Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Keterkaitan Neraca Pembayaran dan Sistem Pembayaran

Jumat, 5 April 2019 | 09:42 WIB
Achmad Deni Daruri

Terkoreksinya harga saham Nikkei setelah keputusan bank sentral Amerika Serikat untuk tidak akan menaikkan tingkat suku bunga pada tahun 2019 memberikan makna yang serius bagi sistem pembayaran dunia. Negara yang paham akan model Mundell Fleming akan mampu mengoptimalkan sistem pembayarannya dengan kebijakan neraca pembayaran dalam konteks kebijakan moneter maupun fiskal.

Negara yang perekonomiannya tidak mampu memengaruhi tingkat suku bunga dunia akan menghadapi ancaman risiko neraca pembayaran yang lebih tinggi ketimbang negara besar jika bank sentral Amerika Serikat terus melakukan normalisasi kebijakan moneternya.Pada gilirannya risiko neraca pembayaran akan mengancam stabilitas sistem pembayaran.

Stabilitas sistem pembayaran akan semakin terganggu jika covered interest rate parity tidak mencapai keseimbangannya, sehingga nilai masa depan dari nilai tukar mata uang akan terus bergerak untuk mencapai keseimbangannya. Sistem pembayaran saling memengaruhi dengan covered interest rate parity.

Dengan demikian, ancaman terhadap sistem pembayaran dari neraca pembayaran berdasarkan model Mundell Fleming hanya bersifat jangka pendek.

Kebijakan untuk meningkatkan ekspor dan kebijakan fiscal merupakan kebijakan yang buangbuang waktu dan tenaga saja dalam upaya untuk memperbaiki neraca pembayaran dan juga pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, kebijakan moneter merupakan kebijakan yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Masalahnya, kebijakan moneter akan menciptakan ancaman yang serius dalam jangka pendek terhadap neraca pembayaran. Di sinilah ujian yang sesungguhnya sejauhmana neraca pembayaran tidak menyebabkan kolapnya system pembayaran menjadi persyaratan penting bagi keberhasilan operasi moneter dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi.

Ekspansi moneter akan menciptakan capital outflow dan pada gilirannya depresiasi dalam mata uang negara small open economy. Namun demikian, hal ini juga tidak sejalan dengan modern monetary theory karena modern monetary theory tidak mengembangkan model, sehingga model ini tidak mampu mendeteksi inflasi dalam sistem perekonomian. Dengan demikian, modern monetary policy tidak sejalan dengan model Mundell Fleming karena beberapa alasan berikut.

Mundell Fleming secara jelas mengatakan bahwa di era open economy dan sistem nilai tukar mengambang (flexible exchange rate), kebijakan fiskal tidak efektif karena mengancam sistem pembayaran.

Sementara modern monetary theory menganggap ancaman terhadap sistem pembayaran tidak akan ada sekalipun defisit anggaran negara dibiayai oleh utang dengan mata uang domestik. Studi terhadap Jerman di tahun 1920-an memperlihatkan bahwa ancaman itu telah terjadi, di mana sistem pembayaran Jerman kolaps. Begitu juga yang terjadi di negara Amerika Latin.

Kasus paling anyar adalah kejadian di Venezuela, di mana mata uangnya sudah digantikan oleh mata uang krypto. Hal itu dapat terjadi karena pemerintahan Venezuela mengandalkan kepada modern monetary theory dan melupakan Model Mundell Fleming. Modern monetary theory melupakan hubungan dalam sistem pembayaran dengan utang, di mana nilai utang dan pembayaran utang haruslah mengacu kepada present value-nya. Menurut Ray Fair yang juga profesor dari Yale University, ujung-ujungnya adalah inflasi akan meningkat tak terkendali. Bahkan Robert Hall dari Stanford University mengatakan ancaman terjadi karena bank sentral menjaga cadangan (reserve) dan mata uang pada nilai par, sehingga pemerintah tidak akan mampu menciptakan uang.

Di sinilah pasar reserve akan memainkan peran yang dilupakan oleh pendekatan modern monetary policy. Menurut Kennet Judd yang juga pakar ekonomi dari Stanford University yang kesohor itu, dalam jangka panjang pemerintah tidak akan mampu menjual obligasi. Menurut aliran Chicago, inflasi akan menghantam kapasitas dari seigniorate. Jelas sekali tampaknya modern monetary theory mengasumsikan bahwa defisit anggaran pemerintah tidak mengancam neraca pembayaran dan juga sistem pembayaran.

Pemikiran tersebut dapat terjadi karena modern monetary theory menganggap bahwa ekspektasi akan inflasi dapat dibuat turun. Pasar memang dapat mengukurnya, misalnya dengan treasury inflation protected securities. Namun pendekatan ini juga melupakan bahwa ekspektasi inflasi juga dapat naik. Pemikiran dalam modern monetary theory menganggap bahwa perekonomian masih berkutat dalam depresi besar dan juga mengasumsikan sistem pembayaran belum seluruhnya pulih.

Ada keinginan untuk menggunakan kebijakan fiscal sebagai instrumen kebijakan yang utama. Mungkin langkah ini benar adanya jika negara yang terlibat adalah negara besar. Namun bagi small open economy, kebijakan fiskal justru tidak akan pernah efektif ketika terjadi perfect capital mobility dan flexibel exchange rate.

Kembali kepada Venezuela yang merupakan negara small economy, terbukti terpedaya oleh mashab modern monetary theory, di mana kebijakan fiskal terbuki tidak efektif. Venezuela terbukti kaya minyak dan juga terbukti memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun kekayaan ini yang menjadi akar kebanyakan masalah ekonominya.

Keuntungan minyak Venezuela merupakan 95% dari pemasukan ekspor. Ini berarti ketika harga minyak tinggi, banyak uang yang mengalir ke pemasukan pemerintah Venezuala. Ketika Presiden Hugo Chavez dari kelompok sosialis berkuasa, dari bulan Februari 1999 sampai meninggal dunia di bulan Maret 2013, dia menggunakan sebagian dana tersebut untuk membiayai sejumlah program sosial guna mengurangi ketidaksetaraan dan kemiskinan dengan murah hati.

Inflasi tinggi didorong oleh kesediaan pemerintah mencetak uang tambahan dan kesiapannya untuk secara teratur meningkatkan upah minimum guna mendapatkan kembali dukungan warga miskin Venezuela. Pemerintah Venezuela juga semakin kesulitan mendapatkan pinjaman setelah kegagalan sejumlah obligasi.

Sesuai dengan yang dikatakan oleh ekonom-ekonom dari universitas kelas dunia di atas, hasilnya memperlihatkan bahwa kebijakan fiskal dan ekspor tidak efektif dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan juga untuk menjaga sistem pembayaran di negara kecil seperti Venuzuela. Venezuela melupakan kebijakan moneter. Ini juga memperlihatkan bahwa rusaknya neraca pembayaran juga berimplikasi pada rusaknya sistem pembayaran di Venezuela. r

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN