Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Kota Harus Sehat

Minggu, 26 Juli 2020 | 09:01 WIB
Nirwono Joga *)

Pandemi Covid-19 telah memaksa kota dan kita untuk mengubah bagaimana merencanakan, merancang, membangun, mengelola, dan mengevaluasi kota saat pandemi, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB transisi (adaptasi kebiasaan baru), hingga normal baru

Pembangunan kota sehat juga harus sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dan Agenda Baru Perkotaan (New Urban Agenda).

Kota harus dapat bertahan, beradaptasi, pulih, dan mengatur kembali sistem kehidupan kotanya. Kota harus memiliki kemampuan antisipasi (pencegahan), mitigasi (pengurangan risiko), serta adaptasi (penyesuaian perubahan).

Kota harus sehat, bersih, dan hijau. Bagaimana konkretnya?

Pertama, kota sehat memberikan peningkatan kualitas dan kelayakan hidup untuk menaikkan harapan hidup warganya serta memudahkan akses ke fasilitas layanan kesehatan guna mengurangi risiko kematian, termasuk ancaman dari pandemic Covid-19.

Dengan demikian, pemerintah dituntut menyediakan fasilitas dan akses kesehatan yang mumpuni, dari tingkat klinik kesehatan, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, apotek, hingga laboratorium penelitian dan pengembangan vaksin dan obat.

Selain itu, menjamin tersedianya dukungan dokter, perawat, dan tenaga medis, serta jaminan asuransi kesehatan/ badan penyelenggara jaminan sosial dan program kesehatan lain. Kondisi kota sehat adalah ketika sanitasi lingkungan permukiman bersih dan higienis, akses air bersih terlayani, saluran air tidak tergenang, sampah dan limbah terkelola baik, sehingga tidak mudah timbul wabah penyakit seperti diare, tifus, dan demam berdarah.

Lingkungan sehat berperan penting secara langsung ataupun tidak langsung membentuk warga sehat. Di tingkat pengurus warga, mereka mesti melakukan pengendalian penyakit lingkungan dengan membentuk gugus tugas lokal (tingkat RT/RW) dan menerapkan protokol kesehatan. Target utamanya adalah kawasan permukiman masuk zona hijau kawasan bebas Covid-19, bebas Demam Berdarah Dengue, dan bebas rokok.

Kedua, kota harus bersih. Pemerintah kota harus mengelola dan mengolah tuntas sampah dan limbah dengan menyediakan tempat penampungan sampah sementara, intermediate treatment facility, atau tempat pengolahan akhir terpadu. Penanganan dan pengurangan produksi sampah didukung oleh bank sampah dan proses daur ulang sampah organik maupun anorganik.

Di permukiman padat perlu pula disediakan instalasi pengolahan air limbah terpadu komunal, serta pemanfaatan air limbah ramah lingkungan. Pemerintah perlu terus mendorong terwujudnya kesehatan pangan melalui sertifikasi penyajian/penjualan hingga layanan pengiriman makanan mulai warung makan, pedagang kaki lima, restoran, serta kegiatan inspeksi dan pendampingan kepada pelaku usaha makanan.

Keberadaan komunitas pengepul makanan yang masih dalam kondisi bagus (food banking community) bekerja sama dengan sumber-sumber makanan berkualitas (restoran besar, makanan siap saji, hotel) untuk dikemas ulang atau diolah kembali dan didistribusikan kepada yang membutuhkan. Kegiatan ini dapat mengurangi jumlah produksi sampah makanan secara signifikan. Selain itu, pengolahan sampah organik menjadi kompos juga berguna bagi pertanian dan kesuburan taman.

Kebersihan lingkungan diterapkan dengan melakukan protokol kesehatan di kawasan permukiman, perkantoran, sekolah, pasar rakyat, dan pusat perbelanjaan. Kawasan harus bebas sampah dan tertata rapi bersih dan sehat.

Ketiga, kota harus hijau yang didukung budaya hidup hijau. Warga membiasakan bertransportasi hijau, yakni berjalan kaki di trototar atau bersepeda di jalur sepeda dalam jarak dekat, serta menggunakan angkutan umum pada jarak menengah-jauh.

Kota mempromosikan pentingnya pola hidup bersih dan sehat, makan makanan bergizi, rajin berolahraga, serta istirahat yang cukup, di mana pun kita berada, baik di permukiman, perkantoran, sekolah, pasar rakyat, atau pusat perbelanjaan. Budaya hidup hijau perlu didukung forum komunitas hijau yang terdiri atas penggiat individu atau kelompok, dari berbagai bidang peminatan, serta memiliki beragam kegiatan lingkungan.

Kota menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) yang memadai bagi semua. Fasilitas taman cukup lengkap, mudah diakses, serta bermanfaat bagi masyarakat. RTH tersedia minimal 30% mencakup taman, lapangan olah raga, pemakaman, taman situ/danau/waduk/ embung, hutan kota/kebun raya/kebun binatang, serta jalur hijau jalan, bantaran sungai, tepi rel kereta api, kolong jalan/jembatan layang, serta bawah saluran udara tegangan tinggi.

Kenormalan baru akan mengubah persepsi kinerja dan produktivitas kota, berpindahnya fungsi kota ke rumah sebagai tempat tinggal sekaligus tempat belajar, bekerja, dan beribadah. Warga keluar rumah hanya karena ada keperluan mendesak dan wajib memakai masker, menjaga jarak fisik, dan menghindari kerumuman.

Selain itu, membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta langsung mandi sesampai di rumah setelah bepergian.

Pemerintah juga mesti melakukan penataan permukiman yang meliputi bedah rumah sehat, peremajaan kawasan padat, serta penyediaan hunian layak untuk semua. Kota yang sehat, bersih, dan hijau adalah bentuk kenormalan baru dan itu merupakan masa depan kita.

*) Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN