Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Korban di Tengah Bencana

Sabtu, 25 Agustus 2018 | 01:05 WIB
Oleh Benni Setiawan

Gempa bumi menyapa warga Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gempa bumi berulang selama beberapa hari itu telah merenggut ratusan korban jiwa. Rumah dan bangunan juga rata dengan tanah.

Duka Lombok adalah duka bangsa Indonesia. Oleh karena itu, uluran tangan kita untuk membangkitkan semangat hidup sangat penting. Salah satunya dengan cara menggerakkan keumatan dengan tafsir kontekstual kurban.

Kurban sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan, pada hakikatnya adalah kesediaan untuk berbagi. Berbagi harta kekayaan yang telah dikumpulkan untuk orang lain. Itulah esensi kurban. Berbagi kepada sesama hidup, membangun semangat kemanusiaan, dan ikhlas berbuat sesuatu untuk orang lain.

Hifz an-Nafs

Kurban, yang selama ini berbentuk hewan, pada dasarnya dapat diubah sesuai dengan kebutuhan. Bantuan yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita di Lombok dan sekitarnya sekarang ini tidak berbentuk daging kambing atau pun sapi. Mereka sekarang membutuhkan bahan makanan yang dapat dipergunakan untuk mempertahankan hidup, bahan bangunan untuk membangun rumah mereka yang roboh dan lain sebagainya.

Melihat kebutuhan di atas, alangkah lebih baiknya jika tidak semua berkurban dengan hewan. Dana kurban dapat dialihkan untuk membangun infrastruktur dan sosial yang rusak.

Ibadah kurban mempunyai kedudukan sunnah dalam hukum Islam. Namun, sebagaimana fatwa Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2010, membantu sesama apalagi yang sedang kesulitan karena bencana merupakan kewajiban kolektif (fardu khifayah).

Ketentuan fardu khifayah itu terutama untuk mereka yang tidak mengalami bencana serupa. Hal tersebut didasarkan pada Firman Allah dalam Surat al-Maidah (5:32). Ayat tersebut mengajarkan bahwa membangun kembali harapan hidup merupakan sebuah keniscayaan. Mengembalikan harapan manusia itu juga bagian dari memelihara kehidupan kemanusiaan (hifz an-nafs). Hifz an-Nas merupakan bagian penting dari tujuan syariah (maqashid as-syariah).

Pengalihan

Dengan demikian, bagi yang belum terlanjur menyerahkan hewan kurbannya kepada panitia, alangkah lebih baiknya mengirimkan kurban kepada lembaga terpercaya untuk korban gempa di Lombok. Pengalihan kurban kepada korban bencana lebih mulia dan merupakan manifestasi dari maqashid as-syariah.

Pengalihan kurban yang terkelola dengan baik akan dapat meringankan beban saudara kita di Lombok. Pengalihan kurban ini pun juga akan mempercepat pembangunan infrastruktur yang rusak akibat gempa.

Pembangunan infrastruktur tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan uluran tangan dan bantuan dari umat Islam dan seluruh penduduk Indonesia, semua akan terasa ringan. Pemerintah pun dapat terbantu dengan program pengalihan kurban ini.

Ijtihad pengalihan kurban untuk korban bencana merupakan proses kreatif yang dituntut di era saat ini. Proses kreatif itulah yang menjadi esensi ijtihad. Ijtihad keumatan yang berdaya guna.

Manifestasi kerja nyata kepedulian umat untuk membangun saudaranya yang tertimpa musibah melalui ibadah kurban pun akan semakin menguatkan fungsi agama sebagai motor perubahan sosial. Agama tidak sekadar dimaknai doktriner dan hubungan vertikal kepada Tuhan. Namun, agama mempunyai dimensi humanitas yang terbangun dari tafsir kreatif-inovatif.

Pada akhirnya, mari mulai bergerak mengalihkan kurban untuk korban gempa di Lombok. Masyarakat di Lombok membutuhkan proses ijtihad ini untuk membangun kembali tatanan sosial. Membangun infrastruktur (baik fisik maupun nonfisik) lebih penting saat ini daripada membagi daging kurban untuk korban gempa. Wallahu a’lam.

Benni Setiawan, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN