Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Koperasi sebagai Lembaga Self Help

Kamis, 6 Agustus 2020 | 21:32 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Bulan Juli lalu kita baru merayakan hari jadi koperasi di Indonesia yang ke-74. Rasanya tidak afdol jika tidak menengok ke belakang sejarah koperasi di Indonesia maupun sejarah koperasi di dunia yang akan diulas dalam tulisan ini.

Di negara kita, koperasi lahir 12 Juli 1946 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Di awali sekelompok orang menghimpun ke kuatan, dan secara bersama ingin memperbaiki nasib serta kehidupannya ke arah lebih baik.

Tujuan koperasi adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat umum, khususnya anggota koperasi. Selaras dengan amanat pasal 33 UUD 1945, spirit pengembangan perekonomian Negara berdasarkan pada usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi memiliki nilai-nilai dasar kebersamaan, kekeluargaan, persamaan, keadilan, kemandirian  menolong diri sendiri, dan de mokrasi. Demokrasi ekonomi

Yan  terkandung dalam koperasi menunjukkan sejak awal Indonesia sudah menghindari sistem per saingan bebas, termasuk dominasi keikutsertaan negara dalam mengatur kehidupan ekonomi dan praktik-praktik monopoli.

Bagaimana sejarah koperasi di dunia? Organisasi koperasi pada mu lanya diperkenalkan di Inggris sekitar abad pertengahan. Misi uta manya untuk menolong kaum buruh dan petani yang menghadapi problem-problem ekonomi, dengan menggalang kekuatan mereka sendiri. Keberadaan koperasi dipantik oleh munculnya revolusi in dustri tahun 1770 yang menggantikan tenaga manusia dengan mesin-mesin industri.

Revolusi industri akibat berbagai penemuan di bidang teknologi telah melahirkan tata ekonomi baru terpusat pada ke untungan perseorangan. Koperasi awalnya didirikan di kota Rochdale tahun 1844. Dipelopori oleh 28 anggota dengan prinsip utama: Keanggotaan bersifat terbuka; Pengawasan secara demo kratis; Pe ngembalian SHU se suai jasa; Barang-barang hanya dijual sesuai harga pasar;

Tidak ada isu SARA dan aliran politik; Pendidikan terha dap anggota secara berkesinambungan. Prinsip ini telah menjadi tong gak bagi gerakan koperasi di seluruh dunia. Gerakan koperasi kemudian men jalar di Prancis yang didorong ge rakan kaum buruh yang tertindas oleh kekuatan kapitalis.

Sistem kapitalisme sulit dihadapi karena kelemahan dari dalam koperasi itu sendiri. Kurangnya modal, kesa daran dan pengetahuan yang ren dah dari anggota dan pengurus menyebabkan koperasi sulit berkembang.

Di sisi lain, ideology sosialisme yang muncul sebagai reaksi dari kekurangan sistem ka pitalisme ternyata tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah keadaan.

Revolusi Prancis tahun 1789 me munculkan hegemoni baru kaum kapitalis. Semboyan Liberte- Egalite-Fraternite (kebebasan- persamaan-kebersamaan) tidak berdampak signifikan terhadap perubahan ekonomi rakyat. Manfaat Liberte hanya dimiliki para kapitalis untuk mengejar keuntungan sebesar- besarnya. Semangat Egalite dan Fraternite hanya dimiliki masyarakat berstrata sosial tinggi.  

Di Jerman, lahirnya koperasi dipelopori F.W. Raiffeisen, walikota di Flammersfield. Petani dianjurkan menyatukan diri dalam perkumpulan simpan-pinjam, dengan pedoman kerja: Anggota koperasi wajib menyimpan sejumlah uang; Uang simpanan boleh dipinjamkan dengan bunga;

Usaha koperasi semula dibatasi pada desa setempat agar tercapai kerja sama yang erat; Pengurusan koperasi oleh anggota yang dipilih tanpa mendapatkan upah; Keuntungan yang diperoleh digunakan untuk membantu kesejahteraan masyarakat.

Dilanjutkan kemudian oleh seorang hakim bernama H. Schulze yang memelopori pendirian koperasi simpan-pinjam yang bergerak di daerah perkotaan dengan pedoman kerja: Uang simpanan sebagai modal kerja dikumpulkan dari anggota; Wilayah kerjanya di daerah perkotaan; Pengurus koperasi dipilih dan diberi upah; Pinjaman jangka pendek; Keuntungan dari bunga pinjaman dibagikan kepada anggota.

Ide koperasi ini kemudian menjalar ke Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lainnya di dunia termasuk negara di Asia.

Koperasi di AS dipicu keadaan sosial eko nominya yang hampir sama de ngan Inggris. Informasinya, kope rasi yang tumbuh antara tahun 1863-1939 sebanyak 2.600 buah. Sekitar 57%-nya mengalami kegagalan. Dalam periode 1909-1921, koperasi di daerah perdesaan adalah Koperasi Asuransi Bersama, Koperasi Listrik dan Telepon, Koperasi Pengawetan Makanan, Koperasi Simpan-Pinjam dan Koperasi Penyediaan Benih.

Sedangkan di perkotaan terdapat Koperasi Kredit, Koperasi Perumahan, Koperasi Rumah Sakit, dan Koperasi Kesehatan.

Di AS, selama bertahun-tahun juga berkembang perkumpulan simpan pinjam atau dikenal Credit Union (Bank Rakyat). Kehadiran UU tentang Simpan Pinjam tahun 1909, menjadikan Credit Union menjadi model bagi seluruh koperasi simpan pinjam di AS sampai ke Ka nada. Sampai tahun 1934 telah ber tambah menjadi sekitar 2.400 unit yang tersebar di 38 negara bagian.

Di Asia, koperasi pertama di Negeri Sakura dilahirkan pada 1897. Tetapi baru pada 1920-an gerakan koperasi-koperasi mulai mengorganisasi dengan skala yang lebih besar, bersamaan dengan pelaksanaanUndang-Undang Industri dan Kerajinan.

Dalam perkembangannya, koperasi di Jepang berkembang tidak hanya di bidang industri dan kerajinan, tetapi di sektor pertanian. Ada dua macam koperasi pertanian di Jepang. Pertama yang bersifat khusus, hanya mengembangkan satu macam komoditas.

Dan kedua bersifat umum, yang bersifat serba usaha. Setelah terbit UU Koperasi Pertanian, Koperasi Pertanian, Koperasi Konsumsi dan Bank Koperasi semakin tumbuh pesat dan menjadi andalan koperasi di Jepang. Koperasi Konsumen mampu tumbuh 20% per tahun. Sejak awal, mereka menyediakan barang-barang yang sehat dan memuaskan konsumen. Motto bisnisnya:

Untuk Perdamaian dan Suatu Kehidupan yang Lebih Baik. Pada 1921, Koperasi Nada dan Koperasi Kobe didirikan oleh Toyohiko Kagawa (Bapak Ge rakan Koperasi Konsumen). Ke duanya bergabung, dan menjadi kekuatan yang mengemudikan koperasi di Jepang.

Di Korea, koperasi perdesaan pada awal abad ke-20 melayani kebutuhan kredit petani (Bank Pertanian Korea dan Koperasi Pertanian). Pada tahun 1961, kedua bank menjadi Gabungan Koperasi Pertanian Nasional (National Agricultural Cooperative Federation/ NACF). Bertugas mengembangkan sektor pertanian, meningkatkan peran ekonomi dan sosial petani, serta menyelenggarakan usahausaha peningkatan budaya rakyat.

Koperasi di Thailand diawali dengan pembentukan Departemen Promosi pada tahun 1915. Visinya mempromosikan dan mengembang kan kelompok promosi dan kelompok petani menuju ketahanan dan_ kemandirian.

Di India, koperasi kredit didirikan pada tahun 1907 dan UU-nya diperbarui tahun 1912. UU Koperasi di India diadopsi oleh Negara Amerika, Afrika dan Asia termasuk Indonesia. Koperasi yang menjadi andalan adalah koperasi perkreditan peternakan sapi perah, pabrik gula dan bank koperasi.

Di Filipina, koperasi yang berhasil adalah Federasi Koperasi Mindanao (FEDCO) dengan 20 anggota koperasi dan 3.600 petani perorangan. Mereka mengelola hampir 5.000 hektare lahan dengan komoditas pisang.

Di Malaysia, koperasi diperkenalkan pada tahun 1909. Gerakan koperasi yang terkenal adalah gerakan koperasi pengembangan perumahan. Beberapa hal yang perlu disimak:

Pertama, koperasi tumbuh karena kemiskinan akibat gap ekonomi dan sosial akibat sistem kapitalisme. Kehadirannya terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan sesamanya.

Kedua, keberhasilanatau kegagalan koperasi ditentukan oleh keunggulan komparatif koperasi. Yaitu kemampuan berkompetisi melayani anggotanya agar usahanya tetap survive dan berkembang. Pengalaman empiris di mancanegara menunjukkan bahwa struktur pasar dari usaha koperasi memengaruhi performance dan success koperasi (Ismangil, 1989).

Ketiga, saat ini, banyak koperasi di negara-negara maju (Uni Eropa dan AS) sudah menjadi korporasi besar (sektor pertanian, industri manufaktur, dan perbankan) yang mampu bersaing dengan korporasi kapitalis. Dengan kekuatannya, koperasi memiliki posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional.

Keempat, koperasi harus memiliki keunggulan-keunggulan kompetitif di era globalisasi dan perdagangan bebas, seperti: Kualitas atau keunikan produk yang dipasarkan (misalnya formula Coca-Cola,  Coke) dan kekuatan modal;

Sumber- sumber bukan_tangible berupa brand 0name, reputasi, dan pola ma najemen yang diterapkan (tim manajemen IBM); dan Kapabilitas atau kompetensi untuk melakukan kegiatan-kegiatan kompetitif (proses inovasi dari 3M). Kelima, perkembangan koperasi yang sangat pesat membuktikan tidak ada korelasi negatif antara masyarakat dan ekonomi modern.

Pengalaman membuktikan koperasi tidak bertentangan dengan ekonomi kapitalis. Bahkan koperasi tidak hanya mampu bersaing dengan korporasi, tetapi juga menyumbang kemajuan ekonomi dari negara-negara kapitalis tersebut.

Akhir kata, pemikiran Kagawa tentang tujuan pergerakan koperasi menjadi relevan untuk dikembangkan di seluruh dunia, namun dengan tambahan. Keberadaan ko pe rasi tidak saja untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat miskin. Tetapi juga harus menjadi lembaga yang ideal sesuai kekinian dan bahasa zaman serta mampu menolong dan merancang kebangkitan dirinya sendiri.

Bukan hanya keuntungan yang dikejar, namun harus mampu menawarkan bentuk tatanan ekonomi baru yang lebih manusiawi, dan netral dari berbagai persoalan yang berdampak pada kontraproduktif kinerjanya. Pendek kata, koperasi harus mampu menjadi lembaga self help.

*) Pemerhati Masalah Ekonomi dan Kemanusiaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN