waktu ke waktu. Pada bulan Agustus–September 2020, kerugian yang belum direalisasikan sekitar Rp 43 triliun, lalu pada akhir tahun 2020 kerugian tersebut telah turun ke level Rp 22,33 triliun.

Pada Januari 2021, ketika pasar saham kembali naik akibat optimism dampak positif vaksinasi Covid-19, unrealized loss turun menjadi Rp 14,42 triliun. Bila program vaksinasi berjalan dengan cepat dan efektif, serta dunia mulai terbebas dari pandemi Covid-19, bukan tidak mungkin kerugian tidak direalisasikan tersebut berubah menjadi keuntungan yangbelum direalisasikan.

Melihat hal di atas, penulis berpendapat bahwa kasus kerugian BPJS TK adalah kerugian investasi normal di pasar akibat pandemic Covid-19. Penulis juga yakin para penyidik di Kejaksaan Agung juga menyadari hal ini. Tetapi tulisan ini dibuat lebih untuk memberikan informasi pada masyarakat umum agar tidak resah dan menjadi takut berinvestasi di pasar modal, khususnya di reksa dana.

*) Praktisi Pasar Modal dan Dosen MET Atmajaya

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN