Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Kota (Harus) Sadar Air

Sabtu, 31 Oktober 2020 | 14:19 WIB
Nirwono Joga *)

Masyarakat dunia memperingati Hari Kota-kota Dunia (HKD) 31 Oktober, sebagai bentuk kepedulian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap keberlanjutan kota-kota di dunia. Peringatan HKD di tengah pandemi Covid-19 mendorong PBB mengusung tema ‘Valuing Our Communities and Cities’.

Bagi kota-kota di Indonesia, selain penanganan pandemi, fokus kini adalah ancaman banjir yang sudah di depan mata, bahkan sudah melanda di beberapa kota/kabupaten, setidaknya selama musim hujan. Kesiapsiagaan mengantisipasi banjir dalam jangka pendek memang dibutuhkan, namun yang lebih penting lagi langkah apa yang harus dilakukan ke depan untuk membebaskan kota/kabupaten dari banjir.

Mengelola air memang penuh tantangan. Infrastruktur tata air kota-kota di Indonesia sebagian besar masih merupakan peninggalan Belanda. Fenomena pemanasan global, perubahan iklim, dan degradasi kualitas lingkungan menuntut langkah nyata perubahan tata kelola air secara signifikan.

Kota menghadapi tantangan berupa percepatan konservasi tata guna lahan dan air tanah, erosi dan sedimentasi, kondisi bantaran sungai dan situ/danau/embung/ waduk (SDEW) terus menyusut diokupasi, serta saluran air yang buruk.

Selain itu, terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan air, pengembangan sumber daya manusia terkait tata kelola air, par tisipasi lembaga dan masyarakat, serta sistem tata kelola air yang buruk. Persoalan semakin pelik seiring meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota besar.

Kota-kota kita masih berada dalam tataran tahap paling awal dalam tata kelola air, yakni sebagai kota penyedia air. Itu pun kota masih sepenuhnya bergantung pada pasokan air dari sumber air baku terdekat (mata air, SDEW, sungai besar) untuk penyediaan air bersih bagi warga.

Kota harus mengelola air secara terintegrasi penuh agar seluruh air bisa digunakan dan tidak langsung dibuang ke laut. Air harus bisa disimpan dan digunakan se cara optimal dalam bentuk apa pun, baik hujan, sungai, kanal, pe nam pungan, air tanah, hingga air limbah, selama masih berada di daratan. Cara-cara konvensional tata kelola air harus di tinggalkan. Metode inovatif dan terbukti sukses mengelola air di kota/ negara lain bisa diterapkan.

Pemerintah kota/kabupaten harus berani melangkah ke tataran berikut, yakni kota yang mampu mengelola pembuangan air, kota yang memiliki sistem drainase tertata, kota yang bisa melindungi lingkungan air, kota yang mampu mendaur ulang air, hingga menjadi kota sadar air. Lalu langkah apa yang harus dilakukan?

Pertama, kota harus membangun daerah tangkapan untuk ketersediaan air. Kota harus mampu menyediakan beragam sumber air, mulai dari air sungai, air SDEW, air tanah, air hasil daur ulang limbah, air hasil desalinasi, dan air hasil memanen air hujan. Seluruh sumber air dimanfaatkan optimal sehingga kota tahan terhadap tekanan perubahan iklim dan sosial.

Kedua, kota harus menyediakan ekosistem tata air yang baik meliputi pembangunan in frastruktur air perkotaan seperti infrastruktur pelayanan air bersih, perlindungan terhadap banjir, pencegahan pencemaran air, penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka biru yang memadai, kolam penampung atau sumur resapan di ruang publik maupun privat.

Ketiga, kota mendukung komunitas yang sadar tata kelola air. Perencanaan, jaringan multisektor, pengembangan teknologi ramah lingkungan, serta penggunaan modal politik, sosial, dan komunitas untuk mewujudkan warga kota sadar air. Landasan pola pikir tentang fungsi air bagi keberlanjutan kehidupan kota merupakan kunci keberhasilan kota sadar air.

Keempat , musim hujan merupakan saat terbaik untuk memikirkan bagaimana menghadapi musim kemarau, sebaliknya musim kemarau ialah waktu terbaik mengantisipasi musim hujan.

Di musim hujan kesempatan tanah memanen air untuk mengisi SDEW, kolam penampung, dan sumur resapan, hingga menggenangi RTH agar meresap alami ke dalam tanah. Di musim kemarau, badan sungai dan SDEW dikeruk sedimentasinya, diperdalam, diperlebar, ditata dan dihijaukan tepian badan air agar kapasitas daya tampung air maksimal. Saluran air mikro/tersier/ lingkungan, meso/sekunder/ kawasan, hingga makro/primer/ kota dibersihkan dari sampah, dan dikeruk lumpurnya agar saluran berfungsi optimal. Rehabilitasi saluran air dilakukan bersamaan penataan jaringan utilitas dan revitalisasi trotoar.

Kelima, penegakan aturan tentang perlindungan lingkungan air harus disosialisasikan dan dipahami masyarakat. Bangunan di atas saluran air dibongkar agar air mengalir lancar. Permukiman di bantaran sungai, tepian SDEW, dan kawasan tepi pantai direlokasi dengan perencanaan matang dan dilaksanakan secara manusiawi.

Pemerintah harus serius menambah luas RTH. Anggaran yang terbatas digunakan untuk membangun daerah resapan air baru berupa taman, hutan kota, hutan bakau, lahan pemakaman, lapangan olahraga, hingga jalur hijau di tepi jalan, bantaran kali, kolong jalan layang, bawah saluran udara tegangan tinggi.

Membangun kota sadar air bukan merupakan pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk mewujudkan kota bebas banjir di tengah pandemi. Sebuah renungan bersama di Hari Kota-kota Dunia.

*) Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN