Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muhamad Karim, Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Dosen Universitas Trilogi Jakarta

Muhamad Karim, Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Dosen Universitas Trilogi Jakarta

Kinerja Sektor Kelautan di Masa Pandemi

Jumat, 15 Oktober 2021 | 15:35 WIB
Muhamad Karim *)

Pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih setahun. Perekonomian kita belum pulih, meskipun pertumbuhan ekonomi triwulan II-2021 mencapai 7,07%. Pemerintah tetap gencar menjalankan vaksinasi massal. Hasilnya mulai kelihatan. Lambat laun infeksi Covid-19 menurun.

Kita berharap akhir tahun 2021 pandemi mereda. Aktivitas ekonomi pun kembali menggeliat. Salah satunya adalah sektor kelautan. Pasalnya selamapandemi, sektor kelautan terdampak berat. Kinerja makro ekonomi kelautan belum sepenuhnya membaik. Pemerintah berupaya menggenjot investasi dan ekspor. Supaya ekonomi kelautan membaik dan kesejahteraan nelayan meningkat. Namun, kebijakan yang diambil kerapkali menimbukan polemik.

Di antaranya, terbitnya beragam peraturan pemerintah (PP) sebagai turunan UU Cipta Kerja No 11/2021. Cilakanya ada pula aturan bertentangan dengan UU sektoralnya. Padahal selama pandemi ini, aktivitas masyarakat pesisir pun nyaris lumpuh, meski pemerintah telah menggelontorkan ragam bantuan sosial. Kenya taannya kondisi sosial ekonomi belum pulih sepenuhnya. Lalu, bagaimana kinerja kelautan selama pandemic Covid-19?

Kinerja Kelautan

Setahun lebih masa pandemi berlangsung kinerja kelautan mengalami perkembangan dinamis. Pertama, Badan Pusat Statistik (BPS, 2021) merilis bahwa pertumbuhan ekonomi sektor perikanan triwulan II- 2021 mencapai 9,06%. Angkanya lebih tinggi ketimbang triwulan yang sama 2021 sebesar 6,41%. Produk domestik bruto (PDB) perikanan berdasarkan harga konstan 2010 triwulan I-2021 sebesar Rp 63.649,9 miliar, turun dibandingkan periode sama 2020 sebesar Rp 64.494,5 miliar.

Sementara itu, PDB perikanan sepanjang triwulan II-2021 sebesar Rp 67.729.80 miliar, melonjak drastis dibandingkan triwulan II-2020 sebesar Rp 61.748,40 miliar (BPS, 2021). Hanya saja, kontribusi sektor perikanan terhadap PDB nasional hanya 2,83% (BPS, 2021).

Kedua, laporan Bank Indonesia (BI, 2021) tentang hasil sur vei kegiatan dunia usaha tri wulan II-2021 mengalami akselerasi ketimbang triwulan I-2021. Parameter ini tercermin dari nilai saldo bersih tertimbang (SBT) melonjak dari -0,1% triwulan I-2021 menjadi 0,17% triwulan II-2021. Hal ini mencerminkan per mintaan produk perikanan di tengah Covid-19 kian membaik.

Namun, BI juga memperkirakan nilai SBT bakal turun lagi sebesar -0,06% triwulan III-2021 akibat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat hingga PPKM level 3 dan 4 di wilayah Jawa-Bali.

Ketiga, selama pandemi kinerja kegiatan usaha berimbas terhadap kapasitas produksi ter pakai (KPT) dan penggunaan tenaga kerja (PTK) sektor perikanan. Pada triwulan II- 2021, KPT perikanan 76,58%, lebih tinggi ketimbang triwulan II-2020 sebesar 66,39%. Angka ini mengindikasikan industri perikanan nasional tak dihantui krisis bahan baku ikan. Begitu pula SBT tenaga kerja perikanan triwulan II-2021

sebesar -0,06%, lebih tinggi diban dingkan periode sama 2020 sebesar -0,26%. Nilai ini diperkirakan bertahan hingga triwulan III-2021 sebesar -0,06%. Berarti penggunaan tenaga kerja sektor perikanan hingga triwulan II-2021 diperkirakan stabil.

Bila pemerintah sukses menurunkan infeksi dan kematian akibat Covid-19, permintaan komoditas ikan di pasar internasional maupun lokal bakal membaik.

Ini ditandai SBT harga jual komoditas perikanan triwulan II-2021 sebesar 0,29%, melonjak drastis dibandingkan periode sama 2020 sebesar -0,73% (BI, 2021).

Keempat, hasil kajian Suhana (2021) menyebutkan sepanjang triwulan II-2021, sejumlah ekspor komoditas perikanan melonjak drastis melampaui 10%. Di antaranya adalah ikan layur (13,37%), kerapu (19,77%), ikan hias (22,49%), lobster (24,87%), baraccuda (27,28%), bulu babi (29,21%), kakakp

Merah  (31,56%), rajungan (31,91%), mutiara (37,61%), uburubur (39,55%), ikan pari (43,86%), cumi-sotong-gurita (49,84%), sirip hiu (70,51 %), sea bream (150,10%), cobia (159,98%) dan ikan pipil lainnya (2.343,56%).

Kontribusi terbesar ekspor perikanan Indonesia triwulan II-2021 tetap didominasi udang, dan tuna-tongkol-cakalang (TTC), kendati pun keduanya cenderung turun. Volume ekspor TTC triwulan II-2020 turun 12,20% dibandingkan triwulan II- 2020.

Begitu pula ekspor udang triwulan II-2021 turun 2,36 % dibandingkan triwulan II-2020 (Suhana, 2021).

Kelima, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM, 2021) melaporkan bahwa investasi pe nanaman modal asing (PMA) sektor perikanan sepanjang triwulan I dan II-2021 stagnan di angka US$ 5,2 juta atau setara Rp 72,8 miliar. Angka ini jauh dibandingkan triwulan I-2020 sebesar US$ 34,7 juta dan triwulan II-2020 sebesar US$ 65 juta.

Ilustrasi sektor kelautan
Ilustrasi sektor kelautan

Wabah Covid-19 diduga jadi penyebabnya. Kemerosotannya mencapai 85,01% hingga 92% selama pandemi.

Menariknya, investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) justr u melonjak 58,98%, dari Rp 191,4 miliar (triwulan I-2021) naik menjadi Rp 415,9 miliar (triwulan II-2021). Fakta ini menggembirakan karena investasi domestik lebih besar ketimbang asing. Hal ini mencerminkan tingginya kepercayaan pengusaha domestic berinvestasi di sektor perikanan selama pandemi. Plus, adanya dukungan kebijakan pemerintah berupa insentif dan kemudahan perizinan yang kian efisien dan berbasis digital.

Keenam, tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir diukur dari nilai tukar nelayan (NTN) dan nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi). Sepanjang triwulan II-2021, NTN 104,38 atau melonjak drastis dibandingkan periode sama 2020 sebesar 98,80. Begitu pula NTPi, triwulan II-2021 sebesar 102,54, juga melonjak drastis dari 99,55 dalam periode sama 2020.

Kedua indicator ini membuktikan bahwa pandemi Covid-19 berimbas terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir dan cenderung fluktuatif (BPS, 2021).

Ketujuh, peneriman Negara bukan pajak (PNBP). Hingga Juli 2021, PNB perikanan baru mencapai Rp 324,79 miliar (33,93%) dari target dalam APBN 2021 sebesar Rp 957,19 miliar. PNBP perikanan hingga Juli 2020 capai annya Rp 358,50 miliar (39,82%) dari target APBN 2020 sebesar Rp 900,4 miliar.

Pertumbuhannya pun negatif -8,65% diban dingkan hingga Juli 2020 sebesar 25,7%. Artinya, PNBP perikanan belum optimal dibandingkan pertambangan minerba dan kehutanan tahun2021  (Kemenkeu, 2021). Ragam indikator kinerja makro struktural ekonomi kelautan di atas menunjukkan sektor kelautan belum pulih sepenuhnya. Setidaknya: pertama, penelitian Wiradana et al (2021) menemukan bahwa transportasi laut yang berperan dalam rantai pasok (supply chain) mengalami penurunan ekspor dan impor kargo hingga 14-18% ke Tiongkok, Singapura dan Korea Selatan selama pandemi Covid-19. Otomatis rantai pasok ekspor maupun impor barang dan jasa kelautan terganggu.

Kedua, Covid-19 berimplikasi terhadap merosotnya permin taan komoditas perikanan di pasar internasional hingga 30-40%.

Di Indonesia harga ikan pun merosot 50% (Sari et al 2020). Ditambah pula kesulitan nelayan dan industri perikanan memasarkan hasil tangkapannya (Kholis et al. 2020) selama pandemi. Kendati begitu, sepanjang triwulan II-2021 kinerjanya mulai menunjukkan tren positif dan membaik.

Kebijakan

Hingga kini wabah Covid-19 belum juga mereda. Pemerintah mesti mengembangkan kebijakan inovasi-kreatif supaya komoditas kelautan memberi nilai tambah ekonomi.

Pertama, pemerintah mendorong lembaga riset dan perguruan tinggi untuk mengembangkan diversifikasi pangan berbasis kelautan yang berpotensi meningkatkan imunitas masyarakat.

Pemerintah bisa menugaskan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Pasalnya, biodiversitas kelautan Indonesia amat kaya dan melimpah buat memproduksi pangan yang mampu mem perkuat daya ta han tubuh. Riset

Zang (2020) berjudul Potential In terventions for No vel Coronavirus in China: A Systematic Review menyebutkan potensi nutrisi makro dan mikro nutrien untuk menangani infeksi virus secara umum, yakni vitamin A, B, C, D, E, asam lemak Omega 3, dan jenis mineral yaitu salinium, zat besi, dan zinc. Aneka nutrisi ini ditemukan dalam ikan.

Jadi, mengenjot PNBP perikanan tak mesti mengeksploitasi sumber daya ikan dan mengundang kapal asing beroperasi di perairan kita.

Melainkan, mengembangkan juga aktivitas ekonomi berbasis biodiversitas kelautan yang bernilai tambah.

Kedua, pemerintah mesti mengembangkan dan memfasilitasi platform digital buat memasarkan produk-produk ke lautan. Kalau perlu pemerintah mengembangkan BUMN khusus platform digital. Gagasan ini sebagai bentuk peran Negara dalam memberikan manfaat sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Ia bertugas memasarkan ragam produk kelautan maupun non-kelautan. Ia beroperasi tak hanya di pusat, melainkan melebarkan sayapnya di seluruh wilayah Indonesia lewat kemitraan setara dengan BUMD, koperasi, dan UMKM.

*) Dosen Agribisnis Universitas Trilogi Jakarta/ Direktur Center for Ocean Development and Maritime Civilization Studies (COMMITs).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN