Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Kota Sehat untuk Dunia

Rabu, 7 April 2021 | 08:39 WIB
Nirwono Joga *)

Setiap 7 April masyarakat memperingati Hari Kesehatan Sedunia (HKD). Tahun ini tema yang diangkat adalah “Building a fairer, healthier world”, membangun lebih adil untuk dunia yang lebih sehat, salah satunya dengan mewujudkan kota sehat Pandemi Covid-19 telah membawa dampak perubahan bagi kehidupan kita dan kota, serta perlunya keselarasan antara pembangunan infrastruktur kota dan infrasruktur kesehatan masyarakat. Kesehatan kota dan kota sehat adalah kata kuncinya.

World Economy Forum (2020) menegaskan, pandemi Covid-19 merupakan peringatan kepada manusia agar berhenti melampaui batas dalam mengeksploitasi alam. Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim memperingatkan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim mungkin akan mempercepat munculnya virus baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim telah memunculkan penyakit lingkungan baru. Jadi, membangun kota sehat sama artinya dengan kota selaras alam.

Lalu, langkah apa yang harus dilakukan? Pertama, semua ajaran agama mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga alam, melestarikan alam, dan bersahabat dengan alam. Filosofi hidup masyarakat mengandung nilainilai universal dari ajaran agama. Masyarakat Jawa meyakini prinsip “Manunggaling Kawula lan Gusti”, masyarakat Bali dengan “Tri Hita Karana”.

Ajaran Islam mengajarkan hubungan se la ras dengan Sang Khalik (Hablum Minallah), sesame manusia (Hablum Minannas), serta selaras alam (Hablum Minalam). Pembangunan kota sehat selaras alam bertujuan merepre sentasikan kota yang aman, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan sesuai Tujuan ke-11 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

mengamanatkan pentingnya keterpaduan antarwilayah, antar sektor, dan antarpemangku kepentingan, serta peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang yang ber kelanjutan.

Kedua, keterpaduan antarpemangku kepentingan dan kebijakan pusat dan daerah atas rencana pembangunan kota dalam berbagai fase (perencanaan, pe rancangan, pembangunan, pemasaran, perawatan, dan penge lolaan) sesuai tahapan.

Pembangunan kota sehat bertujuan menghapus kemiskinan, mencapai kesehatan yang baik dan kesejahteraan, pendidikan bermutu, akses air bersih dan sa nitasi, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan per tumbuhan ekonomi, mewujudkan kota dan komunitas yang berkelanjutan, penanganan perubahan iklim, menjaga ekosistem laut dan ekosistem darat, menjalin kemitraan untuk mencapai tujuan.

Ketiga, pembangunan kota sehat harus didukung kebijakan fiskal dan sumber pembiayaan yang jelas, seperti anggaran pendapatan belanja negara/ daerah (APBN/APBD), non- APBN/APBD, kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), serta sumber pembiayaan lain yang resmi. Prasyarat rencana pembangunan kota harus memenuhi persyaratan komersial, selaras dengan peraturan, memenuhi alur birokrasi, serta koordinasi yang baik antara kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Visi kota sehat harus berdasarkan prinsip inklusif (peran ser ta seluruh pemangku kepentingan), komprehensif (keterpaduan pengembangan kawasan permukiman, fasilitas kesehatan, ruang terbuka hijau, per tanian, industri, pusaka, pariwisata), cerdas (pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi terkini dalam pembangunan infrastruktur dan pelayanan kesehatan masyarakat), serta berkelanjutan (tangguh bencana, ramah lingkungan).

Keempat, untuk akselerasi pemulihan perekonomian kota, pembangunan kota diharapkan mendorong peningkatan aksesibilitas, investasi dan kegiatan industri tumbuh berkembang, tersedia rumah untuk pekerja buruh industri, penanganan permukiman kumuh, pengendalian banjir, revitalisasi kawasan pusaka dan pusat bisnis, pariwisata daerah meningkat.

Dampak pembangunan kota dapat dilihat dari berapa besar investasi yang dibiayai pemerintah dan swasta, manfaat ekonomi bagi masyarakat, jumlah populasi terdampak langsung, kesempatan kerja tenaga lokal.

Untuk jangka pendek, percepatan pemulihan ekonomi kota melalui pembangunan infrastruktur harus dipastikan kriteria kesiapannya secara menyeluruh, dampak ekonomi langsung tinggi seperti program padat karya, menggunakan material lokal, multiplier effect tinggi.

Kelima, pandemi Covid-19 menegaskan bahwa perencanaan dan pembangunan kota bukan hanya tentang aspek fisik sebuah kota tetapi juga tentang dukungan keterlibatan masyarakatnya. Digitalisasi adalah satu hal yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Digitalisasi telah menjadi kunci penting bagi terselenggaranya berbagai kegiatan normal baru yang akan mendukung kita untuk bangkit dari pandemi.

Warga menggunakan jarring an media sosial untuk belajar- bekerja-belanja, isolasi mandiri secara sukarela, untuk membangun modal sosial mereka agar tetap eksis bertahan dengan perubahan kehidupan. Perencana kota ditantang untuk berani keluar dari pemahaman konsep normal menuju normal baru dalam menata ulang kota dan mendapatkan dukungan dari warganya. Mereka dituntut untuk lebih peka memahami aspirasi warga kota sehat.

*) Kepala Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN