Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Konsolidasi Akumulasi Aset dan Ekuitas

Minggu, 24 Oktober 2021 | 06:11 WIB
Fauzi Aziz *)

Penulis percaya ada fenomena serta dinamika ekonomi dan bisnis yang bisa memengaruhi siklus bisnis seluruh unit institusi ekonomi. Mereka itu adalah institusi ekonomi negara, institusi ekonomi perusahaan swasta, dan institusi ekonomi rumah tangga.

Selama masa pandemi Covid-19 hampir semua institusi ekonomi "lumpuh" akibat tertekan oleh perpu taran Covid-19.

Liga ekonomi global harus "takluk" dengan tim liga Covid-19 yang datang pertama kali dari Wuhan, Tiongkok. Amazing, luar biasa,terus apa yang terjadi setelah itu? Yang bisa kita lihat dan kita catat adalah bahwa pada tahun 2020 ekonomi Tiongkok masih tumbuh positif, meskipun hanya 2,3%, dan Vietnam hanya 2,9%.

Sejumlah negara lain tumbuh ne gatif, yakni AS (-3,5%), UE (-6,4%), Korsel (-1, 0%), Hong Kong (-6,1%), Singapura (-5, 8%), dan Indonesia (-2, 07%). Yang tumbuh positif tapi sedang tidak begitu incoming adalah Tiongkok dan Vietnam. Yang tumbuh negatif dan tidak incoming adalah AS, UE, Hong Kong, Singapura, Indonesia, dan Korsel.

Akibat tidak sedang incoming, utang global selama setahun pandemi Covid-19 naik US$ 24 triliun. Semua negara cenderung mengalami debt trap karena total nilai aset lancar, ekuitas, dan pendapatan turun drastis akibat siklus bisnis yang hanya bisa bergerak seperti siput.

Tahun ini adalah fase konso li dasi untuk pemulihan yang ru tenya juga sangat terjal. Upaya yang ditempuh tidak sekadar supaya siklus bisnis kembali nor mal, tapi harapannya adalah bah wa nilai aset lancar, ekuitas, dan pendapatan yang disumbang institusi-institusi ekonomi dapat kembali expected income and profit.

Kegiatan produksi dan distribusi barang dan jasa harus diberikan kesempatan untuk berputar kembali meskipun belum full speed agar bisa segera bayar gaji buruh dan karyawan yang sekian lamanya dirumahkan. Melunasi tagihan para vendor dari kegiatan industri terkait dan industri pendukung, mulai bisa mencicil pinjaman jangka pendek yang sempat direstrukturisasi, dan menghimpun kembali kekuatan supaya mampu mencetak laba bersih sehingga bisa bayar dividen, tanpa harus melepaskan aset tetapnya.

Kita rawat dulu seluruh harapan ini hingga semua kembali pulih. Beri kesempatan seluruh in stitusi ekonomi bisa bernapas lega menghirup udara segarme nyong song hari esok yang lebih baik. Jangan dulu bebani di pundak mereka beban yangse jatinya belum mampu mereka pikul. Fase konsolidasi untuk pemulihan ini juga harus memberi ruang kepada investor baru untuk merealisasikan rencana investasinya yang selama ini tertunda atau wait and see.

Jelas berarti bahwa selama fase konsolidasi untuk pemulihan ini, mekanisme pasar diharapkan tidak mengalami gangguan dan hambatan akibat adanya kebijakan dan regulasi yang tidak propasar. Semua produk kebijakan dan regulasi, baik yang akan dibuat oleh pemerintah pusat/daerah yang secara potensial justru menimbulkan sentimen negatif di pasar sebaiknya ditunda saja, sambil dilakukan kaji ulang aspek biaya dan manfaatnya.

Ilustrasi siklus bisnis
Ilustrasi siklus bisnis

Penulis perlu sampaikan catatan ini karena hampir sebagian besar kinerja dari setiap institusi ekonomi dalam berbagai skala usaha pada dasarnya sangat tergantung dari sifat kebijakan makro ekonomi yang memengaruhinya, baik kebijakan fiskal mau pun kebijakan moneter.

Apa yang menjadi harapan adalah harus pro-bisnis atau pro-pasar. Berarti bahwa ada sejumlah tan tangan yang lazim perlu direspons, yakni: (1) harus efektif mengendalikan inflasi (kenaikan harga barang dan jasa, (2) kebijakan makro ekonomi hadir un tuk menstimulasi investasi mo dal agar ICOR-nya rendah, (3) dapat mengelola nilai tukar mata uang karena bisnis lebih membutuhkan stabilitas ketimbang volatilitas, dan (4), dapat efek tif menangani pengangguran.

Lalu (5), mengelola APBN secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel agar dapat menekan defisit anggaran, serta (6) dapat memitigasi dampak gejolak ekonomi eksternal agar kegiatan ekonomi dalam negeri tetap survival.

Secara singkat berarti bahwa kebijakan makro ekonomi sebagai penjaga pasar, fasilitator dan katalisator pasar, serta sebagai pelindung pasar (market protection) dapat berfungsi optimal mengawal semuanya itu tanpa menimbulkan distorsi pasar.

Dari hal-hal yang penulis sampaikan tersebut, siapapun yang mendapat mandat mengelola kebijakan ekonomi makro, maka secara teknokratik pasti akan menjalankan politik ekonomi makro dengan platform seperti yang penulis bahas tersebut di atas. Meskipun tetap akan meng akomodasi pula faktor non eko nomi dalam pengambilan ke putusan penting dan strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Jadi sejatinya bahwa proses yang sedang berjalan ini adalah fase di mana seluruh institusi ekonomi sedang melakukan proses konsolidasi internal agar dapat kembali ke pasar dengan ha rap an baru. Mereka sedang men coba melakukan re-balancing agar bisa survival, tumbuh dan ber kembang dalam situasi normal baru. Re-balancing supply-demand, re-balancing produksi dan distribusi barang dan jasa.

Melakukan konsolidasi neraca perusahaan dan neraca laba-rugi, merapikan utang-piutang agar tidak terjadi gagal bayar dan tidak ada piutang ragu-ragu, dan menghindari terjadinya penghapusan piutang.

On-top dari itu adalah penyelamatan cashflow dan pelepasan persediaan barang dalam gudang. Case pembebasan PPn-BM kendaraan roda-4 cc 1.500 ke bawah adalah ca ra pemerintah membantu kesulitan penjualan mobil yang dihadapi produsen dan distributor.

Hal itu terjadi karena produksi mo bil minus 46,37%, dan perdagangan mobil wholesale minus 48,35% (sumber BPS, 2020).

Dalam proses konsolidasi untuk pemulihan tersebut maka ke bijakan makro ekonomi semestinya lebih fokus memberikan ruang bagi proses konsolidasi bagi setiap institusi ekonomi, tanpa ada beban tambahan sedikitpun hingga semua kembali berjalan normal.

Tindakan untuk menaikkan suku bunga dan tarif pajak saat ini bukan merupakan upaya yang tepat untuk dilakukan. Menaikkan tarif PPN semakin membuat Garuda tidak bisa terbang. Pun jika harga tarif dasar listrik, dan BBM atau harga gas naik karena tarif PPN naik akan semakin banyak pengguna listrik yang membayar abonemennya menggunakan kartu kredit daripada kartu debet.

Kita optimistis ekonomi akan pulih, meskipun masih diselimuti kabut ketidakpastian. Prediksi terbaru Bank Dunia mengabarkan bahwa ekonomi Indonesia tahun 2021 akan tumbuh sekitar 4%, dan tahun 2022 sekitar 5%.

Optimisme dengan sejumlah masalah berat adalah fakta yang ada di depan mata. Bersikap grusagrusu dan trial and error harus dihindari jika kita berharap fase pemulihan dapat lebih cepat terjadi. Not easy but very hard. Tapi, sesulit dan seberat apapun masalah yang kita hadapi, Insya Allah bisa diatasi dengan kerja sama dan kerja bersama guna mengatasi pandemic Covid-19, dan pemulihan ekonomi tanpa harus ada gangguan narasi politik yang tidak penting.

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN