Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Koperasi sebagai Lembaga Self Help

Minggu, 4 Juli 2021 | 06:17 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Bulan Juli ini kita akan merayakan hari jadi Koperasi di Indonesia yang ke-75. Rasanya tidak afdal jika tidak menengok ke belakang sejarah koperasi di Indonesia maupun sejarah koperasi di dunia yang akan diulas dalam tulisan ini.

Di negara kita, koperasi lahir tanggal 12 Juli 1946 di Tasikmalaya , Jawa Ba rat. Diawali oleh sekelompok orang yang menghimpun kekuatan, dan secara bersama ingin memperbaiki nasib serta kehidupannya ke arah lebih baik. Tujuan koperasi adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat umum, khususnya anggotakoperasi. Hal ini selaras dengan amanat pasal 33 UUD 1945, yang memiliki spirit pengembangan perekonomian Negara berdasarkan pada usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

Koperasi memiliki nilai-nilai dasar kebersamaan, kekeluargaan, persamaan, keadilan, kemandirian, menolong diri sendiri, dan demokrasi. Demokrasi ekonomi yang terkandung dalam koperasi menunjukkan sejak awal Indonesia sudah menghindari sistem persainganbebas, termasuk dominasi keikutsertaan negara dalammengatur kehidupan ekonomi dan praktik-praktik monopoli.

Kalau boleh jujur, perkembangan koperasi selama hampir de lapan dasawarsa belum menunjukkan gebrakan ekonomi yang signifikan. Masih ada di ranah lokal, belum “berbunyi” di kancah internasional. Yang mengemuka adalah masalah pasang surut koperasi yang memerlukan revolusi total dari sisi kelembagaan maupun kebijakan. Sehingga pembenahan yang berkelanjutan senantiasa mengiringi perjalanan koperasi dalam upaya menemukan jati dirinya.

Sebagai pembanding, tentunya tidak ada salahnya jika kita menilik perkembangan koperasi di Negara lainnya.

Bagaimana sejarah koperasi di dunia? Organisasi koperasi pada mulanya diperkenalkan di Inggris sekitar abad pertengahan. Misi utamanya untuk menolong kaum buruh dan petani yang menghadapi problem-problem ekonomi, dengan menggalang kekuatan mereka sendiri.

Keberadaan koperasi dipantik oleh munculnya revolusi industri tahun 1770 yang menggantikan tenaga manusia dengan mesin-mesin industri. Revolusi industri akibat berbagai penemuan di bidang teknologi telah melahirkan tatanan ekonomi baru terpusat pada keuntungan per seorangan.

Koperasi awalnya didirikan di kota Rochdale tahun 1844. Dipelo pori oleh 28 anggota dengan prin sip utama: keanggotaan bersifat terbuka; pengawasan secara demokratis; pengembalian sisa hasil usaha (SHU) sesuai jasa; ba rang-barang hanya dijual sesuai harga pasar; tidak ada isu SARA dan aliran politik; serta pendidikan terhadap anggota secara berkesinambungan. Prinsip ini telah menjadi tonggak bagi gerakan koperasi di seluruh dunia.

Gerakan koperasi kemudian menjalar di Perancis yang didorong gerakan kaum buruh yang tertindas oleh kekuatan kapitalis. Sistem kapitalisme sulit dihadapi karena kelemahan dari dalam koperasi itu sendiri. Kurangnya modal, kesadaran dan pengetahuan yang rendah dari anggota dan pengurus menyebabkan koperasi sulit ber kembang.

Di sisi lain, ideologi sosialisme yang muncul sebagai reaksi dari ke kurangan sistem kapitalisme ternyata tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah keadaan. Revolusi Perancis tahun 1789 memunculkan hegemoni baru kaum kapitalis. Semboyan Liberte-Egalite- Fraternite (kebebasan-persamaan- kebersamaan) tidak berdampak signifikan terhadap perubahan ekonomi rakyat. Manfaat liberte hanya dimiliki para kapitalis untuk mengejar keuntung an sebesar-besarnya.

Semangat egalite dan fraternite hanya dimiliki masyarakat berstrata sosial tinggi._ Di Jerman, lahirnya koperasi di pelopori F.W. Raiffeisen, walikota di Flammersfield. Petani dianjurkan menyatukan diri dalam perkumpulan simpan-pinjam, dengan pedoman kerja: anggota koperasi wajib menyimpan sejumlah uang; uang simpanan boleh dipinjamkan dengan bunga; usaha koperasi semula dibatasi pada desa setempat agar tercapai kerja sama yang erat; pengurusan koperasi oleh anggota yang dipilih tan pa mendapatkan upah; serta keuntungan yang diperoleh digunakan untuk membantu kesejahteraan masyarakat.

Kemudian dilanjutkan seorang hakim bernama H. Schulze yang memelopori pendirian koperasi simpan-pinjam yang bergerak di daerah perkotaan dengan pedoman kerja: uang simpanan sebagai modal kerja dikumpulkan dari anggota; wilayah kerjanya di daerah perkotaan; pengurus koperasi dipilih dan diberi upah; pinjaman jangka pendek; keuntungan dari bunga pinjaman dibagikan kepada anggota.

Ide koperasi ini kemudian menjalar ke Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lainnya di dunia termasuk negara Asia. Koperasi di AS dipicu keadaan sosial ekonominya yang hampir sama dengan Inggris. Informasinya, koperasi yang tumbuh antara tahun 1863-1939 sebanyak 2.600 buah. Sekitar 57%- nya mengalami kegagalan. Dalam periode 1909-1921, koperasi di daerah perdesaan adalah koperasi asuransi bersama, koperasi listrik dan telepon, koperasi pengawetan makanan, koperasi simpan-pinjam, dan koperasi penyediaan benih.

Sedangkan di perkotaan terdapat koperasi kredit, koperasi perumahan, koperasi rumah sakit, dan koperasi kesehatan.

Di AS selama bertahun-tahun juga berkembang perkumpulan simpan pinjam atau dikenal dengan Credit Union (“Bank Rakyat”). Kehadiran UU tentang Simpan Pinjam tahun 1909, menjadikan Credit Union menjadi model bagi seluruh koperasi simpan pinjam di AS sampai ke Kanada. Sampai tahun 1934 telah bertambah menjadi sekitar 2.400 unit yang tersebar di 38 negara bagian.

Di Asia, koperasi pertama di Negeri Sakura, dilahirkan pada 1897, tetapi baru pada 1920-an gerakan koperasi-koperasi mulai  mengorganisasi dengan skala yang lebih besar. Bersamaan dengan pelaksanaan Undang-Undang Industri dan Kerajinan. Dalam perkembangannya, koperasi di Je pang berkembang tidak hanya di bidang industri dan kerajinan, tetapi juga di sektor pertanian. Ada dua macam koperasi pertanian di Jepang. Pertama yang bersifat khusus, hanya mengembangkan satu macam komoditas.

Kedua bersifat umum, yang bersifat serba usaha. Setelah terbit UU Koperasi Pertanian, koperasi pertanian, ko pe rasi konsumsi dan bank kope rasi semakin tumbuh pesat dan menjadi andalan koperasi di Jepang. Koperasi konsumen mampu tumbuh 20% per tahun.

Sejak awal, mereka menyediakan barang-barang yang sehat dan memuaskan konsumen. Motto bisnisnya: Untuk Perdamaian dan Suatu Kehidupan yang Lebih Baik. Pada 1921, Koperasi Nada dan Koperasi Kobe didirikan oleh Toyohiko Kagawa (Bapak Gerakan Koperasi Konsumen). Keduanya bergabung dan menjadi kekuatan yang mengemudikan koperasi di Jepang.

Di Korea, koperasi perdesaan di awal abad ke-20 melayani kebutuhan kredit petani (Bank Pertanian Korea dan Koperasi Pertanian). Pada tahun 1961, kedua bank menjadi Gabungan Koperasi Pertanian Nasional (Natio nal Agricultural Cooperative Federation/ NACF). Koperasi ini bertu gas mengembangkan sektor pertanian, meningkatkan peran ekonomi dan sosial petani, serta menyelenggarakan usaha-usaha peningkatan budaya rakyat.

Sedangkan koperasi di Thailand diawali dengan pembentukan Departemen Promosi pada tahun 1915. Visinya mempromosikan dan mengembangkan kelompok promosi dan kelompok petani menuju ketahanan dan_kemandirian. Di India, koperasi kredit didirikan pada tahun 1907 dan UU-nya diperbarui tahun 1912. UU Koperasi India diadopsi oleh Amerika, Afrika dan Asia termasuk Indonesia. Koperasi yang menjadi andalan adalah koperasi perkreditan peternakan sapi perah, pabrik gula dan bank koperasi.

Di Filipina, koperasi yang berhasil adalah Federasi Koperasi Mindanao (FEDCO) dengan 20 anggota koperasi dan 3.600 petani perorangan. Mengelola hampir 5.000 hektare lahan dengan komoditas pisang.

Di Malaysia, koperasi diper kenalkan pada tahun 1909. Gerakan koperasi yang terkenal adalah gerakan koperasi pengembangan perumahan. Dari berbagai perkembangan koperasi di beberapa negara di belahan dunia, ada beberapa hal yang perlu disimak.

Pertama, koperasi tumbuh karena kemiskinan akibat gap ekonomi dan sosial akibat sistem kapitalisme. Kehadirannya terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan sesamanya.

Kedua, keberhasilan atau kegagalan koperasi ditentukan oleh keunggulan komparatif koperasi. Yaitu kemampuan berkompetisi melayani anggotanya agar usahanya tetap survive dan berkembang. Pengalaman empiris di mancanegara menunjukkan bahwa struktur pasar dari usaha koperasi mempengaruhi performance dan success koperasi (Ismangil, 1989).

Ketiga, saat ini banyak koperasi di negara-negara maju (Uni Eropa dan AS) sudah menjadi korporasi besar (sektor pertanian, industri manufaktur, dan perbankan) yang mampu bersaing dengan korporasi kapitalis. Dengan kekuatannya, koperasi memiliki posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi, termasuk dalam perundingan internasional. 

Keempat, koperasi harus memiliki keunggulan-keunggulan kompetitif di era globalisasi dan perdagangan bebas. Seperti kualitas atau keunikan produk yang dipasarkan (misalnya, formula Coca-Cola, Coke) dan kekuatan mo dal. Kemudian, sumber-sumber bukan_tangible berupa merek, reputasi, dan pola manajemen yang diterapkan (tim manajemen IBM), serta kapabilitas atau kompetensi untuk melakukan kegiatan-kegiatan kompetitif (proses inovasi dari 3M).

Kelima, perkembangan koperasi yang sangat pesat membuktikan tidak ada korelasi negatif antara masyarakat dan ekonomi modern. Pengalaman membuktikan koperasi tidak bertentangan dengan ekonomi kapitalis. Bahkan koperasi tidak hanya mampu bersaing dengan korporasi, tetapi juga menyumbang kemajuan ekonomi dari negara-negara kapitalis tersebut.

Akhir kata, pemikiran Kagawa tentang tujuan pergerakan koperasi menjadi relevan untuk dikembangkan di seluruh dunia, namun dengan tambahan. Keberadaan koperasi tidak saja untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat miskin. Tetapi juga harus menjadi lembaga yang ideal sesuai kekinian dan bahasa zaman, serta mampu menolong dan merancang kebangkitan dirinya sendiri.

Bukan hanya keuntungan yang dikejar, namun harus mampu menawarkan bentuk tatanan ekonomi baru yang lebih manusiawi, dan netral dari berbagai persoalan yang berdampak pada kontraproduktif kinerjanya. Pendek kata, koperasi harus mampu menjadi lembaga self help. Bagaimana dengan pengembangan koperasi di Indonesia? Masih tetap menjadi PR di setiap perayaan ulang tahunnya.

*) Kepala Humas dan Kerjasama Universitas Muhammadiyah Bandung, Pendiri Komunitas Koperasi dan UMKM Harapan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN