Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Kota yang Memerdekakan

Minggu, 23 Agustus 2020 | 04:34 WIB
Nirwono Joga *)

Di tengah pandemi Covid-10, Bangsa Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-75. Ada sesuatu yang tak biasa. Pelaksanaan upacara bendera dihadiri secara terbatas. Saat memasuki detik-detik proklamasi (pukul 10.17 WIB), Istana Negara pun menyelengga ra kan upacara bendera secara virtual yang diikuti 17.845 undangan khusus.

Pandemi pun memaksa larangan untuk menyelenggarakan kegiatan yang mengundang massa banyak. Tidak boleh ada kerumunan. Maka tidak ada pula lomba yang memeriahkan agustusan. Anak-anak tidak bisa ikutan lomba sepeda hias, makan kerupuk, ambil koin di buah je ruk yang digantung, membawa ke lereng dengan sendok, atau memasukkan sedotan ke botol.

Bagi bapak ibu, mereka tidak bisa turut lomba balap karung, gebuk bantal di atas kali, lari gendong suami/istri, sepak bola bersarung/berdaster (untuk bapak-bapak), tarik tambang, hingga puncaknya panjat pinang.

Beberapa pengurus rukun warga tidak mau kehilangan momentum. Mereka pun berkreasi memeriahkan agustusan dengan berbagai lomba yang dimodifikasi dan dilakukan secara daring melalui berbagai aplikasi media sosial.

Jadilah lomba merias wajah dengan warna mencolok merah-putih bersama seluruh anggota keluarga antarrumah/tetangga, kreativitas busana daerah atau busana berbahan daur ulang dan melukis kreatif tema ke merdekaan untuk anak-anak. Mereka merayakan kemerdekaan dengan bersahaja.

Bagi warga kota kebanyakan, makna kemerdekaan di tengah pandemi Covid-19, yang belum tahu kapan akan berakhir, cukup sederhana, anak-anak dapat belajar dengan nyaman, orang tua bisa bekerja dengan tenang, dan dapur tetap ngebul.

Di atas itu semua, warga harus tetap sehat bugar. Masyarakat harus tetap waspada di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi (adaptasi kebiasaan baru). Jumlah pasien positif Covid-19 yang terus meningkat menuntut keseriusan semua pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Ajakan untuk tetap belajar, bekerja, dan beribadah di rumah saja harus terus digaungkan ke seluruh lapisan masyarakat.

Euforia kenormalan baru jangan disalahartikan bahwa pandemi Covid-19 telah mereda dan mereka boleh beraktivitas keluar rumah seperti biasa sebelum pandemi.

Peringatan untuk tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan penting seharusnya dimanfaatkan masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat peranan rumah sebagai pusat kehidupan masyarakat di era normal baru.

Makna rumah harus dikembalikan sebagai tempat hunian manusia yang bermartabat, beradab, sehat, dan hidup bermukim dalam satu komunitas.

Urusan perumahan bukan sekadar soal rumah (house), melainkan hunian (home). Jika hunian menjadi dasar maka ukuran rumah adalah kenyamanan, keterjangkauan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan.

Dari rumah, warga diharapkan tetap dapat beraktivitas dan produktif selama pandemi Covid-19. Inovasi, kreasi, dan kolaborasi seluruh anggota keluarga harus dikembangkan agar produktivitas dari rumah dapat maksimal.

Perumahan menyediakan infrastruktur teknologi informasi komunikasi yang cerdas, terjangkau, dan berkelanjutan, untuk mendukung kelancaran budaya baru belajar bekerja-beribadah dari rumah, sekaligus menumbuhkan industri yang inklusif dan inovatif. Industri rumah tangga dikembangkan dalam berbagai skala dan platform agar dapat menampung pekerja dengan berbagai tingkat keahlian dan ragam keterampilan berbeda.

Pemerintah harus mendorong industri (rumahan) yang inklusif, inovatif, dan kreatif dalam memfasilitasi warga untuk mengeksplorasi ide-ide kewirausahaan baru yang mandiri.

Pengembangan industri dan perdagangan akan mengubah sistem penjualan produk secara daring, dari produsen langsung ke konsumen, dari rumah langsung diantar ke tempat pembeli. Hal ini akan mengubah peta kebutuhan ruang kota dan gedung bangunan (kantor, pabrik, toko re tail), kebutuhan akan transportasi jasa antar barang dan logistik, dan segmentasi industri yang dibutuhkan (makanan, kebutuhan sehari-hari).

Adaptasi kebiasaan baru akan mengubah persepsi kinerja kota (berfungsinya fungsi-fungsi kota) berpindah ke rumah bukan sekadar tempat tinggal tetapi sekaligus tempat belajar, bekerja, belanja, dan beribadah.

Perumahan memiliki lingkungan yang sehat, sanitasi higienis, akses air bersih, tempat pengolahan sampah, instalasi pengolahan air limbah, jalanan bersih dan saluran air lancar.

Selain itu didukung ja ringan listrik dan akses internet (mudah, murah, merata), pusat pengolahan data kota yang andal dan memperbarui data setiap saat, serta dibekali literasi dan cerdas menggunakan data.

Rumah harus tetap dijaga kebersihannya agar seluruh penghuni tetap sehat. Kehadiran rumah yang layak dapat memberikan peningkatan kualitas dan kelayakan hidup, menaikkan harapan hidup, serta menyehatkan dan menyejahterakan bagi penghuninya. Penghuni menerapkan pola hidup bersih sehat, makan makanan bergizi, olahraga teratur, serta istirahat yang cukup.

Keinginan warga untuk keluar rumah jika memang sangat diperlukan/terpaksa harus dilakukan dengan protokol kesehatan. Warga wajib menggunakan masker, menjaga jarak fisik, menghindari kerumuman, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta langsung mandi setelah berpergian.

*) Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN