Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Christianto Wibisono, Ketua Pendiri PDBI, penulis buku Kencan Dinasti Menteng.

Christianto Wibisono, Ketua Pendiri PDBI, penulis buku Kencan Dinasti Menteng.

Kosmologi Dinasti Menteng

Christianto Wibisono *), Kamis, 21 Mei 2020 | 00:31 WIB

Kosmologi karma politik Indonesia, setiap hari, tanggal, bulan, dan tahun ternyata punya makna serta keterkaitan secara kebetulan, seperti koinsidensi. Atau at random, seperti teori chaos, butterfly effect. Validitasnya seperti perwujudan the Golden Rule of Karma atawa berlakunya hukum alam.

You reap what you sow, atau dalam peribahasa pelajaran budi pekerti kita kenal dengan istilah, “Siapa menabur angin akan menuai badai” atau “Apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai”. Atau dalam bahasa politik ada istilah: “tit for tat, quid pro quo”.

Hari Senin 18 Mei 2020 bisa sama dengan Senin 18 Mei 1998, ketika Ketua MPR RI Harmoko meminta Pak Harto mundur. Palu yang memutuskan pelantikan Presiden Soeharto menjadi presiden ketujuh kalinya, patah pada 11 Maret 1998. Pelantikan itu hanya untuk 71 hari sampai Pak Harto lengser pada 21 Mei 1998.

Soeharto naik jadi presiden dengan menahan 15 menteri pada 18 Maret 1966. Setelah diultimatum oleh Ketua MPR/DPR Harmoko pada 18 Mei 1998, Soeharto ditinggalkan oleh 15 menteri sehingga ia harus lengser pada 21 Mei 1998.

Sekarang, persis 22 tahun siklus sejarah berputar tanggal, hari, bulan, tahun dan peringatan yang sama. Kamis 21 Mei 1998 identik sama dengan Kamis 21 Mei 2020, hari Kenaikan Isa Almasih.

Sejarah politik Indonesia tidak berbeda dari sejarah Revolusi Prancis yang sering dikutip oleh Bung Karno bahwa revolusi kadang-kadang menelan anaknya sendiri. Memang, Revolusi Prancis setelah menjatuhkan Raja Louis XVI mengalami periode teror saling bunuh antarokoh, seperti tokoh Marat, Danton, dan Robbespierre dipenggal oleh guilotine yang sama.

Indonesia juga mengalami tragedi saling bunuh antar-elite yang berlangsung sekitar 20 tahun.

Presiden pertama RI, Bung Karno menjadi PM Kabinet Presidensial hanya 87 hari: 19 Agustus-14 November 1945. Ia diganti PM Kabinet Parlementer, Sutan Syahrir (14 November 1945-1947) yang sempat mengalami penculikan oleh kelompok Tan Malaka pada kudeta gerakan 3 Juli 1946. Pelaku penculikan dijatuhi hukuman penjara oleh Ketua Mahkamah Agung (MA) Kusumah Atmaja yang menolak intervensi Presiden Soekarno.

Nasib PM ke-3 RI, Amir Sjarifuddin tragis, karena ikut terlibat pemberontakan PKI Madiun 18 September 1948, maka dieksekusi di masa Kabinet Hatta, 19 Desember 1948. Tan Malaka yang dibebaskan dari penjara malah tertembak oleh militer dalam prahara penumpasan PKI Madiun.

Setelah itu, terjadi beberapa pemberontakan lokal sporadis serta pergolakan daerah sebagai reaksi terhadap polarisasi politik nasional di Jakarta. Ada proklamasi Negara Islam Indonesia (NII) dengan DI/TII-nya oleh Kartosoewirjo pada 7 Agustus 1949, pemberontakan RMS di Ambon Maluku yang memakan korban Letkol Ignatius Slamet Riyadi. Ada peristiwa Westerling di Bandung, di Makassarada peristiwa Andi Azis, dan munclnya Kahar Muzakkar menjadi panglima Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kartosoewirjo di Sulawesi Selatan yang juga didukung Teuku Daud Beureuh di Aceh.

Pada 17 Oktober 1952, tentara menggerakkan demo menuntut pembubaran parlemen sementara. Tapi kharisma Bung Karno luar biasa, bisa menenteramkan massa di halaman Istana Merdeka yang malah berteriak “Hidup Bung Karno!”. Padahal, mereka dibayar untuk berteriak “bubarkan DPR!”.

Jabatan KSAP Simatupang dihapuskan dan KSAD Mayjen AH Nasution diberhentikan, diganti Mayjen Bambang Sugeng pada era Kabinet Wilopo (PNI). Menjelang pemilu, Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955) yang sukses menyelenggarakan KAA Bandung April 1955 malah jatuh gara-gara konflik elite Angkatan Darat (AD). KSAD Bambang Sugeng diganti Bambang Utoyo, tetapi diboikot Wakasad Kol Zuklifli Lubis. Kabinet Ali Sastroamidjojo I jatuh, diganti Kabinet Burhanuddin Harahap (Masyumi) yang menyelenggarakan pemilu terbersih dan jujur dalam sejarah RI. Tapi Kabinet Burhanuddin Harahap hanya akan berusia setahun (1955-1956).

Pergolakan daerah pun memuncak jadi pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat pada 15 Februari 1958 dan Permesta di Indonesia Timur. Tahun 1962 berakhirlah seluruh pemberontakan di Indonesia dan Irian Barat juga sudah kembali ke tangan RI.

Tapi di luar dugaan, justru ketika sedang berkonfrontasi dengan Malaysia, meletuslah kudeta penculikan dan pembunuhan jenderal TNI AD oleh oknum PKI. Maka, kudeta penculikan biadab itu menjadi perang saudara yang tidak tertuntaskan karena dendam angkara murka.

Dalam pelbagai pemberontakan sebelum G30S, termasuk pergolakan PRRI/Permesta, selalu ada amnesti abolisi, grasi dan pembebasan karena elite yang bersangkutan masih hidup. Tapi memang harus tetap dicatat nasib mereka yang mengalami perlakuan buruk sebagai tahanan politik (tapol) mulai dari presiden pertama RI, Bung Karno. PM Sutan Syahrir juga mengalami nasib menjadi tapol pada era terakhir Bung Karno dan wafat di RS Zurich dalam status tapol, dan baru jadi pahlawan nasional setelah wafat pada 9 April 1966.

Beberapa mantan PM juga pernah jadi tapol, seperti Mohammad Natsir dan Burhanuddin Harahap. Ironis bahwa Burhanuddin Harahap adalah PM yang mengangkat Nasution kembali jadi KSAD pada 1955, tapi justru Nasution juga yang menahan Burhanuddin Harahap. Kelak, Nasution mengalami nasib dikucilkan oleh Soeharto, sebelum akhirnya masih bisa rujuk karena masih hidup berbareng dengan Nasution dan Ali Sadikin.

Soeharto sempat marah karena Ali Sadikin aktif dalam oposisi Petisi 50 sejak 1980. Ironisnya lagi, justru Jenderal Soeharto sangat marah dan tidak memaafkan Ketua MPR Harmoko yang mengangkat Soeharto pada 11 Maret 1998 menjadi presiden ketujuh kalinya, tapi menikam dari belakang pada 18 Mei 1998. Ia juga jotakan (tidak mau bicara) dengan Wapres dan Menko yang memimpin eksodus 14+1 menteri. Tapi, Soeharto malah sempat menjenguk LB Moerdani yang sakit keras dan menyatakan menyesal memecat LBM dari jabatan Pangab 1988.

Setelah menelusuri sejarah elite dan revolusi Indonesia dengan tragedi saling culik, kita bersyukur bahwa elite kita sudah kapok dan sudah membatasi masa jabatan presiden, serta mengakhiri saling menapolkan secara kurang beradab. Sudah cukup dua presiden dijatuhkan lewat demo berdarah, sudah cukup elite saling bui, saling cekal, saling menapolkan.

Semoga pandemi Covid-19 sekarang ini bisa menyadarkan elite Indonesia (dan dunia) bahwa segala macam konflik antarmanusia tidak perlu diledakkan menjadi perang saudara atau perang antarbangsa. Perang dan saling bunuh sesama manusia menurunkan harkat martabat manusia, dari Homo Sapiens tidak lebih manusiawi dari virus.

Semoga fakta sejarah elite politik kita di atas tidak terulang pada masa depan dan sudah cukup revolusi memakan anak sendiri di jagad politik Indonesia. Politik tidak perlu lagi pakai demo aksi massa. Cukup pakai virtual online saja, kampanye maupun coblosannya. Tidak ada lagi demo pengerahan massa yang memancing kerusuhan dan korban jiwa manusia seperti tahun 1966 dan 1998, serta masih dialami di Pilpres 2019. Semoga pandemi Covid-19 ini bisa mengubah manusia untuk berdamai dengan diri kita sendiri dalam Pax Covidica, era baru berdamai dengan Covid-19.

*) Ketua Pendiri PDBI, penulis buku “Kencan Dinasti Menteng”.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN